daweg tulusa asih,
mertaning wang kawelas hyun,
sahur sang pandita,
nirdon pamitanta nini,
dahat keweh,
amerih pembaliking duka.
285. Apan ulah ta candala,
angguguwani sad tetayi,
puran ujarku ri sira.
tan yogia wang kadi kami,
anyisianing bicari,
brahmantian kajaring tutur,
ulah ta wus anasar,
tan kena ring mantra sidi,
sewu tahun,
watesnia tan keneng supat.
286. Maka kentipaning kawah,
yan entas lagi durnadi,
anusuping paran-paran,
atenah sarwa kumitip,
sang diah marma angapi,
wamania mawarna luru,
yaya madapa layuan,
keriding waca nang muni,
mangu-mangu,
aturu ring ulah nasar.
287. Baya tanana sih nira,
kerangan anuli amit,
manggut sang dwija wara,
kuneng sang hana ring puri,
sira Rangda angapi,
warta sang pandita rawuh,
lanjutkan asih paduka.
hidupkan orang yang sengsara,
berkatalah sang pendeta,
percuma permintaanmu,
sangat sulit,
mencapai kebalikan duka.
Karena perbuatanmu jelek,
mengikuti sad tetayi,
bagaimana ku katakan padamu,
tidak patut orang seperti saya,
menjadikan murid (seseorang) penyihir,
dikenai bahaya dikatakan dalam
sastra,
perbuatanmu sudah salah,
tidak bisa diubah dengan mantra
sakti,
seribu tahun,
batasnya tidak bisa disucikan.
Menjadi dasar kawah,
lalu lahir kembali,
menyelusup ke mana-mana,
menjadi macam binatang,
sang putri pada waktu mendengar,
rupanya menjadi lesu,
seperti daun Jayu,
tertarik perkataan sang pendeta,
termangu-mangu,
teringat akan tingkah laku (yang)
salah.
Barangkali tidak ada berkahku,
malu serta permisi,
mengangguk sang pendeta agung,
tetapi orang ada di puri,
sang Rangda mendengar,
berita sang pendeta datang,
83