Geguritan Siptagama (Balai Bahasa Prov. Bali)
| ID Wikidata ten katemu! Selehin Geguritan Siptagama (Balai Bahasa Prov. Bali) ring Wikidata | |
Deskripsi
[uah]Lontar Geguritan Siptagama niki silih tunggil koleksi Balai Bahasa Provinsi Bali sane kapupulang sareng program WikiLontar 2021 sane sampun puput. WikiLontar inggih punika program katalogisasi digital lontar sane kakaryanin Komunitas Wikimedia Denpasar ring sasih Januari - April 2021. Ring Balai Bahasa puniki wenten 142 cakep lontar saking makudang-kudang soroh.
Bahasa Indonesia
[uah]Secara umum, lontar ini memuat ajaran-ajaran yang berkaitan dengan keagamaan dan tata susila. Naskah tersebut menegaskan bahwa agama memiliki peranan yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Meskipun seseorang memiliki pengetahuan luas dalam bidang sastra dan ilmu pengetahuan, bahkan memiliki kesaktian, tanpa pemahaman dan pengamalan ajaran agama, manusia tersebut diibaratkan seperti orang buta, karena secara batiniah dirinya masih berada dalam keadaan tidak suci.
Naskah ini menjelaskan bahwa ketidaktahuan terhadap ajaran agama menyebabkan seluruh pengetahuan, mantra, serta praktik tapa dan dana yang dilakukan menjadi sia-sia. Oleh karena itu, manusia dianjurkan untuk memohon penyucian diri kepada seorang sulinggih atau pendeta. Dalam lontar ini disebutkan adanya seorang pendeta suci yang sangat patut dihormati karena jasa-jasanya yang besar, yaitu Danghyang Nirartha. Tokoh ini tidak hanya dikenal di Pulau Bali, tetapi juga di berbagai wilayah lain, seperti Jawa, Lombok, dan Sumbawa, bahkan hingga wilayah Cina dan Arab. Di Lombok, beliau dikenal dengan sebutan Pangeran Sangupati, sedangkan di Sumbawa dikenal dengan nama Tuan Sumeru, serta memiliki berbagai sebutan lain yang mencerminkan kapasitas dan kewibawaannya.
Selain itu, lontar ini juga menguraikan konsep-konsep keagamaan yang terdapat dalam diri manusia, seperti catur warna, panca brahmana, dan ajaran-ajaran lainnya. Naskah tersebut turut membahas permasalahan kematian yang tidak wajar atau salah pati. Pada bagian akhir, dijelaskan bahwa keseluruhan ajaran dan pengetahuan tersebut dirangkum dan dipaparkan dalam lontar Widhi Papincatan.
Bahasa Bali
[uah]Bahasa Inggris
[uah]In general, this lontar contains teachings related to religion and ethics. The manuscript emphasizes that religion plays a very important role in human life. Even if someone has extensive knowledge in the fields of literature and science, and even possesses supernatural powers, without understanding and practicing religious teachings, that person is likened to a blind person, because spiritually they are still in an impure state.
This manuscript explains that ignorance of religious teachings renders all knowledge, mantras, and practices of asceticism and charity futile. Therefore, humans are encouraged to seek purification from a sulinggih or priest. This lontar mentions a holy priest who is highly respected for his great services, namely Danghyang Nirartha. This figure is not only known on the island of Bali, but also in various other regions, such as Java, Lombok, and Sumbawa, and even as far as China and Arabia. In Lombok, he is known as Pangeran Sangupati, while in Sumbawa he is known as Tuan Sumeru, and he has various other titles that reflect his capacity and authority.
In addition, this lontar also describes religious concepts found within humans, such as the four colors, the five brahmanas, and other teachings. The manuscript also discusses the issue of unnatural death or wrongful death. At the end, it is explained that all of these teachings and knowledge are summarized and presented in the Widhi Papincatan lontar.
Naskah
[uah][ 1 ][depan]
//0//ᵒaum̐ᵒawighnāmastuṇamaṣidhaṃ//0//punikigitthāktusangitthāwiraddhasmarā,pūlambaŋghammā,puḥginadha||0||wentĕnpupuḥpaṅgiḥtityaŋ,sampukkahikĕtriŋ
gurit·,muñibalipapolosan·,midaŕtthayaŋsanepātūt·,makadasariŋkawikwan·,kawruḥsami,sapunikijwapir̥ṅaŋ||sātaniŋmanadijanmā,maghammātiŕtthāne
jati,sasahiṅastitidewā,pakr̥ĕtinehapaŋpātūt·,hdāmaṅulaḥmabahan·,siŋñapliḥ,payukasiphat:highammā||ᵒighammanetwaḥyapdasaŋ,tatasaŋhapaṅapaṣṭi,
deniŋhĕntokabwatan·,hawakepadhatumuwuḥ,dadijadmākamanuṣan·,bukajani,hapaŋhdākatandruhan·||lamunmaraṣātkenhawak·,dadijalmābukajani,pātū-
[belakang]
saŋcatuŕwal̥deṅuni,kawnaṅaniŋsudraniŋsudrā,nāwikraṇādadostiru,kudikudimaṅaṅgeyaŋ,kadimaṅkin·,hemĕŋtityaŋṅamahāŋ||punikasinaḥmamedhā,
netanwĕnaŋknĕmaŕgginin·,tanwaṅdemaṅaŕddhiruṣak·,riŋsanthanānekawuṅkuŕ,wireḥpakaŕyyanehiwaŋ,negawenin·,tanwaṅdemanmusasaŕ||kentĕnratukatuturan·,mu
ṅguḥriŋpiñcatanwidhi,maṅatĕpriŋśaśaṇā,saŋsatryālokāmuwus·,kadihĕṅsĕkmamir̥ŋṅaŋ,tutiŕjati,kapinĕḥdesampunṅawag·||tlas·||puputriŋdina,śu,wa,
,ᵒuye,piŋ,13,śaśiḥ,3,śaka,1887.taŋ,piŋ,24,śeptembĕŕ,taᵒun·,1,965,maṣehi,riŋśrama,kusumayati,dhaŋśilāpūŕwwakamaṇdhalā,deraḥbaṇdhanā||