Geguritan Dyah Arini (Balai Bahasa Prov.Bali)
manuskrip lontar di Bali
| |||
| Inggih punika | Lontar | ||
|---|---|---|---|
| Soroh |
| ||
| Genah | Balai Bahasa Bali, Penatih, Dénpasar Timur, Kota Dénpasar, Bali, Indonésia | ||
| Nganggén basa |
| ||
| Klasifikasi Gedong Kirtya |
| ||
| |||
Deskripsi
[uah]Lontar Adi Parwa silih tunggil koleksi ring Balai Bahasa Propinsi Bali, Denpasar sane kapupulang sareng program WikiLontar 2021 sane sampun puput. WikiLontar inggih punika program katalogisasi digital lontar sane kakaryanin Komunitas Wikimedia Denpasar ring bulan Januari - April 2021. Ring genah puniki wenten 185 cakep lontar saking makudang-kudang soroh.
Bahasa Indonesia
[uah]Lontar ini terdiri atas 43 lembar. Naskah dalam keadaan baik. Naskah tersebut menggunakan huruf Bali dan Bahasa Bali yang berbentuk tembang/geguritan. Dalam naskah diceritakan, ada seorang pertapa yang bernama Trennawindhu. Beliau memiliki seorang murid bernama Sanghyang Anggasti. Sang Trennwindhu adalah seorang pendeta yang sangat terkenal karena kesaktiannya. Pada dewa pun gentar dengan kesaktiannya.
Diceritakan Batara Indra yang ingin mengalahkan Sang Trennawindhu memgutus seorang bidadari bernama Diah Arini untuk menggoda tapanya. Setelah sekian lama berjalan menaiki bukit dan menuruni jurang, sampailah Diah Arini di tempat yang dituju. Diah Arini bersujud dan menyampaikan bahwa maksud kedatangannya adalah untuk mengantarkan hadiah dari Batra Darma. Sang Pertapa tidak dapat dibohongi. Beliau megetahui bahwa itu hanyalah tipu muslihat Dewa Indra. Karena itu Sang Trennawindhu sangat marah dengan mencai maki bahkan mengutuk Diah Arini agar tidak dapat kembali ke Surga. Sangat sedih hati Diah Arini seraya memohon pengampunan. Sang Trennawindhu kemudian membakar tubuh Diah Arini hingga menjadi debu. Dengan cara seperti itu, Diah Arini pun dapat kembali ke Surga.
Bahasa Bali
[uah]Bahasa Inggris
[uah]This lontar consists of 43 sheets. The manuscript is in good condition. It is written in Balinese script and the Balinese language, in the form of tembang or geguritan. The manuscript tells the story of an ascetic named Trennawindhu. He had a student named Sanghyang Anggasti. Sang Trennawindhu was a priest who was very famous for his supernatural powers; even the gods feared them.
It is said that Batara Indra, who wanted to defeat Sang Trennawindhu, sent an angel named Diah Arini to seduce the ascetic. After walking for a long time over hills and through ravines, Diah Arini arrived at her destination. She bowed and said that she had come to deliver a gift from Batara Darma. However, the hermit could not be deceived. He knew that it was merely a trick by the god Indra.
Therefore, Sang Trennawindhu became very angry and cursed Diah Arini so that she could not return to Heaven. Diah Arini was very sad and begged for forgiveness. Sang Trennawindhu then burned Diah Arini’s body to ashes. In this way, Diah Arini was finally able to return to Heaven.
Naskah
[uah][ 1 ][Depan]
1
//duŋ//mimitansatwanegurit·hādatapā,maparāb·tr̥ĕṇnawiṇdhu,tāruṇnamawi
ku,taŕpakansaṅhyaŋhaṅgaṣṭi,digunuŋhimawan·,matāpapagĕhepuput·,ṅinöŋ-
siwāŕcchāṇna,ñuklabrahmācari,maṅkin·sāmpunṣidhimantra,truptaṅakṣisida-
sakayun·.kasubkamatmyaneriŋhiṇdraloka,dewatannepakewuḥsamināŕkkasu-
[Belakang]
43
yaraŋ,bahanhaṅinlilus·,dadiṅusĕtuhun·,ṅuṅsihaṅgwananepiṅit·,bukādi
paṅipyan·,sagetsubadituditu,kadḍitanyawānan·,sawikapū
kadhuri,kbuŕraŋhaṅinṅalepat·,ṅr̥ĕŕsḍiḥmabuṅklĕkbuṅkus·.//puput·//