Bhagawān Anggastya Prāṇā (Gria Sawan)
lontar tatwa
| |||
| Inggih punika | Lontar | ||
|---|---|---|---|
| Soroh |
| ||
| Genah | Sawan, Museum Semarajaya, Balai Bahasa Bali | ||
| Wit negara |
| ||
| Penyurat |
| ||
| Genah pawedaran |
| ||
| Nganggén basa |
| ||
| Klasifikasi Gedong Kirtya |
| ||
| Tanggal pawedaran |
| ||
| Linggah |
| ||
| Lantang |
| ||
| Lempir |
| ||
| |||
Deskripsi
[uah]Lontar Bhagawān Anggastya Prāṇā niki silih tunggil koleksi Griya ring Sawan, Buleleng sane kapupulang ring program WikiLontar 2021 sane sampun puput. WikiLontar inggih punika program katalogisasi digital lontar sane kakaryanin Komunitas Wikimedia Denpasar ring bulan Januari - April 2021. Ring griya niki wenten 98 cakep lontar saking makudang-kudang soroh
Bahasa Indonesia
[uah]Pada dasarnya, naskah ini memuat dialog antara Bhagawan Anggastyaprana, seorang pendeta penganut ajaran Siwa–Buddha, dengan putra-putrinya, Sang Subrata dan Sri Satiakreti. Dialog tersebut membahas sejumlah ajaran kosmologis, antropologis, dan ritual keagamaan.
Pertama, naskah menguraikan proses terjadinya manusia. Dalam penjelasan tersebut disebutkan unsur Ayah yang dilambangkan sebagai Smarajaya, Ibu sebagai Smararatih, dan Anak sebagai Smarasunia. Ketika Ayah dan Ibu saling jatuh cinta, Ayah disebut sebagai Smaralulut dan Ibu sebagai Smaraoneng, sementara unsur Anak yang memasuki tubuh Ayah dan Ibu disebut Smarasih dan kemudian menjadi Sanghyang Suniatma. Uraian ini berlanjut dengan penjelasan mengenai asal-usul Ongkara Sumungsang, Ongkara Ngadeg, serta konsep Angkara Rwa Bineda.
Selanjutnya dijelaskan bahwa pertemuan Kama Putih dari unsur Ayah dengan Kama Bang dari unsur Ibu menghasilkan suatu penyatuan yang dinamai Sang Antigajati atau Atma. Dalam proses ini, Sanghyang Seleng yang berasal dari unsur Ayah termanifestasi sebagai Kamajaya, sedangkan Sanghyang Mleng yang berasal dari unsur Ibu termanifestasi sebagai Kamaratih, keduanya menyatu dalam Sang Antigajati. Pada tahap berikutnya hadir berbagai kekuatan ilahi, seperti Sanghyang Murcaya, Sanghyang Taya, Sanghyang Lelengis, Sanghyang Rajatangi, Sanghyang Murtining Lwih, Dewata Nawasanga, Saptaresi, Pancaresi, serta Sanghyang Tigawisesa, yang bersama-sama membentuk Sang Antigajati menjadi manusia sempurna yang disebut Sang Pretimajati.
Para dewata tersebut kemudian memberikan pembentukan organ-organ tubuh manusia, antara lain Sanghyang Akasa yang menganugerahkan kepala, Sanghyang Ajining Akasa rambut, Sanghyang Surya dan Candra mata kiri dan kanan, serta Sanghyang Baruna hidung, dan seterusnya, hingga manusia tersebut lahir ke dunia bersama empat saudara kelahiran, yaitu ari-ari, yeh nyom, getih, dan luwu.
Kedua, naskah ini memuat dialog mengenai konsep Kanda Empat Buta dan Kanda Empat Dewa. Ari-ari dijelaskan memiliki beberapa manifestasi, yakni bayunya menjadi Antapreta, rasanya menjadi Piratta, dan sarinya menjadi dewa yang berstana di Pura Puseh; dalam diri manusia berfungsi sebagai pupusuh (jantung), berwujud Anggapati, termanifestasi sebagai Sanghyang Iswara, dan bertempat di dalam idhep (pikiran). Getih (darah) bayunya menjadi Kala, rasanya menjadi atma, sarinya menjadi dewa di Pura Dalem; dalam diri menjadi hati, berwujud Banaspati, termanifestasi sebagai Batara Brahma, dan bertempat di dalam manah (perasaan). Yeh nyom (air ketuban) bayunya menjadi Dengen, rasanya menjadi Paraatma, sarinya menjadi dewa di Pura Cungkub; dalam diri berfungsi sebagai ungsilan (ginjal), berwujud Mrajapatti, termanifestasi sebagai Batara Mahadewa, dan bertempat di dalam sabda (suara). Luwu (kotoran) bayunya menjadi Buta, rasanya menjadi Sogata, sarinya menjadi Dewa Pasaren; dalam diri berfungsi sebagai ampru (empedu), berwujud Banaspatiraja, termanifestasi sebagai Batara Wisnu, dan bertempat di dalam ambek (emosi).
Ketiga, naskah ini juga membahas konsep neraka dan sorga, ajaran penunggalan Dasabayu, serta pencapaian kemanunggalan manusia dengan Sanghyang Widhi yang harus ditempuh melalui proses penyucian diri, baik secara sekala maupun niskala.
Keempat, diuraikan pula berbagai jenis upacara yang berkaitan dengan perjalanan hidup dan kematian manusia, termasuk kriteria pendeta yang dianggap layak dan berwenang untuk melaksanakan upacara-upacara tersebut.
Bahasa Bali
[uah]Bahasa Inggris
[uah]Essentially, this manuscript contains a dialogue between Bhagawan Anggastyaprana, a priest who follows the teachings of Shiva-Buddha, and his children, Sang Subrata and Sri Satiakreti. The dialogue discusses a number of cosmological, anthropological, and religious ritual teachings.
First, the manuscript describes the process of human creation. The explanation mentions the elements of Father, symbolized as Smarajaya, Mother as Smararatih, and Child as Smarasunia. When Father and Mother fall in love, Father is called Smaralulut and Mother is called Smaraoneng, while the element of Child that enters the bodies of Father and Mother is called Smarasih and then becomes Sanghyang Suniatma. This description continues with an explanation of the origins of Ongkara Sumungsang, Ongkara Ngadeg, and the concept of Angkara Rwa Bineda.
It goes on to explain that the meeting of Kama Putih from the Father element with Kama Bang from the Mother element results in a union called Sang Antigajati or Atma. In this process, Sanghyang Seleng, which comes from the Father element, manifests as Kamajaya, while Sanghyang Mleng, which comes from the Mother element, manifests as Kamaratih, both of which unite in Sang Antigajati. It is further explained that the union of Kama Putih from the Father element with Kama Bang from the Mother element resulted in a union called Sang Antigajati or Atma. In this process, Sanghyang Seleng, which originated from the Father element, manifested as Kamajaya, while Sanghyang Mleng, which originated from the Mother element, manifested as Kamaratih, both of which united in Sang Antigajati. In the next stage, various divine powers appear, such as Sanghyang Murcaya, Sanghyang Taya, Sanghyang Lelengis, Sanghyang Rajatangi, Sanghyang Murtining Lwih, Dewata Nawasanga, Saptaresi, Pancaresi, and Sanghyang Tigawisesa, which together form Sang Antigajati into a perfect human being called Sang Pretimajati.
These deities then gave shape to the organs of the human body, including Sanghyang Akasa who gave the head, Sanghyang Ajining Akasa who gave the hair, Sanghyang Surya and Candra who gave the left and right eyes, and Sanghyang Baruna who gave the nose, and so on, until the human was born into the world along with four birth companions, namely the placenta, yeh nyom, getih, and luwu.
Second, this manuscript contains a dialogue about the concepts of Kanda Empat Buta and Kanda Empat Dewa. Ari-ari is described as having several manifestations, namely its vapor becomes Antapreta, its taste becomes Piratta, and its essence becomes a god who resides in Pura Puseh; in humans, it functions as the heart, takes the form of Anggapati, manifests as Sanghyang Iswara, and resides in the mind. Getih (blood) becomes Kala, tastes like atma, and its essence becomes a god at Pura Dalem; within the body, it functions as the heart, takes the form of Banaspati, manifests as Batara Brahma, and resides in the manah (feelings). Yeh nyom (amniotic fluid) becomes Dengen, its taste becomes Paraatma, its essence becomes a god in Pura Cungkub; within the body it functions as the kidneys, takes the form of Mrajapatti, manifests as Batara Mahadewa, and resides in the voice. Luwu (feces) becomes Buta, its taste becomes Sogata, its essence becomes Dewa Pasaren; within the body, it functions as ampru (bile), takes the form of Banaspatiraja, manifests as Batara Wisnu, and resides in the ambek (emotions).
Third, this manuscript also discusses the concepts of hell and heaven, the teachings of Dasabayu, and the achievement of human unity with Sanghyang Widhi, which must be pursued through a process of self-purification, both physically and spiritually.
Fourth, it also describes various types of ceremonies related to the journey of human life and death, including the criteria for priests who are considered worthy and authorized to perform these ceremonies.
Naskah
[uah][ 1 ][awal]
||0||ᵒom̐ᵒawighnamastunamaśidhĕm·,||ᵒikitutuŕranhiddāsaŋr̥ṣi,bagawānhaṅgastyaprannā,madraweputrakakaliḥ,lanaŋhistrinelanaŋluwura
n·,mawastasaŋśurabrattā,nehalitanhistri,mapaseṅānṣrisatyakr̥ĕtti,ᵒiddābgawānhaṅgastyapraṇnā,sampunpuputipanugrahan·,sakiŋtapābratta
,maragār̥ṣiboddhā,maṅr̥ĕgĕpwoŋṅkarasarā,punikāputrane lānaŋhistrimatūŕ,ᵒiṅgiḥpadukasaŋr̥ṣi,tabepukulunhumatuŕ,tankatibentu
laḥsarik·,rajapinulaḥhyaŋśukṣmā,sumahuŕhiddābagawānhaṅgastyaprannā,ᵒuduḥhanak:hiṅsunkaliḥ,punnapamilakoñhaniŋriŋbapā,ᵒiṅgiḥyanwa
[akhir]
||0||ppuputsinuratriŋdinā,ku,warawugu,titipaṅloŋ,piŋsolas·,śaśiḥsaddhā,ᵒisakawaŕṣā,1858.
||0||ᵒikitutuŕranhidā saŋr̥ṣi,bagawānhaṅgastyapranamadr̥ĕweputrakaliḥ,lanaṅhistri,ne luwuŕranlanaŋ,mawastā
||0||lontaŕredaruwenhiddā,padaṇdā,ktuhokāriŋgriyasawan·||0||