Cebur nuju daging

Peparikan Mahabarata

Saking Wikisource

Peparikan Mahabharata inggih punika pupulan tetiga teks inggih punika Peparikan Sarpayadnya, Peparikan Samba, miwah Peparikan Maniguna. Makatetiga Peparikan puniki wantah versi editan saking Peparikan Mahabharata, sane sampun kaloktah pisan ring Bali. Makatetiga Peparikan puniki soang-soang kaambil saking Adiparwa, Mausalia Parwa, miwah Salya Parwa. Inti saking epik puniki inggih punika gambaran ksatria sane wanen membela kasujatian, yadiastun antuk resiko padem.

Naskah

[uah]

Milik Departemen P dan K Tidak diperdagangkan Untuk umum

Peparikan Mahabharata Windu Sancaya Tjok lstri Putri Hadiyani Wayan Suteja

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan[ ii ]8992238
WIN
P


PEPARIKAN MAHABHARATA

[ iii ]PPS/BI/3/81

Milik Dep P dan K
Tidak diperdagangkan

Peparikan Mahabharata

Alih Aksara dan Alih Bahasa
Oleh
Windu Sancaya
Tjok Istri Putri Hadiyani
Wayan Suteja





Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
PROYEK PENERBITAN BUKU SASTRA
INDONESIA DAN DAERAH
Jakarta 1982

[ iv ]
Proyek Penerbitan Buku Sastra

Indonesia dan Daerah

Hak pengarang dilindungi undang-undang

[ 5 ]KATA PENGANTAR

Bahagialah kita, bangsa Indonesia, bahwa hampir di setiap daerah di seluruh tanah air hingga kini masih tersimpan karya-karya sastra lama, yang pada hakikatnya adalah cagar budaya nasional kita. Kesemuanya itu merupakan tuangan pengalaman jiwa bangsa yang dapat dijadikan sumber penelitian bagi pembinaan dan pengembangan kebudayaan dan ilmu di segala bidang.

Karya sastra lama akan dapat memberikan khazanah ilmu pengetahuan yang beraneka macam ragamnya. Penggalian karya sastra lama yang tersebar di daerah-daerah ini, akan menghasilkan ciri-ciri khas kebudayaan daerah, yang meliputi pula pandangan hidup serta landasan falsafah yang mulia dan tinggi nilainya. Modal semacam itu, yang tersimpan dalam karya-karya sastra daerah, akhirnya akan dapat juga menunjang kekayaan sastra Indonesia pada umumnya.

Pemeliharaan, pembinaan, dan penggalian sastra daerah jelas akan besar sekali bantuannya dalam usaha kita untuk membina kebudayaan nasional pada umumnya, dan pengarahan pendidikan pada khususnya.

Saling pengertian antardaerah, yang sangat besar artinya bagi pemeliharaan kerukunan hidup antarsuku dan agama, akan dapat tercipta pula, bila sastra-sastra daerah yang termuat dalam karya-karya sastra lama itu, diterjemahkan atau diungkapkan dalam bahasa Indonesia. Dalam taraf pembangunan bangsa dewasa ini manusia-manusia Indonesia sungguh memerlukan sekali warisan rohaniah yang terkandung dalam sastra-sastra daerah itu. Kita yakin bahwa segala sesuatunya yang dapat tergali dari dalamnya tidak hanya akan berguna bagi daerah yang bersangkutan saja, melainkan juga akan dapat bermanfaat bagi seluruh bangsa Indonesia, bahkan lebih dari itu, ia akan dapat menjelma menjadi sumbangan yang khas sifatnya bagi pengembangan sastra dunia.

Sejalan dan seirama dengan pertimbangan tersebut di atas, kami sajikan pada kesempatan ini suatu karya sastra daerah Bali, dengan harapan semoga dapat menjadi pengisi dan pelengkap dalam usaha menciptakan minat baca dan apresiasi masyarakat kita terhadap karya sastra, yang masih dirasa sangat terbatas.

Jakarta 1982

Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah

5 [ 6 ]PENDAHULUAN

Peparikan Mahabharata merupakan kumpulan 3 naskah yaitu geguritan Sarpayadnya, geguritan Samba, dan geguritan Maniguna. Ketiga geguritan ini merupakan naskah yang disunting dari epos Mahabharata yang demikian terkenal di Bali. Ketiga naskah geguritan ini masing-masing dipetik dari Adiparwa, Mausalia Parwa dan Salya Parwa. Inti penting peparikan ini adalah lukisan ksateria berani membela kebenaran walaupun maut yang menjadi tantangannya.

Geguritan Sarpayadnya menguraikan seorang brahmana bernama begawan Samiti sedang khusuk melakukan tapa brata di dalam sebuah hutan belantara. Beliau berputra seorang laki-laki bernama sang Srenggi yang amat sakti, tetapi mempunyai sifat keras dan pemberani. Sang Srenggi berkawan dengan sang Kresa yang berada di surga. Diceritakan begawan Samiti yang sedang melakukan tapa sambil monobrata mengalami bencana karena ulah Prabu Astina bernama prabu Parikesit. Prabu Parikesit sedang berburu kijang di hutan tempat begawan Samiti bertapa. Kijang yang dikejar Prabu Parikesit lari ke tengah hutan. Namun, Prabu Parikesit terus mengejar binatang buruannya itu, tetapi kijang yang dikejarnya itu tak dijumpainya lagi. Di tengah hutan Prabu Parikesit bertemu dengan begawan Samiti yang sedang melakukan monobratra itu. Raja bertanya kepada begawan Samiti ke mana lari kijang buruannya itu. Begawan Samiti tetap diam tidak menjawab pertanyaan sang prabu. Prabu Parikesit amat marah. Karena kemarahannya itu, Prabu Parikesit lalu mengalungkan bangkai seekor ular di leher sang begawan.

Sang Srenggi yang kebetulan berada di Surga diceritai oleh sang Kresa tentang tingkah Prabu Parikesit dan penderitaan yang dialami oleh ayahnya. Sang Srenggi lalu segera mendapatkan tempat ayahnya bertapa serta melihat seekor ular yang sudah mati melilit leher ayahnya. Sang Srenggi lalu marah dan mengutuk Prabu Parikesit bahwa beliau akan wafat digigit naga Taksaka.


7 [ 7 ]Ayahnya amat terkejut mendengar kutukan sang Srenggi putranya itu. Begawan Samiti menerangkan sikap yang harus ia lakukan dalam menghadapi keadaan seperti saat itu.

Begawan Samiti berusaha menjelaskan hal kutukan putranya kepada Prabru Parikesit. Ia sanggup mencabut kutukan anaknya itu asal Prabu Parikesit mau mohon maaf kepada sang begawan. Anjuran begawan Samiti ditolak oleh Prabu Parikesit karena dianggap menghina dirinya Untuk menjaga keselamatan dirinya maka ahli usada datang menjaga beliau. Demikian pula begawan Kasiapa turut serta menjaganya. Akan tetapi, karena suratan takdir Prabu Parikesit pun wafat karena gigitan naga Taksaka.

Beliau diganti oleh putranya Jayamejaya. Untuk membalas kematian Prabu Parikesit ayah beliau, Jayamejaya kemudian melakukan upacara korban ular atau sarpayadnya. Seluruh ular mati terbakar kecuali naga Taksaka dapat diselamatkan atas permintaan sang Astika.

Geguritan kedua adalah geguritan Samba yang dipetik dari Mausalia Parwa. Geguritan Samba ini melukiskan perjuangan sang Samba merebut istrinya yang bernama Yadnyawati. Yadnyawati penjelmaan seorang bidadari. Ia mempunyai seorang emban bernama Nilotama. Yadnyawati mengutus Nilotama mencari sang Darmadewa yang telah menjelma di Dwarawati. Nilotama tahu bahwa Darmadewa telah menjelma menjadi sang Samba.

Saat sang Samba berada pada sebuah pertapaan, ia mendengar kabar bahwa pertapaan yang indah itu adalah petapaannya sendiri bersama istrinya yang bernama Yadnyawati. Tepat pada saat itu datang Nilotama dan mengantarkan Samba untuk menjumpai Yadnyawati.

Dalam pertemuan itu sang Samba berusaha melarikan Yadnyawati walaupun melalui pertempuran yang hebat. Kemenangan berada di pihak Samba. Akhirnya Samba bersatu kembali dengan Yadnyawati.

Naskah ketiga adalah geguritan Maniguna.

Maniguna seorang putra raja negara Madraka. Saat Maniguna berkelana dalam sebuah hutan ia bertemu dengan seorang janda bernama Ni Rangda Druta ibu Diah Arini. Rangda Druta bersedia memungut anak Maniguna dan hidup bersama di hutan. Di sini Maniguna bergaul dengan Arini dan lama kelamaan kedua insan ini jatuh cinta dan diakhiri oleh hubungan suami isteri.

8 [ 8 ]Raja Nandana ingin mendapatkan seorang istri. Saat itu patih Wakta menunjuk Ni Diah Arini menjadi istrinya yang kini berada di hutan Nandawana. Ibu Diah Arini tak dapat menolak kehendak raja walaupun Diah Arini sudah kawin dengan Maniguna. Dalam keadaan semacam ini Diah Arini mohon ke hadapan raja untuk mencari Maniguna yang dinyatakan telah hilang berapa waktu yang lalu. Raja Nandana mengutus Wijayakta mencari Maniguna. Wijayakta pun dapat bertemu dengan Maniguna yang segera menghadap raja. Pada suatu malam Diah Arini beserta Maniguna dapat melarikan diri dari kerajaan Raja Nandana. Raja Nandana berusaha mengejar pelarian kedua insan itu. Namun, tak dijumpainya.

Di tengah hutan mereka bertemu dengan Raja Madaleka yang sedang berburu. Raja Madaleka tergila-gila atas kecantikan Diah Arini. Dalam kesempatan ini Madaleka membunuh Maniguna dan mengawini Diah Arini. Namun, suatu ketika Diah Arini sempat membunuh raja Madaleka serta melarikan diri untuk mencari mayat Maniguna untuk dihidupkannya. Di hutan Diah Arini terlunta-lunta tak tahu arah. Akhirnya ia bertemu dengan Prabu Canda. Prabu Canda jatuh cinta kepada Diah Arini. Prabu Canda mengalami nasib yang sama sebagai yang telah dialami oleh raja Madaleka.

Pada suatu saat mayat Maniguna dijumpai oleh Diah Arini. Diah Arini berusaha menghidupkan Maniguna dan Maniguna pun hidup kembali sebagai biasa. Akhirnya mereka berdua ingin kembali ke istana raja Madraka. Perjalanan mereka ini diantar oleh seorang nelayan yang tahu akan arah jalannya akhirnya mereka sampai di tempat tujuannya.


9 ALIH AKSARA GEGURITAN SARPAYADNYA

Oleh: Windu Sancaya

11[ 10 ]SARPAYADNYA PUH DANGDANG


1. Masih iseng ngawi sambil sakit, tembang dangdang, gula nyaritayang, buka merasa ulahe, kuda bulan ban ibuk, kenehangne makada sakit, di petenge wilangang, ping telu ban bangun, nyemak masih tuara bakat, ban ngenehang, awas pesucianne luih, segu-segu mraguang.

2. Dadi sakite sayan ngrenehin, mamarakang, busan-busan ngentah, akuda ubad terapang, buka tuara kalingu, biana muruda nyang agigis, pineh limuh naanang, saget ya mengambul,kenehe tan patolihan, menglaluang, apang pisan-pisan mati,ban sakit san naanang.

3. Masih tuara nyak nglaut mati, apan titah, widine nombaang, apan salahe nu gede, sangkan sangsara enu, kagela-gela naanang sakit, ludin liu ngubeda, ngawe keneh ibuk, tong dadi baan nyaruang, malitpitang, akuda ucapan aji, anggon maripurnayang.

4. Masih tuara senggangan nyang agigis, baya apa, anggon mangilangang, kenehe kadung kadalon, liputa baan ibuk, sengka sakitang mangawi, anggon ucapan Selam, samlilinan tetu, lema ? embe ade ? nara ?, jari langan, ana'no siberi? Oberi?,bakatoan tuturan.

5. Sangkan mimitan satuane nguni, caritayang, iket pidartayang, krana ada kaucapang, Yadnyasarpa kawangun, di Astinapura ne nguni, kene purwa kandannya, mimitane ilu, kocapan wenten Brahmana, mapesengan, Ida Bagawan Samiti, magehang bratatapa.

6. Kocap maduwe putra asiki, mapesengan, Sang Srenggi kastawa, sakti wakbajra kaucap, suba kas suargan caluh, madue kakantenan asiki, mepesengan Sang Kresa, pangraose anut, pada wenang sabeng suargan, tan carita, kocap Bagawan Samiti, sedek mamonabrata.


13 [ 11 ]7. Di patapan ada gunung sepi, nyanding alas, durung painganan, reke malabuh brata, kocap Ida Sang Prabu, di Astina Sang Pariksit, sedek lunge acangkrama, sadia mabuburu, ka paalasan Astina, saget wenten, kapanggih kidang asiki, kapatitis kapanah.

8. Raris keni kidange malaib, tuara sida, mati kapisanan, Sang Prabu dadi dropoh, sairingan manudtud, ka tengah alase mangranjing, iringane pablesat, ada ngojog kauh, ada mengungsingajanang, manglaadang, tampak kidange malaib, tuara bakat katudtudang.

9. Saget rauh di patapan sami, sairingan, kapanggih Bagawan, Samiti mamonabrata, nginengang Sanghiang Tutur, raris sang Prabu Pariksit, mataken ring Bagawan, "Yen kija palakun, kidange keni panah, pilih wenten, kanten malaib iriki, ngungsi ka patapan".

10. Kocap Ida Bagawan Samiti, tan pangucap, kari monabrata,kadugi reke mawanan, wenten pindo ping telu, Ida Sang Prabu Pariksit, mataken ring Bagawan, naler tan pasaur, Sang Prabu raris kalintang, pisan duka, buka patuduhing Widi,nadakang saget ngenah.

11. Bangken lelipi lidi bumara mati, manyalantah, di samping tapan, Sang Prabu raris sahasa, antuk dukane metu, bangke lelipine kaambil, kanggen kalung Bagawan, kagantung ring bahu, Bagawan Samiti kocap, tan ngewehang, kari monabrata ngastiti, Sang Prabu raris budal.

12. Tan carita Sang Prabu margi, sampun rauh, di Astina Bagawan Samiti kocap, naler kari makalung, antuk bangken lelipi lidi, kantos banges mlekag, ulede pakrunyuk, isine lad patlad tad, neler kari, teken di bahune nglanting, ebut buyung medempal.

13. Tan kocapan Bagawan Samiti, kacarita, Sang Srenggi di suargan, masarengan ring Sang Kresa, sedek mangraos patut,pada nyumbungang raga sakti, Sang Srenggi ngalemang,ragane kawuwus, wakbajra tan patandingan, tur kaungguan, kadibyacaksu luih, sakti tuara ada pada.

14. Kocap Sang Kresa raris nyaurin, maguguyuan, buka parimada, "Eda i dewa bas bangga, ngalemang raga weruh, sakti


14 [ 12 ]tuara ada nandingin, nguda ajine baang, di patapan sungsut,bangken lelipine pineh, patladtad, di bahune kayang jani,masih enu kakalungang.

15. Prabu Pariksit mangalungin, dosan Ida, meneng tan pangucap,apan kari monabrata, saget Ida Sang Prabu, manakenang kidang malaib, keto purwa kandannya, kayang jani enu, ajin i dewa mamona, di patapan, makalung bangken lelipi", Sang Srenggi miarsayang.

16. Raris pramangkin duka tan sipi, saha-sapa, "Kaling ne corah, Sang Prabu palaksanane, wastu apang Sang Prabu, tadah naga Taksaka gelis, sajroning pitung dina", raris gelis tedun,ka madiapada, ajahan, saget kadapetang ajine kari, makalungula tampae.

17. Anging sampun painganan kengin, mlabuyh brata, tutug sesengkeran, Sang Srenggi matur age, saha pidarta metu, leng tingkahe Sang Pariksit, sampun ugi katemah, mangde gelis nemu, katadah antuk Taksaka, keni seda, jroning pitung dina ugi, uli paniban sapa.

18. Dadi kagyat Bagawan Sa ti, amiarsayang, antuke sang putra, dropon ngwetuang sapa, tan pengetan ka pungkur, apan Sang Prabu nyakrawati, raris Ida Bagawan, Samiti masaur,"Duh dewan bapane nguda, sapunika, antuk i dewa Sang Srenggi, dropon ngwetuang sapa.

19. Apan Sang Prabu manyakrawati, mangodagang, jagate makejang, makrama bapa mamuja, antuk duwen Sang Prabu, buat sami iyehe suci, dija bapa manyuang, masih duwen Sang Prabu, awanan bapa mapuja, menginengang, ring Widi, magehang kapanditan.

20. Yadin antuk tongose ne sai, nyen nukayang, masih Ida Sang Nata, apan tuara pisan wenang, mana dingin Sang Prabu, ya din kenken iwange masih, wenang jua salimayang, apan Ida lakun, sai-sai masewaka, melah kuda, andeg i dewa prajani, sapane mangda entas".

21. Sang Srenggi raris matur aris, "Inggih sapunapi, antuk titian kadung, sampun ugi tiba sapan, titiange metu, boya dados mangkin walinin, banggayang pisan-pisan, kadung sampun


15 [ 13 ]labuh, ucapan titiange manemah, keni pageh, wakbajran titiange sidi, sajeroning pitung dina.

22. Yan tan Ida Sang Prabu ne mangkin, ngaksamayang, pilih sida tulak, sapan titiange tibe, ", Raris Ida Sang Guru, Bagawan Samiti pramangkin, matur misrengang, ring Ida Sang Prabu, mangdene kayun ngrawesang, ngaksamayang, milaku ring Sang Srenggi, mangde sapane tulak.

23. Kocapan Sang Prabu Pariksit, sereng pisan, tan kayun ngaksama, melingring kagungan, tan pakeweh ring kayun, kasadiayang pisan nanggehin, pangristan I Taksaka, tan ucapan sampun, Bagawan Samiti tulak, kapatapan, makaronan ring Sang Srenggi, kocapan di Astina.

24. Sang Prabu Pariksit pramangkin, mangraosang ring para punggawa, antuk Ida kena sapa, tadah Takasaka nemu, jeroning pitung dina nekain, I Taksaka nyidayang, punggawane saur, masuk matur pacang, nginganang, mriksain Ida Prabu Pariksit, sajroning pitung dina.

25. Tan dumade raris pramangkin, kawangunang, gedong pasangidan, magenah jroning telaga, ilehin api murub, saregep saha sanjata ngemit, pepek manyatur desa, kocapan Sang Prabu, di jroning gedong magenah, para punggawa, makadi para Rsi, pepek sawedastawa.

26. Nyabran dina prayatna mangemit, kacarita, wenten kaucapang, pandita luih saktine, sidi mantra kawuwus, buat ring wisia ulane mandi, Ida wenang manawar, tan dumade luntur, Bagawan Kasiapa, pesengane, kocap punika raris, pramangkin katuran.

27. Sampun meletan dina nem wengi, kacarita, sampun painganan, sengker sapane ne benjang, pitung dina manemu, tan ucapan kalaning wengi, sampun tatas rahina, pitung dina nemu, kocap Bagawan Kasiapa, sampun Ida, sayaga raris mamargi, ngrawuhin ka negara.

28. Tan ucapan bu rauh di margi, kacarita, Sang Naga Taksaka, dening sampun painganan, tutug sengkere nemu, pitung dina pacang mangutil, Sang Prabu di Astina, kalih batekipun, antuk sapane malekah, mangde sida, kawakbajrane Sang Srenggi, Sang Taksaka ngentasang.


16 [ 14 ]29. Tandua raris pramangkin mamargi, manglembayang, mawesa brahmana, pandita sampun warnane, mateken ban bragu, mabawa slimpet maganitri sampun rauh di jalan, saget macunduk, Ida Bagawan Kasiapa, Sang Taksaka, wruhing cestekara sari, sampun kawalulayang.

30. Sang Naga Taksaka mangriinin, raris nyapa, "Inggih Sang Kasiapa, kija pacang, pamargine?" Sang Kasiapa masaur,"Manira ka Astina negari, sadia pacang nyedayang, manawar Sang Prabu, apan Ida ayatannya, I Taksaka, dinane jani mangutil, Sang Prabu di Astina".

31. Sang Taksaka raris pramangkin, ngwalulayang, masaur pragalba, "Ira suba I Taksaka, pacang ngutil Sang Prabu, di Astina melah ne jani, dini sube pandukang, kasaktian kasub, manandingin I Taksaka, pacang nawar, ento ada jadma ngandik, jani ira gesenga".

32. Lantas kadilan jadmane ngandik, kayu roda, antuk Sang Taksaka, pramangkin tan pagantulan, geseng mandadi awu, teken punyan kayune bresih, tut ring awune brasta, tan pagatra enu, Sang Naga Taksaka raris, mangonkonang, Bagawan Kasiapa keni, mangelisang manawar.

33. Bagawan Kasiapa raris gelis, mengregepang, puput ring adnyana, raris kagelang ajahan, jadmane ngandik bau, saget buin waluya ngandik, buka tuara nawang, dewek pecak puun, tan dumade Sang Taksaka, ngaksamayang, ngasorang raga pramangkin, ring Bagawan Kasiapa.

34. Pranamya ature nunas kanti, ring Bagawan, Kasiapa sang Dwija, "Inggih Bagawan Kasiapa, titiang nahen pisan sampun, kasor pisan antuk kasaktian, ne mangkin titiang wantah, nunas mamilaku, sisip nunas nyidayang, mangde entas, sapane Bagawan Srenggi, mawates pitung dina.

35. Puniki titiang ngaturang ciri, sarwa mulia," Raris kawangsulang, mas manik winten mabiok, wenten ulihan awakul, raris katurang pramangkin, ring Bagawan Kasiapa, mangdene mawantun malih mantuk ka patapan, tan nyidayang, manawar Sang Pariksit, di Astina Negara.

36. Bateka antuk sapane dening, sang wakbajra, tong dadi andegang, dadi Bagawan Kasiapa, pakayunane metu, gumugutan

17 [ 15 ]teken mas manik, tutut raris matulak, ka patapan jujur, sam pun polih sarwa mulia, tan carita, lakune di margi, sampun rauh ka pasraman.

37. Sang Naga Taksaka raris gelis, mangraosang margine mangris ta, apan kalintang sengkene, genah Ida Sang Prabu, buka tuara margi mangranjing, dahating keweh pisan, kalih pacang tutug, sengker sapane nu bantas, buin alemah, dening surya suba singit, apang da kasurupan.

38. Kocap ada sameton asiki, kagenahang, di sapta patala, punika anggen rarapan, mangde sida mahawug, ka jroning sesuteran raris, kanekan malih rupa, mawarna sang wiku, puput uli patapan, manyiriang, susrusa ring, Sang Pariksit manglawad.

39. Mambakta woh jambu limang siki, makacihna, ento anggon aturan, sampun mawadah salongsong, Sang Taksaka to ditu, mahalingan mandadi cenik, ambul gadgade pisan, buka samar saru, di nyamuk nyambune reke, mailedan, sampun samapta ngadianin, upayane nyidayang.

40. Kocap Sang Prabu Pariksit, di negara, Sang para pandita, tapene liu manglawad, ada ngaturang jambu, len ada ngaturang wani, salak manggis muang langsat, pepek sami rauh, Sang Prabu raris ngraosang, painganan, Sanghiyang Surya sampun lingsir, nunggang gunung ngantiang.

41. Dening wates sapane nu kidik, buin alemah, nganti surup surya, raris tag pitung dina, egar kayun Sang Prabu," raris maninangan ring sami, pra Rsi pungawa, sami saur manuk, matur pematutu pisan, saget rauh, sanak Taksakane wyakti, ne wawarna pandita.

42. Saget mangojog lantas mangrarisang, mantukan, ka jroning sesuteran, Sang Prabu raris ngandika, "Ida Gede bu rauh, ngraris kajengan malinggih," Tutut sang katuran, tumuli matur, "Puniki titiang ngaturang, woh-wohan, jambu wantah limang siki, anggen titiang pracinna”.

43. Sang Prabu raris nerima gelis, ngandikayang, parekan mecikang, sampun reke kagenahang, kocap Ida Sang Prabu mangraosang, ring para rsi, antuke Sanghyang Surya sampun, jaga surup sang para rsi, antuke, katuran sami budal, antuk Sang Prabu Pariksit, sami mapamit budal.

18 [ 16 ]44. Sang Prabu tan pasangsaya dening, karaosang, jaga surup Surya, metu pangraose campah, kakedeng baan tuduh, kasidian sapane Sang Srenggi, mangde kasidan entas, dadiannya Sang Prabu, kayun ngayunang woh-wohan, daun pangandika, ring parekan alit, keni ngambil wohwohan.

45. Jambune paling pungkur kaksi, ne katur, antuk Sang Pandita, puniki kakarsayang, sampun reke katur, mawadah bokor mas masanggling, jambu wantah lelima, Sang Prabu manyambut, jambune paling gedenya, kesenengan, wau kagamel kaksi saget ada mangenah.

46. Di nyamuk barak cenik, mailidan, ada ambul gadgad, anging cayane dumilah, meling Ida Sang Prabu, raris, mangandika nyampahin, "Baya apa sih iba, cerik murub, cayane kabina-bina tuah ne iba, I Taksaka nongos dini", Kocap Sang Taksaka.

47. Meling ring Taksaka raris, ngalulayang, marupa Taksaka, Sang Prabu raris kadilan, geseng mandadi awu, sampun entas sapane raris, Sang Taksaka melecat, kambarane nyusup, di ambubune malingan, tan carita, sampun di suargan malinggih, kocapan di Astina.

48. Muug di jero puri nangis, mauruan, ada mamantigang, awak ada maguyang, mangaroh nagih ngamuk, ada masesambatan ngeling, munyine mangucapang, "Kasuecan Sang Prabu, mamanjakang titiang nista, tan paguna, masih kapan-kapan nyilib, titiang kapandikayang.

49. Di pamreman angen mametekin, nengken sweca maler, kasambilang angen, kagarap kewala ada," Len masaur" Apang titiang, gusug wiakti, titiang taen kesengan ka pamreman, nglaut bau rauh, di pamreman ngusap cokor, Sang Prabu ngicanin, titiang panglegan manah".

50. Ambulto caritayang digurit, tetingkahan, saisising pura, kocapan sang mandewata, sampun reke kawangun, saupakaron Sang Prabu pati, camana atiwa saprasteka puput, nanging sampun madue rajaputra lanang, asiki karia alit, bagus tan patandingan.

51. Kocap Sang Rajaputra kari alit, mapesengan, Sang Janamajaya, kasuensuen inganan sampun, nyandang mangadeg ratu,


19 [ 17 ] raris kabiseka summilih, jumeneng di Astina, maparab Sang Prabu, Janamejaya sakti tan patandingan, magehang kadarman yukti, pagehing brata yadnya.

52. Lintang landuh wirya di negari, nyabran dina, pada masukan-sukan, jadmene pecak malaksana, corah manglilus, maganti darma prajani, yadastiti nyaluk brata, biana wenten musuh, sing manungkul ka Astina.

53. Apan tuara len ratu kapuji, kalumbrahang, di Astina, pura agunge tan patandingan, nyandang wantah mamangku, di jagate manyakrawati, kanggen paulunan, ban ratune liu, tuara elen kaucapang, ngwangun yadnya, kirti di jagate sai, nginkinang ne pungkuran.

20 [ 18 ]PUH PANGKUR

1. Kacerita di Astina, kawiryane Sang Prabu tan patanding, ada len buin kawuwus, satua masian~isian, wenten brahmana, ring Ayodia kawuwus, astiti di patapan, magehang yoga semedi.

2. Maparab Bagawan Weda, sisian Ida Bagawan Domia nguni, Bagawan Weda Sang Putus, kocap madue sisia, bau rauh susrusa baktine nerus, maparab Sang Utangka, nyabran di patapan ngiring.

3. Nunas mangde mangaturang, panggurujaga, luih ring Sang Adi, Bagawan Weda tan kayun, nampi panggurujaga, sakewanten Sang Utangka jenek nunggi, Sang Adi di patapan, manitenin sekar sai.

4. Tan dumade raris Ida, Prabu Posia Ayodia siniwi, ngwangun yadnya manuur, Ida Bagawan Weda, dadi masarengan panuure rauh,.Prabu Janemejaya, naler manuur Sang Rsi.

5. Kocapan Bagawan Weda, mitelasang ring Sang Utangka sami, satatan durane sampun, Sang Utangka mariksa, tan carita, Bagawan Weda Sang Guru, sampun lunga kapinang, Sang Utangka mangentosin.

6. Mamriksa di patapan, saletanduran sami katitenin, Sang Guru Patni kawuwus, metu kayune ngeragan, dadi mangarsayang ngajakin maturu, ring Bagawan, Utangka, pradene tuara kairing.

7. Sang Utangka sering mamindah, antuk lintang jerihe ring Sang Adi, Guru Patni mintuhua, anging ring pakayunan, lintang duka naler kakubda, kasekung, kocapan sang kapinang, rauh ka patapan malih.

8. Mapanggih tekening sisian, Sang Utangka lintang susrusa bakti, Bagawan Weda Sang Guru, manyingak tetanduran, sarwa


21 [ 19 ]landuh pepariksayane luung, kocapan Sang Utangka, malih matuh ring Sang Adi.

9. "Wantah manewegang pisan, mangde wenten panggurujaga wiakti, katur ring sang sinuhun, dening mangayat budal", Sang Utangka, Bagawan Weda masaur, Sang Utangka kapitelas, nunas ring Sang Guru Patni.

10. Mangde kasidayang pisan, sapanguduh Ida Sang Guru Patni, Sang Utangka tan matur, gelis raris manunas, ring Sang Guru Patni sakayun Sang Guru, maka pangguru jaga, Sang Guru Patni nangingin.

11. Angingte mangwidi pisan, meling ring saparipolahe nguni, keni Sang Utangka rauh, sajroning petang dina, apan Sang Guru Patni katiban letuh, sedek mangrajaswala, ditu inganan masuci.

12. Mangde Sang Utangka lunga, ka Ayodia mamarek Sang Sawitri, rabine Ida Sang Prabu, Pusia to kaucapang, mabusana kundala manike luung, ento mangde katunas, ring Ida Dewi Sawitri.

13 Pacang kangge busana, antuk Sang Guru Patni yan masuci, apan tuturannya lamun, mabusana kundala, pangluturang mala satungguning tuuh, awanan Sang Utangka, kapisrengang kawidi.

14. Sang Utangka tuara piwel, mangiringang kayune Sang Guru Patni, anging pangraose ring kayun, kalintang keweh pisan, apan negara ayodiane bas kasub, adohe tan sapira, wenten margian duang sasih.

15. Kudiang pacang manyidayang, petang dina keni rauh iriki, ban kasusrusane ring guru, Sang Utangka mamarga, ring Bagawan Weda naler madue atur, midartayang sapratingkah, Bagawan Weda masinggih.

16. Raris mapamit mamarga, Sang Utangka mamargi sambil sedih, anging di kayun tan purun, wantah pacang nyidayang, apang tingkah susrusa bakti maguru, mamargi lunta-lunta, tuara ada manyarengin.

17. Mamegatin alas wayah, menggel gunung jurang pangkunge sripit, kacarita saget rauh, di tegale ne linggah, dadi ada pa-


22landuh pepariksayane luung, kocapan Sang Utangka, malih matuh ring Sang Adi.

9. "Wantah manewegang pisan, mangde wenten panggurujaga wiakti, katur ring sang sinuhun, dening mangayat budal", Sang Utangka, Bagawan Weda masaur, Sang Utangka kapitelas, nunas ring Sang Guru Patni.

10. Mangde kasidayang pisan, sapanguduh Ida Sang Guru Patni, Sang Utangka tan matur, gelis raris manunas, ring Sang Guru Patni sakayun Sang Guru, maka pangguru jaga, Sang Guru Patni nangingin.

11. Angingte mangwidi pisan, meling ring saparipolahe nguni, keni Sang Utangka rauh, sajroning petang dina, apan Sang Guru Patni katiban letuh, sedek mangrajaswala, ditu inganan masuci.

12. Mangde Sang Utangka lunga, ka Ayodia mamarek Sang Sawitri, rabine Ida Sang Prabu, Pusia to kaucapang, mabusana kundala manike luung, ento mangde katunas, ring Ida Dewi Sawitri.

13 Pacang kangge busana, antuk Sang Guru Patni yan masuci, apan tuturannya lamun, mabusana kundala, pangluturang mala satungguning tuuh, awanan Sang Utangka, kapisrengang kawidi.

14. Sang Utangka tuara piwel, mangiringang kayune Sang Guru Patni, anging pangraose ring kayun, kalintang keweh pisan, apan negara ayodiane bas kasub, adohe tan sapira, wenten margian duang sasih.

15. Kudiang pacang manyidayang, petang dina keni rauh iriki, ban kasusrusane ring guru, Sang Utangka mamarga, ring Bagawan Weda naler madue atur, midartayang sapratingkah, Bagawan Weda masinggih.

16. Raris mapamit mamarga, Sang Utangka mamargi sambil sedih, anging di kayun tan purun, wantah pacang nyidayang, apang tingkah susrusa bakti maguru, mamargi lunta-lunta, tuara ada manyarengin.

17. Mamegatin alas wayah, menggel gunung jurang pangkunge sripit, kacarita saget rauh, di tegale ne linggah, dadi ada pa-


22 [ 20 ]ngangon lembu katepuk, anak tua suba uban, ngaba arit macecapil.

18. Laut ya sada nesekang, ko masabda, "Maman matakon saking aris, cai ngatiang kija laju?, pejalane ngebrasang,", Bagawan Utangka nyaurin alus, "Olas pesan jua i maman, masih matakon majinjin.

19. Ira ngantiang ka Ayodia, pacang mamarek Ida Sang Sawitri, kasengka antuk Sang Guru, mangde ne petang dina, apang suba sida di patapan rauh, kaweh ko ira pamem," Anake tua manyaurin.

20. "Yen cai mabudi enggal, mangde petang dina .sida di margi, ne tain lembune duduk, daar sanguang di jalan, teken panyuhnyane inem anggon sangku, mangdene cai enggal, teked ka Ayodia negari".

21. Sang Utangka tuara tu1ak, raris tain lembune pramangkin, katadah tekening panyuh, nyane sareng kinumang, bau usan mangajengang tain lembu, ajahan Sang Utangka, saget rauh di negari.

22. Raris ngojog ka bancingah, kocap Prabu Posia sedek katangkil, Sang Utangka raris matur, nunas raris ka purian, parek ring Sang Sawitri sadia kautus, pacang nunas kunda1a, pangutus Sang Guru Patni.

23. Kasengkerin petang dina, mangde Sang Utangka matulak malih, rauh ka patapan mantuk, mangaturang kundala, apan pasucian Sang Guru Patni nuju, ne malih petang dina, Sang Prabu ngaturin ngraris.

24. Sang Utangka raris ka, jro pura pacaragayan ugi, naler mangraos ring kayun, dumadak mangde sida, pamargine manyuun kayun Sang Guru, keni polih kundala, busanane Sang Sawitri.

25. Sampun rauh di jero pura, Sang Utangka kocapan Sang Sawitri, apan istri utama kasub, luihing pati brata, tuara dadi kareraban baan letuh, awinan Sang Utangka, tan wenten polih nyingakin.

26. Sang Utangka malih tulak, ka bancingah gagelisan mamargi, parek ring Ida Sang Prabu, matur midartayang, antuke Sang

23 [ 21 ]Utangka tan sideng laku, tuara polih ngantenang, Sang Sawitri di jro puri

27. Sang Prabu raris ngandika, "Nawi Ida Gede durung masuci, becikan mabresih dumun, apan patnibrata, boya dados kararaban baan letuh, Sang Utangka raris budal, masuci maweta ening.

28. Sausan malih tulak, ka bancingah nunas lugra mapamit, ka puri Ida Sang Prabu, Posia raris nganika, Ida Gede Sang Utangka tutut, raris kanten waluya, Dewi Sawitri mlinggih.

29. Sang Utangka manampekang, sapratingkah raris matur aris, "Ida Prameswari durus, ica ugi ring titiang, parisadia mamarek i ratu, wantah nawegang pisan, manunas kundala manik.

30. Pacang anggen titiang cihna, panggurujaga ring Ida Sang Guru Patni, "Sang Sawitri maweh sampun, katampi saprateka Sang Utangka, Sang Utangka pramangkin mapamit mantuk, malih Ring Sang Prabu Posia, mamarek raris mapamit.

31. Sapareke Sang Utangka, matur, "Inggih ratu titiang mapamit, gagelisan pacang mantuk, dening sampun kasidan, apan sengker titiang petang dina rauh, matulak ka patapan," Sang Prabu ngandika aris.

32. "Inggih Ida Gede antos, ugi titiang sampun ngenken macawis, iriki maiyunan dumun," Sang Utangka ngantosang, saget rauh pamijian sampun madulur, sregep sapreteka, Sang Utangka mangarepin.

33. Saget bumara kacingak, panamiune masoda nasi dingin, Sang Utangka raris metu, kayune parimada, saha ngandika," Manguda Sang Prabu, namiu Sang Pandita, masagi ban nasi dingin.

34. Dening tuara reko wenang, Sang Pandita membukti nasi dingin, wastuwania Sang Prabu, uta tuara ngantenang," Tan dumade ajahan saget Sang Prabu, uta tuara manyingak, raris duka pramangkin.

35. "Nguda Ida Gede nemah, teke dadi dropon manditain, manyambatang titiang namiu, baan tuara utama, nasi dingin yen pituinya tuara tahu, baane Sang Pandita, pacang ngayat budal gelis.


24 [ 22 ]36. Ento krana gagelisan, patemiune mangdene budi gelis, yen teke mratengan dumun, pilih sue ngantosang, dening pamargin Ida Gedene rauh, matulak ka patapan, keni petang dina ugi.

37. Dening Ida Gede nemah, anak tuara pesan mangelah sisip," Sang Prabu Posia tan kenggun, mangwalesang manyapa, "Wastu apang Ida Gede jua manemu, kasangkalan di jalan, antuk Sang Taksaka luih".

38. Raris Bagawan Utangka, ngraos iwang, antuk dropon wiakti, manemah Ida Sang Prabu, gelis malaku iwang, naweg nunas geng sinampura ring Sang Prabu, sumanggup pacang ngentas, sapane mangde pramangkin.

39. Puma tuara magantulan, raris Ida ngeregep pramangkin, entas sapane Sang Wiku, ajahan Prabu Posia, malih waluya kadine sampun-sampun, tuara melaad uta, apan Sang Pandita sidi.

40. Raris Bagawan Utangka, manunasang raga pramangkin, kaentas antuk Sang Prabu, sapane katibakang, keni sami waluya kadi Sang Prabu, entas sapane ajahan, mangde tan pagatra kari.

41. Sapunika Sang Utangka, matur Ida manunas ica ugi, Sang Prabu Posia masaur, ngraos boya nyidayang, apan Sang Brahmana landepe ring tutuk, sang mraga Satria, landepe di jroning
ati.

42. Awinan karaosang, boya sida entas sapane sami, naler Sang Utangka nemu, di margi kebancana, kangkat luntur sapane samadenipun, Sang Utangka nyidayang, ngaturang kundala manik.

43. San Utangka raris budal, tan pangucap gagelisan mamargi, tan kocap Ida Sang Prabu, Posia sampun waluya, kadi kuna Bagawan Utangka sampun, rauh manglintang negara, pamargine tan panolih.

44. Sam:pun di tegale linggah, Sang Utangka mamargi peluh pidit, kebus baang buka tambus, pemerat sapane nglekah, buka dadak ada pancoran katepuk, Sang Utangka mararian, ngelisang raris masuci.

25 [ 23 ]45. Kundalane kaelingang, kagenahang di sampinge masuci, bau mara mareraup, raris malangsuan raga, saget ada mawarna dewa rauh, di samping kundalane waspada, mirib ngantiang masuci.

46. Sang Utangka tan minaha, saget dadi kasingse pramangkin, kundala manike sampun kajemak kaplaibang, raris waluya naga Taksaka murub, cayane di 'ambara, mlaibang kundala manik.

47. Dadi kagiat Sang Utangka, pramangkin katutug katutburi, satiba praning laku, karuruh kasajayang, Sang Naga Takssaka gelisang macelup, ka goane mailidan, sampun di goane sepi.

48. Kacarita Sang Utangka, masih kalunta-lunta ngetut buri, tan sipi dukane metu, anging masih ngaksama, sambil managihang kundalane antuk, pacang panggurujaga, katur ring Sang Guru Patni.

49. Rauh ka saptapatala, Sang Utangka taler ngetut buri, sagetan ada katepuk, anak luh padaduanan, nunun benang selem tekening putih ditu, Sang Utangka manakonang, lakun Sang Taksaka mlaib.

50. Masih tuara karwan genah, ada buin katepuk anak cerik nemnem liunya matambun, pada manguyeng cakra, Sang Utangka buin manakonin jujut, masih tong karuan
genah, saget ada buin kapanggih.

51. Anak odah nandan jaran, lantas anake odah manuduhin, matakon munyine alus, "Ne jani Sang Utangka, yen mabudi apanga sida katepuk, Sang Taksaka mlaibang, kundala manike luih.

52. Ene jit jarane anggon, manyidayang canggol lautang upin, apanga mesuang andus, manusdus I Taksaka, di goane laut ya bekbekan pesu, manyerahang kundala," Sang Utangka mamisinggih.

53. Raris manyanggem ngelisang, jit jarane laut kaupin, apanga mesuang addus, manusdus Sang Taksaka, di goane Sang Taksaka tuara mampuh, bekbekan di tengah goa, raris mijil pramangkin.

26 [ 24 ]54. Kapanggih ring Sang Utangka, manyerahang kundalane kambil, sampun katampi rahayu, kayune Sang Utangka, meling ring sengker pamargine kawuwus, kawidi petang dina, mangde apang rauh ugi.

55. Raris anake odah, ngangon jaran buka olas ngajahin, "Yen mabudi enggal rauh, ka negara Ayodia, ene tundun jarane tegakin laut, enggal teka ka Ayodia," Sang Utangka mamisinggih.

56. Laut jarane kejemak, kategakin ajahan saget dadi, suba ka Ayodia rauh, Sang Utangka ngaturang, kundalane ring Sang Guru Patni sam pun, katampi lintang sueca, kayune Sang Guru Patni.

57. Awacana,"dumadak, Sang Utangka polih kasidian luih, "Sang Utangka raris matur, mapamit pacang budal, dening pangguru jagane sampun katur, Sang Guru Patni kocapan, sampun mangayat masuci.

58. Sang Utangka raris budal, Ida Bagawan Weda kaparanin, ngaturang kasideng laku, sampun polih kundala, makacihna pangurujaga katur, Bagawan Weda ngandika, raris ngawarah-warahin.

59. Sapratingkahe di jalan, Sang Utangka punika kanikain, sane di margi katepuk, to awanan nyidayang, pamargine Sang Utangka sangkan rauh, sajroning petang dina, mangalih kundala manik.

60. "Lembune ketuturannya, Sang Erawana to ne negakin, Batara Indra sang puput, ing kirti kaucapang, anake cenik nguyeng cakra nem ukud, to Sadretu kaucapang, anake luh duang diri.

61. Manunun sai gawenya, benang selem tekening benang putih, ento katutuannya mungguh, Sang Dasa Sang Widasa, jarane ne memesuang andus, ento Sang Pancajania, ne negakin Sanghiang Agni.

62. Bagawan Weda mangarad, mangde kasidan Sang Utangka molih, kundala manike kasub, maka panggurujaga, ring Sang Guru Patni antuke bes puput, pagehe Sang Utangka, tingkahing maguru bakti.

27 [ 25 ]63. Bagawan Weda raris manganugraha, ring sisian pramangkin, "Dumadak inanak nemu, rahayu sidi mantra, Sang Utangka mabakti mapamit mantuk Bagawan Weda nugraha, tan kacarita di margi.

64. Kocap Bagawan Utangka, sampun rauh di Astina negari, sang ing Astina kawuwus, Prabu Janamejaya, sedek tinangkil pepek Sang Parawiku, lan para manca punggawa, jejel di bancingah titib.

65. Bau san ngaonang desa, Taksilane kagebug kaendonin, Sagawan Utangka nyujur, mangraris ka bancingah, sadia nangkil manglawad Ida Sang Prabu, antuke bau usan, ngaonang pradesa luih.

66. Raris Bagawan Utangka, katurin ka ajengan mlinggih, tutu Sang Utangka sampun, malinggih masarengan, Bagawan Utangka mangraos ring kayun, meling ring I Taksaka, apan satru dangka wiakti.

67. Kayune pacang ngawalesang, mangde sida I Taksaka ngemasin, dosane nyengkalen malu, malaibang kundala, Bagawan Utangka glis madue atur, ring Sang Janamejaya, kadi mangalem prajurit.

68. Ature sapatanganan, "Inggih ratu Sang Prabu, tan sipi, gawok titiange mangrungu, kawiryane Sang Nata, makadi prakosane teken satru, asing mapekedep pangpang, sang watek ratune sami.

69. Sampun telas kakaonang, rupa baya ratu nandingin, kadi kasaktian Sang Prabu, jumeneng ri Astina, "Raris katinangang ri Ida parampu, Ida Sang katinangan, saur manuk mamisinggih.

70. Raris Bagawan Utangka, ngwetuang raos upaya silib, mangdene kasideng kayun, ring Sang Naga Taksaka, mangde rusak nyeburin apine murub, di kundane dumilah, Bagawan Utangka malih.

71. Matur kadi pramada, "Inggih ratu Sang Prabu kadi mangkin, kasaktian Cokor I Ratu wiakti kastawa pisan, nanging wenten naler kari tan kalingu, satru dankane pisan, reneng tan wenten kraosin.

28 [ 26 ]72. Punika nyandang raosang, Cokor Ratu mangde sida mapulih," Sang Prabu gelis masaur, "Inggih pangandikayang, Ida Gede, yang engken ne durung gempung, titiang wantah manyidayang, pacang ngebug mangendonin.

73. Mangde ipun telas brasta, Ida Gede pangandikavang ugi." Sang Utangka malih matur, "Inggih Ratu piarsayang, sapuniki ratu kamimitan ipun, aji Cokor I Dewa, Ida newata ne nguni.

74. Awinan Ida newata, I Naga Taksaka reke mangutik," Sang Prabu kagiat ring kayun, pramangkin maninangang, ring para Rsi punggawa yan Sang Prabu, kariin mandewata, I Naga Taksaka ngutil.

75. Sang Pararesi Punggawa, sami saur manuk mamisinggih, matur ring Ida Sang Prabu, "Sawiakti sapunika," Prabu Janamejaya pramangkin metu, pakayune duka, mangde kasidan mapulih.

76. Raris matur nunasang, tetingkahan ring sami pararesi, yan wenten ring sastra mungguh, tingkahing Sarpayadnya, Sang Pararesi gelis sami matur, "Inggih wenten gumana, mula ring ucapan aji.

77. Saha weda pangastawa, maduluran sapratingkah sami, saindikan weda mungguh, makadi kaucapang, sang wenang mang ajengin weda mungguh, tan lian Ida Brahmana, Bujangga wenang ngajengin.

78. Kocap yan Brahmana Wang Bang, yadin Brahmana Mambang boya kengin, mangajengin Weda mungguh, makadi durung pisan Para ratu taen ngingkinang ngawangun, Sarpayadnya kaucap, apan klintang luih."

79. Sang Prabu Janamejaya, pakayun wantah nyidayang ugi, raris pramangkin kadauh, sakadi pakayunan, ring Paremantri kalih ring Punggawa sampun, manabdabang sapresteka, saupakarane sami.

80. Makadi sang katuran, mangajengin yadnyane petang siki pesengan ida kawuwus, di jagate kalumbrah, Bagawan Canda Bargawane ring ayun, Bagawan Kosa Udgata, Ida kocap manyarengin.

29 [ 27 ]81. Bagawan Janma Nikunda, Ida naler mangiring mangajengin, malih wenten sareng mungguh, patpat ngajengin yadnya, Bagawan Jioti Singalam kayun, manggala Ida Bagawan, Biasa asisia sami.

82. Kaucapang maka lingga, tan ucapan tingkah Sang Pararesi, sawonging negara sampun, ngwangunang payadnyan, di Jabaning desa beneh kelod kauh, linggahe siu depa, maileh tegal manyanding.

83. Sedek jadmane gebogan, mangarapan saha punggawa nuduhin, wenten sabda kasa rauh, saget tan kawenangang, apan Sang Brahmana kawenangan nyikut, yen mangwangun payadnyan, mangde magentos pramangkin.

84. Apang Brahmana nyikutang, anging masih Brahmana nyengkalain, awinan yadnyane buung, ambul to baan ngucapang, lantas Brahmana pramangkin manyikut, payadnyane ningkahang, anggon gita kayang jani.

85. Sampun puput saprateka, di payadnyan sampun pepek macawis, kocapan inganan sampun, dinane ngawangun yadnya, Sang Paramantri Punggawa pepek sampun, malinggih ring payadnyan, makadi Sang Pararesi.

86. Sang Prabu Janamejaya, raris kaodal saupacara ngiring, metu tejane murub, alah di suralaya, abrasinang baan busanane murub, bes liu yan ucapang, bagbag ungguhang di gurit.

87. Kocap sampun katuran, Ida Sang ngajengin mlinggih, maweda lingihe nyatur, maka pangajeng Ida, Bagawan Canda Bargawan mungguh, Bagawan Gusa Udgata, sareng mangiring mlinggih, mawada linggihe nyatur, maka pangajeng Ida, Bagawan Canda Bargawan mungguh, Bagawan Gusa Udgata, sareng mangiring mlinggih.

88. Bagawan Janma Nikunda, sampun Ida masarengan mlinggih, kocapan sang paling pungkur, mlinggih masarengan, Bagawan Jioti Singalembayun, sampun manggala Ida, Bagawan Biasa mlinggih kairing.

89. Ida maka tasik weda, sampun painganan wedane titir, makriang munyine muug, Sanghiang Agni dumilah, di kundane maileh-ileh manglikub, lengis arake mapanta, panta anggo manuruhin.

30 [ 28 ]90. Apine kabina-bina, galak tuwi buka ngeresang ati, kocapan nagane sampun, pacaburbur di kunda, anging soroh gebogane paceburbur, len ada nu di jalan, di ambarane ngibangin.

91. Saget bareng satus sareng satak, mati manyeburin api, anging Sang Taksaka enu, nongos di kadewatan, masarengan ri Betara Satakratu, lintang keweh ngraosang, antuk Sang Taksaka iri.

92. Nagih teduh manglembayang, dadi medal nagih nyeburin api, untute raris kasaup, antuk Betara Indra, klilitang di lancingane kategul, mangdene tuara sida, teduh manyeburin api.

93. Tan kocapan Sang Taksaka, kacarita sang ngajengin, sampun katuran antuk, Prabu Janamejaya, mangda telas utama wedane metu, antuke I Taksaka, tan wenten kanten ngrauhin.

94. Bagawan Canda Bargawa, ngwetuang Reg Weda pramangkin, Ksama Wedane madulur, klawan Atarwa Weda, Yajur Weda sami kawetuang antuk , sang tetiga ngiringan, apine sayan ngilabin.

95. Sang Naga Taksaka kocap, buka arad kayune dadi gidih, meled mabudi macebur, di apine dumilah, Betara Indra naler nombang tednu, Sang Taksaka sereng pisan, mlaib nagih nedunin.

96. Sanghyang Indra kaplaibang, boya nyandang kapaid-paid dening untute mategul, di lancingane raris, kaklesang raris Sang Naga Taksaka, laju ka ambarane nglam bayang, pacang manyeburin api.

97. Betara Indra kawehan, mangraosang mangdene buin mawali, Sang Naga Taksaka mantuk, buung nyeburin kunda, tuara sida Sang Naga Taksaka mantuk kocap Ida Brahmana, bajang bau menek kelih.

98. Mapesengan Sang Astika, pernah putu di sameton sawiakti, antuk Sang Taksaka kasub, bagus tan patandingan, kalih mula, kaeman antuk Sang Prabu, tingkah makasihan, tong dadi pasah aselid.

99. Sang Prabu kapilulutan, krenehan klangun tan sinipi, tong dari elad di kayun, sakayun Sang Astika, teka sida tan kantos mentehan rauh, bes kaemane liwat, tingkah mamarekan silib.

31 [ 29 ]100. Punika kanggen rarapan, antuk Betara Indra pramangkin, dauh pangandika alus, "Duh Cai Sang Astika, dong gaenang kadang Caine bes liu, nagih ka marcapada, pacang manyeburin api.

101. Makadinya Sang Taksaka, suba tuun ka madiapada mlaib, dong kemo jagjagin bagus, andegang kuda enggalang, sarpayadnyane," Sang Astika matur, "lnggih titiang nyidayang, mangusanang pramangkin.

102. Sampun malih sumangsaya, titiang parek ring Sang Prabu mangkin, ngaksamayang antuk atur, mangdene kausanang, Sarpayadnyene di Astina kwangun," Sang Astika kocapan, raris mamargi pramangkin.

103. Nyujur ka Astina pura, tan carita Sang Astika di margi, sampun di payadnyan rauh, apine kabinawe, di kundane mailab-ilab manglikub, nagane liu mapanta, di ambarane ngilabin.

104. Makadinya Sang Taksaka, sampun lasoloso nagih nyeburin, apin pakundane murub, Sang Astik pranamia, mana pekang matur ring Ida Sang Prabu, "Ratu Sang Prabu, piarsayang, atur titiange puniki.

105. Titiang wantah manawegang, ica Cokor I Dewa ica ugi, ngawulayang titiang Ratu, yan wantah klinggihan, pinunas titiang, usanang ugi ratu, yadnyane kawangunang, cingak titiang i kawlas asih.

106. Punapi panados titiang, yan durusang Sarpayadnyane mangkin, punika cingakin Ratu, Sang Taksaka mangayat, pacang tedun nyeburin apine murub, dening Ida kawitan titiang, masemeton wiakti.

107. Ring Ida pekak titiang, Sang Antaboga di saptabumi, punika awinan Ratu, titiang purun pralanggia, manunasang mangde kausanang Ratu, Sarpayadnyane apan, sampun akweh mengemasin.

108. Sapalara kadangan titiang, manyeburin api geseng pramangkin," Kocap Ida Sang Prabu, masinggih Sang Astika, pramangkin pakayunane sang Prabu, ngusanang sang maweda, ngajengin yadnya pramangkin.

32 [ 30 ]109. Ida Sang ngajengin yadnya, raris usan maweda pramangkin, ilang apine murub, kocap tan pasuteja, apan tuara maduluran neda putus, Sang Taksaka kocapan, sampun di suarga mlinggih.

110. Kalih nagane samian, sam pun telas sajabaning ne mati, kanagaloka mawung, mangungsi pagenahan, tan carita di Nagaloka Sang Prabu, Jartamejaya kocapan, kari mlinggih katangkil.

111. Sang Pararesi sampun, katuran punia saha mas manik, rajata arta madulur, saha boga aswameda, muang bojana sampun mabojana puput, sami mantuk soang-soang, ada ka patapan ngungsi.

112. Kocapan Sang Janamejaya, raris budal Sang Astika mangiring, ka dalem pura matuntun, sampun rauh di pura, tan carita ring payadnya sampun puput, Paramantri punggawa, sampun budal sapangiring.

113. Kacarita di negara, kawiryane buka tuara ada nandingin, saking jro pura kawuwus, sadina masukan, buka tuara ngraosang kewuh, Prabu Janamejaya, kasinoman aning Bupati.

33 [ 31 ]PUH SINOM


1. Ambul to bukti kandanya, Saprayadnya ring nguni, Sang Astika mangusanang, awinan dadi pramangkin, usan yadnyane wiakti, apan titah Sanghiang Tuduh, ngaryanang mangde ada, Sang Astika tuah kapuji, katurgenah, pacang mangusanang yadnya.

2. Sapane kene mimitanya, Batara Brahma ne nguni, sedek katangkil mangraosang, yan wenten pacang ngrauhin, pakewehe tan sipi, mangdene nagane gempung, teked kadewatan, geseng manyeburin api, yan Sang Prabu, Janamejaya ngraosang.

3. Pacang ngwangun Sarpayadnya, merang ring ajine nguni, kadilan antuk Taksaka, mangdene sida mapulih, punika kayatnain, antuk Batara kapungkur, awinan kraosang, upayane ulih mangkin, mangde wenten, pacang manyangkalen yadnya.

4. Sedek Sang Anantaboga, irika sareng menangkil, Betara Brahma nguduang, mangdene Sang Naga bumi, madue putut ulih, istri Brahmana aukud, lanang baguse ngonyang, punika pacang kawidi, mangusanang, sarpayadnyane pungkuran.

5. Sampun tatas kapiragiyang, Sang Anantaboga raris, mantuk sampun sami budal, Sang Anataboga raris, manyimpen jeroning ati, apan madue putra sampun, asiki mapasengan, Sang Nagini kari alit, listu ayu, nongos di saptapatala.

6. Keto katatuannya kocap, pangraos Betara nguni, krana ada Sang Astika, kene mimitanya wiakti, wenten Brahmana luih, maparab Sang Jaratkaru, pagehing tapabrata, jenek di patapan nitik, teken tutur, nyaluk brata matrisandia.

7. Pageh teken pangandika, mawanan tan parabi, yan tuara patuh pesengan, tuara pacang ngalap rabi, keto purwanya nguni, kocap Sang Jaratkaru, sedek kalunta-lunta, mamargi mlali-lali, saget rauh, kaajatanastana.

34 [ 32 ]8. Di suunge tuara ada, pasaban jadma ngentasin, yan tan sang luihing tapa, pilih sida manekain, apan klintang sepi, kocap katatuanya ditu, selagan suarga neraka, patambunan pitra nganti, pagenahan, pacang nemu jele melah.

9. Saget ling kakantenang, pitrane pada paglanting, magantung moyag-oyagan, di ting petunge sami, ada bikul mangigit, taline tong bisa belur, pitrane paklemat, mamunyi pada pajerit, nagih tulung, ada mangeling mangarod.

10. Sambilang masesambatan, munyine nulame paling, buka tong kena tuptupang, ada ngarab jerit-jerit Sang Jaratkaru dadi, buka piwelas angrungu, saget ada kapiarsa, ucapan mangasih-asih, nagih tulung, Sang Jaratkaru kasambat.

11. Mangde ngelisang manyupat, Sang Jaratkaru pramangkin, makesiab kayune lantas, meling ring Ida Sang Aji, yeh pangaksine mijil, patambuas belus kucut, raris macingak munggah, kanten ajine manglanting, kauk-kauk, waluya tuara binanya.

12. "Jaratkaru pianak bapa, baya dija ene jani?", Sang Jaratkaru ngelisang, nyagjag raris nampekin, matur sambil nangis, "Titiang sampun Jaratkaru, punapi anggen titiang, nyupat Ida Sang Aji, mangde lutur, malane tan pagantulan".

13. Sang pitra raris manimbal, "Krana bapa buka jani, kasakitan kagela-gela, megantung kene manglanting, salahe mangemasin, bane tuara ngelah cucu, sangkal kemo enggalang, pagawenang kemo jani, mangde supat cucune mangentas".

14. Sang Jaratkaru manimbal, matur," Inggih kadi mangkin, titiang durung polih karma, awinan tan wenten polih, yan tan wenten satanding, pepasih titiange paut, Jaratkaru samapta, pilih titiang sida ngiring, ngambil somah, mapanauran manyupat".

15. Sang Pitra raris nimbal, "Kemo enggalang tuun jani, ka marcapada ulahang, mangde bapa supat gelis, bapa matujuhin, di saptapatala ruruh, ri Sang Anantaboga, ento sidayang jua padik, ada daa, Sang Jaratkaru adannya".

16. Sang Jaratkaru ngresepang, ring kayun raris mapamit, ka marcapada ngenggalang, tan ucapan sampun sami, paradesane

35 [ 33 ]kalih, bilang patapan di gunung, genah mangalih karma, masih tong ada kapanggih, mapesengan, Sang Jaratkaru samapta.

17. Lumbrah wretane ngucapang, yan reke Sang Naga bumi, madue putra mapasengan, Sang Jaratkaru sawiakti, ayu tuara nandingin, kocapan Sang Jaratkaru, pramangkin manyidayang, ka saptapatala, mamadik, Sang Antaboga saure tan panjang.

18. Wantah ngaturang pisan, kocap raris mabuncing, sregep saupakara, di saptapatala wiakti, genahe ngalap rabi, tan kocap sampun puput, pawarangane lantas, Sang Jaratkaru sang kalih, raris budal, mangungsi ka patapan.

19. Sampun sang kalih samapta, makurenan selami-lami, pada karenehan tresna, Sang Jaratkaru Nagini, kocap sampun garbini, wenten limang sasih sampun, durung inganan embas, kocap bu mara lingsir, dauh lima, sang Jaratkaru kocapan.

20. Sagetan merem-mereman, Sang Jaratkaru Nagini, masanding tong dadi belas, sarwi mameteking, Sang Jaratkaru arip, sada mangraos sang lesu, raris alon ngandika, Sang Jaratkaru Nagini, "Titiang ngemar, depang titiang masepsepan.

21. Anging i dewa elingang, tongosin titiang ne dini, eda pisan nundun titiang, apan tuara pisan dadi, jele puaranya dadi, Sang Nagini Jaratkaru, tutut tan purun pisan, piwal Sang Jaratkaru, ngraris sirep, pisan tan pangetan painganan.

22. Sampun dahat surup surya, naler tan wenten matangi, antuk kalesone dahat, Sang Jaratkaru Nagini, meling ring sang maniti, brata matrisandia, Sang Jaratkaru Nagini, manglaluang, raris mananginin raka.

23. Meling ring piteket raka, tuara ngicen mananginin, yen tanginin sing nya iwang, yen teka tuara tanginin, singnya iwangan malih, apan painganan sampun, manglekasang Trisandia, Sang Jaratkaru Nagini, manglaluang, raris mananginin raka.

24. Sang Jaratkaru magegas, matangi duka tan sipi, "Kenken krana nundun titiang?, suba ko titiang mamunyi, telesing tuara dadi, i dewa pacang manundun, dadi i dewa tulak, teken munyin titiang wiakti, baya tuduh, i dewa belas ring titiang.

36 [ 34 ]25. Tuah ambul ne painganan, i dewa pacang muponin, marabi tekening titiang, kapopanotahing Widi, ngawenang buka jani, kudiang mangelidin tuduh, nah jani titiang usan, masomah i dewa raris, kabudalang, mantuk ka saptapatala”.

26. Sang kabudalang tan panjang, matur wantah mamisinggih, Dening mangrawosang iwang, antuke tan mamisinggih, buka piwal ring rabi, Sang Nagini Jaratkaru, sampun reke mamarga, ka saptapatala dadi, kacarita tutug sasihan.

27. Sampun painganan embas, tan dumade raris mijil, rarene lanang manyupat, Sang pitara pramangkin, pegat taline raris, usan magantung di petung, apan sampun inganan, Sang Jaratkaru polih, naur utang, ring ajine kapidanda.

28. Sapunika katatuanya, sangkan kayang jani dadi, anggon sipta kaucapang, di jagate ajak sami, panaurane luih, teken i bapa ban cucu, apan to anggon nyupat, jelen i bapane dadi, mangde lutur, depang ambul to ucapan.

29. Kocapan di saptapatala, Sang Anantaboga wiakti, egar kayune manyingak, putune lanang bu mijil, bagus tuara nandingin, Sang Nagini Jaratkaru, antuke kraosang, astiti bakti ring rabi, purun mamiwal, pangandika raka.

30. Awinan malih matulak, ka saptapatala ngiring, tuara kengguh teken baya, Sang Anantaboga raris, ngandikayang pramangkin, ngawangun sapretekan putu, saha Widi widana, rarene kapapasihin, Sang Astika, dadi durmanggalan yadnya.

37 [ 35 ]PUH DURMA

1. Sapunika purwanya nguni ucapang, sangkana kayang jani, yen kalaning luas, masusupan di alas, di tegal di bete sripit, masih ucapang, Sang Astika kapuji.

2. Tuturanya mangde tuara kabancana, kagutil ban lelipi, apan Sang Astika, mula santanan naga, kalih polih miutangin, awinan usan, sarpayadnyane nguni.

3. Krana ada naga enu magantulan, kaucapang kayang jani, ento mangadakang, lelipine makejang, tekaning lelipi lidi, masih santanan Sang Naga paling cenik.

4. Ambul to baan midartayang ngungguhang, ne ada buin akikit, satua cecarangan, duk gumine nu rundah, tonden ada ratu siwi, kene purwanya, temben ratune nguni.

5. Ida Betara Wisnu waluya maraga, dadi ratu malinggih, di Medang Kayangan, kaucap mapesengan, sira Hiang Manu ne kasiwi, di desa Medang, Ida mangwangun sami.

6. Tatakrama tingkah ratune makejang, katami kayang jani, yan buatning sastra, Ida Bagawan Biasa, irika ngwetuang sami, kang midartayang, tekening tuuh bumi.

7. Uli irika tuuh gumine ngeka, makrana kayang jani, ada kaucapang, icake kawilangan, mangitungin tuuh gumi, uli di Medang, buat temuang nembenin.

8. Ida Hiang Manu kocap madue putra, nyeneng ratu siniwi, di negara Medang, waluya Sanghiang Smara, Ida tumurun ngraganin, Sang Kameswara, pasengane Sang Aji.

9. Ida Hiang Manu kocap madue putra, Betara Darma wiakti, tumurun waluya, dadi ratu di Medang, sangkan pesengane masih, Sang Darma Wangsa, di jagate siniwi.

38 [ 36 ]10. Sang Prabu Darmawangsa madue putra, nyeneng ratu siniwi, di negara Medang, waluya Sanghiang Smara, Ida tumurun ngraganin, Sang Kameswara, pesengane Sang Aji.

11. Prabu Kameswara kocap madue putra, Prabu Erlangga wiakti, mlinggih di Jawa, Mpu Pradan patirtayan, punika ugi nembenin, Agung ring Jawa, wuwus anyakrawati.

12. Prabu Erlangga masih madue putra, lanang-lanang kekalih, Prabu Jayabaya, pasengane luhuran, nyeneng ratu makakalih, Sang Prabu Jayasaba reke sang ari.

13. Kocap polih mawiadi mawanan yuda, rame mamati-mati, Sang Prabu Erlangga, mamateh boya sida, Prabu Jayabaya ugi, sreng maindah, tan ngiring kayun aji.

14. Awanane purun pralanggia mamindah, antuke sampun polih, mamati-matian, kaulane wetara, wenten siunan ne mati, yen mangiringang, kayun Ida Sang Aji.

15. Kapateh punapi polih i kaula, sampun mengemasin mati, ngiring pakayunan, sang kairing saget mapateh-petehan malih, boya polihan, i kaula miutangin.

16. Punika awanan prabu Jayabaya, kadi tulak tan ngiring, mapateh-matehan, Ida Prabu Erlangga, keweh mangraosin raris, ngaturin Ida, Mpu Pradah mangraosin.

17. Mangde sida pateh mapatut-patutan, Mpu Bradah pramangkin, mamargi ngarosang, mapaleh sang mayuda, Prabu Jayabaya ugi, naler mamindah ne kapagehang wiakti.

18. Kadi ature ring Sang Prabu Erlanggia, makadinipun meling, ring sesanan satia, bratane ring payudan, tan angitung sanak tuwi, lan kadang warga, punika ne kapindrih.

19. Ida Mpu Pradah klintang pisan duka, antuke tan sairing, Prabu Jayabaya, raris Ida Mpu Pradah, Kayun manemah pramangkin, yang tangiring, mapateh mangde radin.

20. Sang Prabu Jayabaya raris ngiringang, naler mangwidi, ring Ida Mpu Pradah, mangde ica nguripang, kawulane makweh mati, Ida Mpu Pradah, sueca wantah ngadianin.

21. Raris kapangandikayang manambunang, soroh bangkene sami, sampun kabecikang, punduhang makejang, matambun dadi abesik, wetara ada, bangke angan duang tali.

39 [ 37 ]22. Raris kadeleng antuk Ida Mpu Pradah, sami waluya urip, managih gaman ada ngeyagang lima, saling dengkik.

23. Raris kedeleng antuk Ida Mpu Pradah, sami waluya urip, managih gegaman ada ngeyagang lima, saling dengkikin pabikir, teken timpal, nagih siatang buin.

24. Sampun sami urip waluya makejang, kocap Sang Prabu kalih, sampun mangiringang, Raos Ida Mpu Bradah mapatut-patutan radin, Prabu Erlanggia, mamalihang negari.

25. Prabu Jayabaya sumiling ring Daha, kawuwus nyakrawati, Prabu Jayasaba, ring Kadiri ngwawa, makakalih nyakrawati, klintang wirya, kretane di negari.

26. Kocap Prabu Jayabaya madue putra, nyeneng ratu sumilih, di negara Daha, Sri Jayakatong sira, brasta ring paprangan wiakti, tan pasantana, pegate Sang Aji.

27. Prabu Jayasaba madue putra lanang, sira Aryeng Kadiri, pasengane kocap, malih madue putra, lanang pasengane wiakti, kocap sirarya, Kapakisan kapuji.

28. Punika ne kesah antuk sira Mada, saking bumi Kadiri, antuk pangwiweka, ka gumi Bali tiba, irika majeneng patih, Dalem ngwawa, negarane ring bali.

29. Ambulto baan ngucapang ngungguhang, bes liu yen wilangi, bagbag caritayang, sangkan depang bunteran, sok ne ada buin akikit, pawuwuh satua, pungkur anggon ngitungin.


40 [ 38 ]PUH PANGKUR

1. Kocap duk bala samare, di Pagutan isaknya wiakti, bau siu pitungatus, duk Sang konone rusak, isakanya reko siu pitungatus, teken selae tanggunya, duk rerege di Kadiri.

2. Isakanya ucapang, siu pitungatus nemlikur malih, duk ujan tanahe mungguh, isakanya siu, pitungatus kapatsasur, ken aukud duk bukit Penyune, kocap isakannya bu nampi.

3. Siu pitungatus petang dasa, patpat kaon Sakrane wiakti, isakanyane to ditu, sepa satus petang dasa, ken akutus dewata ring Telaga arung, Ida budal ka Sasak, maninggali gumi bali.

4. Isakanya siu pitungatus, seket ingetang kayang, duk Karangaseme uwug, isakanya kocap, sapa satus mandasa kuang aukud, duk Pagutan rusak, isakanya bu nampi.

5. Sapaa satus nemdasa, duk Prayane congah lantas mabalik, isakanya sapaa satus, nemdasa nem tanggunya, duk Manjeline, Calon Polo mangamuk, isakanya sapaa satus, nemdasa kutus bu nampi.

6. Kocap duk Ida dewata, ring sesana isakanyane bu nampi, siu pitungatus pitungdasa, duk Kalijagane mamandal, sedek isakanya sapaa, satus pitung dasa, pitu mabalik.

puput

windhu sancaya


41 ALIH BAHASA

GEGURITAN SARPAYADNYA

Oleh:
Windu Sancaya

43[ 40 ]GEGURITAN SARPAYADNYA

PUH DANGDANG

1. Juga ingin mengarang dalam keadaan sakit, lagu dangdang gula, pakai menceritakan, sadar akan perbuatan, berbulan-bulan bingung, memikirkan penyebab sakit, waktu malam diperbincangkan, tiga kali telah bangun, mengambil belum juga dapat, memikirkannya, melihat korban suci, sedu-sedan merasakan.

2. Jadi sakitnya semakin keras, menjalar, sebentar-sebentar kumat, berapa jenis obat dipergunakan, seperti tiada artinya, tak ada perubahan sedikitpun, pikiran pusing menahankan, tiba-tiba ngambek, pikiran tidak lagi hirau, membiarkan sekalian mati saja, karena terlampau berat menahan sakit.

3. Tidak juga mau terus mati, karena takdir, tidak diperkenankan Hyang Widhi, karena dosa yang besar, karena itu masih menderita, disiksa menahan sakit, tambahan lagi banyak godaan, membuat pikiran bingung, tak bisa disembunyikan,terlampau sulit, berapa macam nasihat, dipakai menghibur.

4. Tidak juga kurang sedikit pun, derita macam apa, dipakai melenyapkan, pikiran telah terlanjur, diliputi kebingungan,sukar dalam keadaan sakit mengarang, dengan ucapan Islam, samlilianan telu, lema? embe ade? nara ?, jari langan, ana no siberi ?-beri?, hanya itu yang diucapkan.

5. Asal mula ceritanya dulu, diceritakan, disusun dijelaskan,karena ada disebutkan, Yadnyasarpa dibangun, di Astina dahulu, begini asal-usulnya, asal mulanya dahulu, adalah seorang brahmana, bernama, Bagawan Samiti, melakukan bratatapa.

6. Beliau mempunyai seorang putera, bernama Sang Srenggi yang termasyur, saktinya wakbajra disebutkan, pergi ke surga sudah biasa, mempunyai seorang sahabat, namanya Sang

45 [ 41 ]Kresa, pembicaraannya sesuai, sama-sama boleh sering kesurga, tidak diceritakan, lalu disebutkan Bagawan Samiti,sedang melakukan monabrata.

7. Di pertapaan ada gunung sepi, dekat hutan, belum berapa lama, beliau melakukan brata, diceritakan Sang Prabu, di Astina Sang Parikesit, sedang pergi bersenang-senang, akan berburu, ke hutan di wilayah Astina, tiba-tiba ada, dilihat seekor kijang, dibidik dan dipanah.

8. Kijang itu kena dan lari, tidak bisa, mati seketika, Sang Prabu jadi penasaran, semuanya mengejar, masuk menyusup ke dalam hutan, pengiringnya berpencar, ada menuju ke barat,ada yang ke utara, mengikuti, jejak kijang yang lari, tak dapat ditemukan.

9. Kemudian tiba dipertapaan semuanya, para pengiring, dijumpai Bagawan Samiti sedang mamonabrata, merafalkan Sangh-yang Tutur, kemudian Sang Prabu Parikesit, bertanya pada Bagawan, "Entah ke mana larinya, kijang yang terpanah,barangkali ada, dilihat lari di sini, menuju pertapaan."

10. Konon beliau Bagawan Samiti, tak menyahut, masih monabrata. itulah sebabnya, hingga dua tiga kali, Sang Prabu Parikesit, bertanya kepada Begawan, juga tidak disahuti, Sang Prabu menjadi terlalu, amat marah, seperti ditakdirkan Tuhan, tiba-tiba ada terlihat.

11. Bangkai ular lidi yang busuk, terlentang, di samping pertapaan, Sang Prabu kemudian dengan segera, karena amarahnya keluar, bangkai ular itu diambil, dikalungkan pada Bagawan,digantungkan pada bahunya, Bagawan Samiti konon, tidak menghiraukan, masih mamonabrata dan memuja, Sang Prabu kemudian pulang.

12. Tidak diceritakan Sang Prabu di perjalanan, telah tiba, di Astina pura Bagawan Samiti diceritakan, masih juga berkalung,dengan bangkai ular lidi, hingga berbau busuk, ulatnya bermunculan, dagingnya hancur berserakan, masih juga, tetap menggelayut di bahunya, direbut lalat bergumpal.

13. Tidak diceritakan Bagawan Samiti, diceritakan, Sang Srenggi di surga, dengan diiringi Sang Kresa, sedang membicarakan

46 [ 42 ]kebenaran, sama-sama menyombongkan diri sakti, Sang Srenggi memuji, dirinya disebut, wakbajra tak ada tandingan,dan dijuluki, dibia caksu yang hebat, sakti tak ada menyamai.

14. Kemudian Sang Kresa menjawab, bersenda gurau, seperti mengejek, "Jangan engkau terlalu bangga, menyombongkan diri pintar sakti tak ada tandingan, mengapa dibiarkan ayahmu, di pertapaan berduka, bangkai u1ar busuk, bergelayut, di bahunya hingga sekarang, masih dikalungkan.

15. Prabu Parikesit yang mengalungkan, dosanya, diam tak berkata, sebab masih monabrata, tiba-tiba Sang Prabu, menanyakan kijang yang lari, begitu awal mulanya, hingga sekarang masih, ayahmu mamona, di pertapaan, berkalungkan bangkai ular." Sang Srenggi mendengarkan.

16. Kemudian seketika marah 1uar biasa, dan mengutuk, "Apalagi yang congkak, perbuatan Sang Prabu, semoga Sang Prabu, dimangsa naga Tilaksaka segera, dalam tujuh hari." Kemudian segera turun, ke dunia sebentar, dijumpai ayahnya masih, berkalung ular sebagai tali.

17. Kira-kira hampir selesai, me1akukan brata, sampai waktunya, Sang Srenggi berkata segera, dan menjelaskan, akan ulah Sang Parikesit, sudah dikutuknya, agar segera mengalami, dimangsa o1eh naga Taksaka, akan meninggal, dalam waktu tujuh hari, dari sejak kutukan dikeluarkan.

18. Terkejut Bagawan Samiti, mendengarkan, karena anaknya,tergesa-gesa mengeluarkan sapa, tak memikirkan akibatnya karena Sang Prabu memerintah, kemudian Bagawan, Samiti berkata, "Duh anakku mengapa, demikian, tindakanmu Sang Srenggi, sembarangan menge1uarkan kutuk.

19. Karena Sang Prabu memerintah, menguasai, se1uruh jagat, itulah sebabnya ayah memuja, karena milik Sang Prabu, untuk semua air suci, di mana ayah mengambilnya, juga milik Sang Prabu, itulah sebabnya ayah memuja, merafalkan, pemujaan pada Tuhan, mengukuhkan kepanditaan.

20. Tempat yang kita tempati setiap saat, siapa yang punya, juga Sang Prabu, sebab memang tidak kuasa, menandingi Sang Prabu, Walau bagaimana salahnya, harus dimaafkan , sebab

47 [ 43 ]beliau adalah tempat, setiap saat tempat berlindung, alangkah baiknya, batalkan sekarang juga anakku, kutukmu agar punah."

21. Sang Srenggi kemudian berkata lamban, "Ya bagaimana, saya harus berbuat terlanjur, sudah terlanjur kena kutuk, yang saya keluarkan, tak dapat lagi diubah sekarang, biarkan sekali-sekali, memang sudah terlanjur keluar, ucapan saya mengutuk, tak bisa diubah, wakbajra saya ampuh, dalam jangka tujuh hari.

22. Kalau tidak Sang Prabu sekarang ini, minta maaf, barangkali bisa terhapus, kutuk yang saya keluarkan." Kemudian Sang Guru, Bagawan Samiti segera, mohon kerelaan, pada Sang Prabu, agar mau membicarakan, minta maaf, sebagai yang diminta Sang Srenggi, agar kutuknya batal.

23. Konon Sang Prabu Parikesit, tetap pendirian, tak mau minta maaf, mengingat keagungannya, tak memberatkan hatinya, bersedia sekali menahan, bisa sang naga Taksaka, tak diucapkan sudah, Bagawan Samiti kembali, ke pertapaan, berembug dengan Sang Srenggi, diceritakan di istana.

24. Sang Prabu Parikesit segera, membicarakan, dengan para punggawa, tentang halnya kena kutuk, dimangsa Taksaka menjelang, dalam waktu tujuh hari mendatang, I Taksaka sakti, para punggawa berkata, serentak menyatakan akan berusaha, menjaga Sang Prabu Parikesit, dalam waktu tujuh hari.

25. Tidak dikatakan kemudian, segera, didirikan, gedung persembunyian, bertempat di tengah telaga, dikelilingi api berkobar-kobar, lengkap dengan senjata penjaga, genap di empat penjuru, konon Sang Prabu, bertempat dalam gedong, para punggawa, dan lagi para pendeta, melakukan puja astawa kehadapan Tuhan.

26. Tiap hari selalu siap siaga menjaga, diceritakan, ada disebutkan, pendeta sangat saktinya, terkenal sidimantra, tentang bisa ular utama, beliau bisa menawar, tidak terkatakan, Begawan Kasiapa, nama beliau, beliau kemudian, segera diberitahukan.


48 [ 44 ]27. Sesudah berjalan enam malam, diceritakan, sudah dekat, batas waktu kutuk itu besok, tujuh hari sudah, tiba-tiba di waktu malam, sudah hampir pagi, tujuh hari sudah, konon Begawan Kasiapa, sudah beliau, siap lalu berangkat, datang ke istana.

28. Tidak diceritakan di perjalanan, diceritakan, Sang Naga Taksaka, oleh karena sudah kira-kira, tiba waktunya, tujuh hari akan mematuk, Sang Prabu di Astina, karena kutuknya berbisa, agar dapat, wakbajranya Sang Srenggi, Sang Taksaka melaksanakan.

29. Kemudian segera berjalan, melayang-layang, menyerupai Brahmana, Pendeta Utama rupanya, bertongkat pohon beragu, berselempang dan bergenitri, sudah sampai di jalan, lalu bertemu, Bagawan Kasiapa, Sang Taksaka, cepat mengetahui keadaan, sudah dibayangkan.

30. Sang Naga Taksaka mendahului, lalu menyapa, "Ya Sang Kasiapa, hendak ke mana, perjalanan anda ? " Sang Kasiapa menjawab, "Aku ke negeri Astina, tujuannya akan membantu, menawar Sang Prabu, sebab beliau direncanakan oleh I Taksaka, hari ini mematuk, Sang Prabu di Astinia."

31. Sang Taksaka lalu segera, menyatakan diri, berkata menantang, "Akulah si Taksaka, akan mematuk Sang Prabu, di Astina sekarang juga, di sini kita pertaruhkan, kesaktianmu yang tersohor, menandingi I Taksaka, akan melawan, di sana ada orang sedang mengapak kayu, sekarang kujadikan abu."

32. Orang mengapak kayu itu lalu dihanguskan, kayu terbakar, oleh I Taksaka, tak sedikit pun tersisa, terbakar menjadi abu, dan pepohonan terbakar habis, ikut lebur jadi abu, tak ada ceritanya, Sang Naga Taksaka kemudian, memerintahkan, Bagawan Kasiapa agar, segera menawamya.

33. Bagawan Kasiapa dengan segera, memusatkan pikiran, dan dalam batin, kemudian dipandang sejenak, orang yang mengapak kayu tadi, tiba-tiba kembali ke ujudnya semula, seperti tidak tahu-menahu, dirinya pemah hangus, kemudian Taksaka, mohon maaf, mendadak merendahkan diri. mengaku kalah, pada Bagawan Kasiapa.


49 [ 45 ]34. Mohon kesudian bersahabat, pada Begawan Kasiapa Sang Duija, "Oh, Begawan Kasiapa, saya merasa telah kalah sama sekali atas kesaktian anda, sekarang saya hanya, minta maaf, agar terlaksana, dengan baik, kutukan Begawan Srenggi, yang berbatas tujuh hari.

35. Hamba menghaturkan persembahan, serba mulia, kemudian dikeluarkannya, mas, permata, intan berjatuhan, ada kira-kira sebakul, kemudian disampaikannya segera, pada Begawan Kasiapa, agar beliau kembali, lagi pulang ke pertapaan, agar jangan, menawar Sang Parikesit, di negeri Astina.

36. Karena memang sudah kutuk, sang wakbajra, tak bisa ditunda, akhirnya Begawan Kasiapa, timbul perasaannya, yang amat sangat pada mas manik, mau akhirnya kembali, menuju ke pertapaan, setelah mendapat mas, manik serba mulia, tak diceritakan, perjalanannya, telah tiba di pertapaan.

37. Sang Naga Taksaka dengan segera, membicarakan, jalan yang akan ditempuh, karena teramat sukar, tempat Sang Prabu, seperti tak ada jalan untuk menyelinap, sangat sukar sekali, apalagi waktu mendesak, batas waktu kutukan tersisa, hanya sehari, lagi pula matahari telah senja, agar jangan terburu
gelap.

38. Diceritakan ada seorang saudaranya, bertempat tinggal, di sapta patala, itulah yang dipakai perantara, agar dapat masuk, ke dalam tempat persembunyian, kemudian berganti rupa, menjadi seorang wiku, hanya dari pertapaan, membuktikan, bakti kepada Sang Parikesit, untuk berkunjung.

39. Membawa buah jambu lima biji, sebagai bukti, tanda hormat, telah terbungkus rapi, Sang Taksaka ada di dalamnya, berubah menjadi kecil, sebesar kuman, seperti tak kelihatan sama sekali, di pucuk jambunya, bersembunyi, sedemikian rupa, upayanya berhasil.

40. Konon Sang Prabu Parikesit, di istana, para pendeta, pertapa banyak menghadap ada mempersembahkan jambu, ada pula menghaturkan buah wani, salak, manggis dan duku, banyak yang datang, Sang Prabu kemudian bermusyawarah, tak berapa lama, sang surya telah condong, di atas gunung.


50 [ 46 ]41. Oleh karena batas waktu kutuknya tinggal sedikit, hanya sehari lagi, sampai terbenam matahari, lalu genap sudah tujuh hari, senang perasaan Sang Prabu, kemudian dipertimbangkan bersama, para resi, punggawa, semua menyampaikan pendapat, menyatakan setuju, kemudian datang, saudaranya Taksaka, sebagai pendeta.

42. Kemudian langsung menuju, ke dalam, pelataran tempat bersidang, Sang Prabu kemudian bersabda, "Oh, Sang Pendeta baru datang, dipersilahkan duduk." Diikutinya perintah beliau, kemudian berdatang sembah, "Ini saya menyampaikan, buah-buahan, jambu hanya lima buah, sebagai tanda bakti."

43. Sang Prabu menerimanya segera, diperintahkan, pelayan agar menaruh dengan baik, setelah ditaruh, kemudian Sang Prabu mengatakan, pada para resi, berhubung matahari sudah, akan terbenam sang para resi, dipersilahkan semuanya pulang, oleh Sang Prabu Parikesit, lalu semua mohon diri.

44 . Sang Prabu tidak ragu-ragu sebab, dikatakannya, matahari akan terbenam, keluarlah kata-kata angkuh, barangkali karena sudah takdir, keampuhan kutuk Sang Srenggi, agar bisa terbukti, lalu Sang Prabu, mau menikmati buah-buahan, memerintahkan, pada pelayan muda, agar diambilkan buahbuahan.

45. Jambu yang dipersembahkan paling akhir terlihat, yang dipersembahkan, oleh Sang Pendeta, itu yang diinginkan, sudah pula dipersembahkan, bertempatkan cerana emas berukir, jambu yang lima buah, Sang Prabu menerimanya, jambu yang paling besar, diinginkannya, baru dipegang kemudian dilihat, tahu-tahu ada terdapat.

46. Di Ujung jambunya berwarna merah kecil, tersembunyi, ada sebesar kuman, tetapi sinarnya berkilauan, ingatlah Sang Prabu, kemudian berkata mencemohkan, "Bencana apa kiranya ini, kecil bersinar, sinarnya berubah-ubah, barangkali engkau, I Taksaka bersembunyi di sini." Konon Sang Taksaka.

47. lngat pada dirinya kemudian, mengembalikan, berupa Taksaka, Sang Prabu lalu dipatuk, terbakar jadi abu, telah terwujud kutuknya lalu, Sang Taksaka lenyap, melayang ke angkasa, bersembunyi dalam mega, tak diceritakan, sudah berada di surga, diceritakan di Astina.

51 [ 47 ]48. Gemparlah di Istana semua menangis, berkeliaran, ada menjatuhkan, diri ada berbaring di tanah, ada mau mengamuk, ada berkata-kata sambil menangis, kata-kata yang menyatakan, kebaikan Sang Prabu, terhadap dirinya yang nista, tak berguna, sekali-sekali dengan sembunyi, saya diperintahkan.

49. Di waktu tidur asyik menghitung, setiap hadiah yang diberi, sambil asyik, diperlakukan seadanya, yang lain berkata, aku berani, sumpah bahwa saya pernah dipanggil ke tempat tidur, setelah tiba, di tempat tidur mengelus kaki, Sang Prabu memberiku, sesuatu yang membahagiakan.

50. Hanya itu yang diceritakan di sini, keadaan, seisi istana, diceritakan Sang Prabu yang tiada, telah selesai dibangun, peralatan upacara Sang Prabu, disucikan sebagaimana layaknya upacara selesai. Sang Prabu Parikesit telah berputra seorang laki, masih kecil, amat tampan.

51. Diceritakan putranya tersebut, bernama, Sang Janamejaya, setelah lama tiba saatnya, diangkat menjadi raja, menggantikan ayahnya, memerintah di Astina, bergelar Sang Prabu, Janamejaya sakti tak ada tandingan, berpegang pada kebenaran, dan teguh pada bratayadnya.

52. Keadaan negeri aman tenteram sejahtera, setiap hari, selalu bersuka ria, orang-orang yang dulunya, congkak dan jahat, segera menjadi baik, berbakti melaksanakan kewajiban, tak ada musuh, apabila ada raja-raja, yang berani menentang, segera ditaklukkan, untuk mengakui Astina.

53. Hanya ada satu raja yang dihormati, termasyur, di Astina, kerajaannya megah, sepatutnya memang berkuasa, di atas bumi, sebagai pusat, para raja, tak ada lain diucapkan, melakukan kurban suci, untuk kesejahteraan dunia, untuk masa yang akan datang.


52 [ 48 ]PUH PANGKUR

1. Diceritakan di Astina, kemasyuran Sang Prabu tak ada bandingannya, ada lagi yang diceritakan, tentang hal menuntut pelajaran, ada brahmana, di Ayodia, tersohor di pertapaan, melaksanakan yoga semadi.

2. Bernama Begawan Weda, murid dari Begawan Domia, Begawan Weda yang sempurna, mempunyai murid, yang amat hormat, bernama Sang Utangka, selalu ada di pertapaan.

3. Sang Utangka memohon, agar ia diperintahkan untuk memberi sesuatu, sebagai tanda baktinya, tapi Begawan Weda tak mau, menerima permohonan, persembahan tersebut, tetapi Sang Utangka sabar menunggu, Sang Begawan Weda di pertapaan, untuk mempersiapkan bunga-bunga.

4. Tidak disangka kemudian, Prabu Posia di Ayodia bertahta, membuat kurban suci mendatangkan, Begawan Weda, bersamaan permintaan tersebut datang, Prabu Janmejaya, juga bermaksud mendatangkan Sang Resi.

5. Begawan Weda, menyampaikan pada Sang Utangka, tentang semua tanaman, agar Sang Utangka memperhatikannya, tak diceritakan Begawan Weda sang guru, sudah berangkat, Sang Utangka menggantikan.

6. Memeriksa pertapaan, semua tanaman diperiksanya, Sang Guru Patni diceritakan, timbul pikirannya berahi, ingin mengajak tidur, dengan Sang Utangka, akan tetapi ditolaknya.

7. Sang Utangka selalu menolak, karena tidak berani sama sekali pada Sang Guru, Guru Patni membenarkan, tetapi dalam hatinya, amat marah, tetapi disembunyikannya, Begawan Weda telah kembali, ke pertapaan.

8. Berjumpa denga muridnya, Sang Utangka amat hormat,
Begawan Weda gurunya, melihat tanaman, serta subur setelah

53 [ 49 ]diperiksa, Sang Utangka kemudian, berkata pada Sang Begawan Weda.

9. "Hamba mohon maaf, agar ada bukti hamba berguru, sebagai persembahan ke hadapan Begawan, karena hamba bermaksud pulang." Sang Utangka, ujar Begawan Weda, Sang Utangka diperintahkan, agar mohon pada Sang Guru Patni (istri Begawan Weda).

10. Agar benar-benar dilaksanakan, segala yang diperintahkan Sang Guru Patni, Sang Utangka tak berani menolak, segera memohon, kepada Sang Guru Patni apa pun yang diinginkannya, sebagai persembahan, Sang Guru Patni menyetujui.

11. Tetapi terlalu dicari-cari, ingat akan peristiwa sebelumnya, akhirnya Sang Utangka diperintahkan, dalam waktu empat hari, karena Sang Guru Patni tertimpa bencana, kotor kain, dan akan melakukan pembersihan.

12. Agar Sang Utangka pergi, ke Ayodia menghadap Sang Sawitri, istri dari Sang Prabu, Pusia yang dikatakan, memiliki busana serta anting-anting matahari, itu hendaknya diminta, pada Dewi Sawitri.

13. Akan dipakai busana, oleh Sang Guru Patni bila mandi, karena diceritakan bila, memakai busana kundala, akan menghilangkan segala noda seumur hidup, itulah sebabnya, Sang Utangka, diharapkan sekali.

14. Sang Utangka tak menolak, menuruti kehendak Sang Guru Patni, tetapi dalam hatinya berkata, sangatlah susah, sebab negeri Ayodia terkenal, jauhnya tak terkira, perjalanan selama dua bulan.

15. Bagaimana caranya, agar dalam waktu empat hari tiba kembali, karena teramat bakti pada guru, Sang Utangka berjalan juga, pada Begawan Weda ia memberitahukan, menjelaskan semuanya, Begawan Weda membenarkan.

16. Kemudian mohon diri, Sang Utangka berjalan sambil sedih, tapi dalam hatinya tak berani, yakin pasti bisa, karena perbuatan bakti pada guru, berjalan terlunta-lunta, tak ada yang menyertai.

54 [ 50 ]17. Melintasi hutan lebat, menaiki gunung menuruni lembah jurang yang amat sulit, tiba-tiba sampai, di tegalan yang luas, dilihatnya seorang gembala lembu, orang tua ubanan, dengan sabit dan topi.

18. Kemudian ia mendekati, dan berkata, "Paman ingin bertanya, kamu hendak pergi ke mana", tergesa-gesa sekali ?" Begawan Utangka menjawab dengan halus, "Kasihan juga kiranya Paman menanyai diri saya.

19. "Saya sedang ke Ayodia, menghadap Sang Sawitri, diberi tempo oleh Sang Guru, agar dalam waktu empat hari, kembali lagi ke pertapaan, susah sekali saya Paman." Orang tua itu berkata.

20. "Kalau kamu ingin segera, dalam empat hari di perjalanan, ambillah tahi lembu ini, makan sebagai bekal di jalan, dan kencingnya minum untuk bekal, agar kamu bisa segera, sampai di negeri Ayodia."

21. Sang Utangka tak menolak, segera tahi lembu itu, dimakannya dan kencingnya, juga diminumnya, setelah selesai, tak berapa lama, tibalah di negeri Ayodia.

22. Segera memasuki halaman kerajaan, saat itu Prabu Posia sedang dihadap, Sang Utangka kemudian berkata, dipersilahkan masuk, menghadap Sang Sawitri tentang diutusnya, untuk minta kundala, atas permintaan Sang Guru Patni.

23. Dibatasi empat hari, agar Sang Utangka kembali lagi, ke pertapaan, mempersembahkan kundala, karena persucian Sang Guru Patni tiba, dalam waktu empat hari, Sang Prabu lalu mempersilahkan.

24. Sang Utangka kemudian, masuk kerajaan sendirian, dan berkata dalam hati, semoga berhasil, perjalanan melaksanakan tugas Sang Guru, untuk mendapatkan kundala, busana Sang Sawitri.

25. Setelah tiba di dalam istana, Sang Utangka, diceritakan Sang Sawitri, karena memang seorang istri yang utama, dan amat setia, tak bisa dipengaruhi oleh noda, itulah sebabnya Sang Utangka, tak bisa melihatnya.


55 [ 51 ]26. Sang Utangka kembali lagi, ke halaman kerajaan segera, menghadap pada Sang Prabu, menceritakan, tentang Sang Utangka, tak bisa berbuat apa, tak bisa melihat, Sang Sawitri di istana.

27. Sang Prabu kemudian berkata, "Barangkali Bagawan belum mandi, sebaiknya bersihkan diri dahulu, karena orang yang melakukan patibrata, tak bisa dipengaruhi oleh segala yang kotor." Sang Utangka kemudian pergi, mandi dengan air hening, bersih.

28. Setelah itu kembali lagi, ke halaman minta izin, ke istana, Sang Prabu, Posia kemudian berkata, "Ida Gede Sang Utangka mengikuti ?” Kemudian dilihatnya, Dewi Sawitri sedang duduk.

29. Sang Utangka mendekati, kemudian berkata, "Ya, Dewi Sawitri silahkan, rela kiranya pada hamba, bersedia untuk datang kemari, tapi maafkanlah, hamba minta kundala manik.

30. Guna hamba pakai bukti, persembahan pada Sang Guru Patni." Sang Sawitri telah memberikan, dan diterima, oleh Sang Utangka, Sang Utangka segera mohon pamit, kembali menghadap Prabu Posia, kemudian pergi.

31. Setelah mendekat Sang Utangka, berkata, "Ya, Sang Prabu, hamba mohon permisi, segera akan kembali, karena telah tercapai, dan karena batas waktu hanya empat hari, kembali ke pertapaan." Sang Prabu kemudian berkata.

32. "Baiklah Bagawan, sebentar, hamba telah mempersiapkan, agar bersantap di sini terlebih dahulu." Sang Utangka menunggu, kemudian datang hidangan, lengkap dengan peralatannya, Sang Utangka menghadapi.

33. Setelah dilihat, ternyata dihidangkan nasi basi, nasi sisa kemarin, Sang Utangka kemudian timbul, niatnya menentang, dan berkata, "Mengapa Sang Prabu, menyuguhkan Sang Pendeta, bersantap dengan nasi sisa kemarin.


56 [ 52 ]34. Sebab sama sekali tidak dibenarkan, Sang Pendeta bersantap nasi yang sudah basi, semoga Sang Prabu, buta tak bisa melihat, dan marah sekali.

35. "Mengapa Begawan mengutukku, terlampau menuruti perasaan, menuduh hamba menghidangkan, dengan yang tidak utama, nasi basi sesungguhnya tidak benar, karena Sang Pendeta, akan segera kembali.

36. Itu sebab hamba segera, mempersiapkan, agar cepat, bila memasak lebih dulu, tentu akan lama menanti, apalagi perjalanan anda, kembali ke pertapaan, hanya empat hari.

37. Karena anda telah mengutuk, orang yang tak punya salah." Sang Prabu Posia tidak takut, membalas dengan kutukan, "Semoga anda mengalami, bencana di jalan, oleh Sang Taksaka!"

38. Begawan Utangka kemudian, minta maaf, karena memang terlalu tergesa-gesa, mengutuk Sang Prabu, segera mengaku salah, minta maaf sebesar-besarnya pada Sang Prabu, dan sanggup menghilangkan kutukan sekarang juga.

39. Sempurna, tak berbekas sama sekali, kemudian segera memusatkan pikiran, hilanglah kutukan Sang Begawan, segera Prabu Posia, kembali ke keadaan semula, tak berbekas buta, karena Sang Pendeta sakti.

40. Begawan Utangka, minta segera, dibersihkan dari kutuk Sang Prabu, kutukan yang ditujukan padanya, agar dibersihkan seperti yang dilakukannya pada Sang Prabu, segera kutukan itu hilang, agar tak bersisa.

41. Demikian Sang Utangka, minta dikabulkan, Sang Prabu Posia berkata, mengatakan tidak bisa, sebab Sang Brahmana keampuhan, ketajaman ada dalam kata, sedangkan satria, ketajaman ada dalam hati.

42. Itulah sebabnya dikatakan, tak akan bisa hilang semua kutukan, Sang Utangka tetap akan mengalami, bencana di jalan, kutukan itu akan luntur, Sang Utangka akan dapat, mempersembahkan kundala manik.

43. Sang Utangka kemudian pulang, tak diceritakan di jalan, Sang Prabu Posia telah kembali, seperti semula, Begawan Utangka


57 [ 53 ]telah, melewati perbatasan,jalannya lurus tak menoleh.

44. Tiba di tegalan yang luas, Sang Utangka berjalan dengan keringat mengalir deras, panas membara seperti dibakar, akibat pengaruh kutukan, tiba-tiba saja ada pancoran dilihatnya, Sang Utangka berhenti, dan segera mandi.

45. Kundalanya selalu diingat, diletakkan di dekat dia mandi, baru saja mencuci muka, dan mandi membersihkan diri, tiba-tiba benda menyerupai dewa datang, mendekati kundala, barangkali akan mandi juga.

46. Sang Utangka tak menyangka, tiba-tiba ia merasa tertipu, kundala manik telah, diambilnya dan dilarikan, kemudian bagai nyala naga Taksaka, cahayanya di langit, melarikan kundala manik.

47. Betapa terkejutnya Sang Utangka, segera ia mengikuti jejak naga Taksaka, ke mana pun larinya, akan tetap dicari, naga Taksaka segera menyusup, ke dalam gua bersembunyi, dalam gua sepi.

48. Diceritakan Sang Utangka, masih terlunta-lunta mengejar, luar biasa marahnya, tetapi masih tetap berharap, untuk mengembalikan kundalanya karena, akan dipergunakan sebagai persembahan, kepada Sang Guru Patni.

49. Sampai ke saptapatala, Sang Utangka terus mencari, kemudian dilihatnya, dua orang gadis, sedang menenun benang hitam dan putih, Sang Utangka bertanya, ke mana larinya Sang Taksaka.

50. Tetapi tidak diketahui tempatnya, kemudian dilihatnya lagi anak kecil, berkumpul enam orang, masing-masing memutar cakra, Sang Utangka kemudian bertanya dengan serius, tetapi mereka juga tak tahu tempatnya, ada lagi dijumpai.

51. Orang tua menuntun kuda, orang tua itu memberi petunjuk, bertanya dengan suara lembut, "Sekarang Sang Utangka, kalau ingin bisa bertemu, Sang Taksaka yang melarikan, kundala manik.

52. Pakailah pantat kuda ini, tiuplah, sampai keluar asap, mengasapi I Taksaka, dalam gua, ia akan merasa pengap dan akhirnya keluar, menyerahkan kundala." Sang Utangka menuruti.


58 [ 54 ]53. Kemudian segera mendekatkan bibir, ditiupnya pantat kuda, agar keluar asap, mengasapi Sang Taksaka, di dalam gua Sang Taksaka tidak tahan, sesak napas di dalam gua, kemudian keluar.

54. Dilihat oleh Sang Utangka, menyerahkan kundala dan diambil, dan diterima dalam keadaan baik, Sang Utangka, teringat pada batas waktu yang diberikan, yaitu empat hari, agar tiba segera.

55. Lalu orang tua itu, yang menggembalakan kuda tersebut rela mengajarkan, "Kalau ingin segera tiba, di negara Ayodia, naiklah ke punggung kuda ini, segera akan tiba di Ayodia, Sang Utangka menuruti.

56. Kuda itu diambilnya, dinaikinya segera tahu-tahu, sudah tiba di Ayodia, Sang Utangka mempersembahkan, kundala itu pada Sang Guru Patni, telah, diterima dengan amat bahagia, hati Sang Guru Patni.

57. Dan berkata, "Semoga, Sang Utangka mendapatkan ilmu pengetahuan yang utama." Sang Utangka kemudian berkata, minta izin untuk pulang, karena persembahan kepada guru telah disampaikan, Sang Guru Patni, telah melakukan pembersihan diri.

58. Sang Utangka kemudian pulang, dan menghadap pada Begawan Weda, menceritakan tentang keberhasilannya, telah memperoleh kundala, sebagai bukti persembahan kepada guru, Begawan Weda berkata, memberikan petunjuk-petunjuk.

59. Tentang segala sesuatu yang dialami di jalan, Sang Utangka diberitahukan, yang dijumpai di jalan, yang menyebabkan, perjalanan Sang Utangka sampai, dalam waktu empat hari, dalam mencari kundala manik.

60. Lembu tersebut diceritakan, Sang Erawana, yang mengendarai, Betara Indra yang suci, dikatakan, anak kecil enam orang yang memutar cakra, itu Sadretu namanya, dua orang gadis yang ditemui.

61. Sehari-hari kerjanya menenun, benang hitam dan benang putih, merupakan simbul dari, Sang Dasa dan Sang Widasa, kuda yang mengeluarkan asap, namanya Sang Pancajania, yang menunggangi adalah Sang Hyang Agni.


59 [ 55 ]62. Bagawan Weda berdoa, agar Sang Utangka bisa memperoleh, Kundala manik yang terkenal, sebagai persembahan, pada Sang Guru Patni, karena telah cukup, kesetiaan Sang Utangka, dalam berguru.

63. Begawan Weda kemudian menganugrahkan, pada muridnya, "Smoga anakku mendapatkan, kebahagiaan, keselamatan serta sidi mantra." Sang Utangka menghormat dan minta izin untuk pulang, Begawan Weda mempersilahkan, tak diceritakan di jalan.

64. Begawan Utangka, telah tiba di Astina, keadaan di Astina diceritakan, Prabu Janamejaya, sedang dihadap oleh para wiku, dan para manca punggawa, berjejal di halaman istana dengan rapi.

65. Baru saja berhasil mengalahkan negeri, Taksila yang diserang dihancurkan, lalu Begawan Utangka terus menuju, ke halaman istam, akan menghadap Sang Prabu, karena baru saja, menaklukan negeri besar.

66. Kemudian Begawan Utangka, diminta untuk duduk ke depan, Sang Utangka telah duduk di depan, duduk bersama-sama, Bagawan Utangka berkata dalam hati, ingat pada I Taksaka, sebagai musuh besar.

67. Hasratnya ingin membalas, agar I Taksaka bisa mati, karena dosanya membencanai dahulu, melarikan kundala,Begawan Utangka segera berkata, pada Sang Jananejaya, seperti seorang prajurit.

68. Berkata sambil menyembah, "Ya, Sang Prabu, tak henti-hentinya, ketajuban hamba mendengar, kebesaran Sang Prabu, berani terhadap musuh, setiap yang bermaksud berani, semua raja-raja.

69. Semua telah dikalahkan, apa pun bahaya dari raja yang ingin menandingi, kesaktian Sang Prabu, yang bertahta di Astina." lalu disampaikan kepada para mpu, yang diperintahkan, semua setuju.

70. Begawan Utangka kemudian, mengeluarkan suatu siasat, agar terlaksana niatnya, pada Sang Naga Taksaka, agar mati menerjuni api besar, dalam belanga yang mendidih, Begawan Utangka.


60 [ 56 ]71. Berkata memberanikan diri, "Ya, Sang Prabu, sekarang, kesaktian baginda sudah termasyur, tetapi ada hal yang luput dari perhatian, musuh yang amat berbahaya, rupanya tak pernah diperhitungkan.

72. Hendaklah dibicarakan, agar dapat kiranya baginda menaklukkan." Sang Prabu kemudian berkata, "Coba katakan, Begawan, mana yang belum kutaklukkan, saya bisa melakukannya, menyerang dan mengalahkan.

73. Agar hancur lebur, segeralah katakan!" Sang Utangka berkata lagi, "Ya baginda, dengarlah, begini mulanya, ayahanda baginda, yang telah berpulang.

74. Adapun penyebab wafatnya beliau, karena naga Taksaka yang mematuknya." Sang Prabu terkejut dalam hati, segera memerintahkan, pada para resi punggawa, jika memang ayahnya, yang dahulu meninggal, karena perbuatan naga Taksaka menggigit.

75. Para resi punggawa, semuanya membenarkan, dan berkata pada Sang Prabu, "Memang benar demikian." Prabu Janemejaya seketika itu timbul, rasa marahnya, agar bisa membalas dendam.

76. Kemudian minta pertimbangan, pada para resi tentang pelaksanaan, barangkali ada tercantum dalam peraturan, untuk melaksanakan Sarpayadnya, para resi segera berkata, "Ya, memang ada dicantumkan, dalam pustaka suci.

77. Lengkap dengan weda-wedanya, serta tata cara upacaranya, tentang weda dicantumkan, seperti dikatakan, yang berhak melaksanakan weda, adalah Brahmana, Bujangga pun berhak pula.

78. Jika Brahmana Wang Bang, atau Brahmana Mambang tidak diperbolehkan, melakukan Weda sebagaimana tercantum, memang belum pernah sama sekali, raja yang pernah mempersiapkan melaksanakan, Sarpayadnya tersebut, sebab terlalu besar."

79. Sang Prabu Janamejaya, kemauannya agar terlaksana juga, segera diperintahkan, tentang maksudnya, pada para menteri dan para punggawa, mempersiapkan segala keperluan, peralatan upacara.


61 [ 57 ]80. Yang diminta, menghadapi atau melaksanakan upacara korban empat orang, yang masing-masing namanya, telah terkenal, seperti Begawan Canda Bargawa yang pertama, kemudian Begawan Kosa Udgata, juga mengikuti.

81. Begawan Janma Nikunda, beliau juga turut melaksanakan, ada lagi, di antara empat orang Begawan, yaitu Begawan Jioti Singalambayun, semuanya Begawan Biasa yang mempunyai
murid.

82. Telah siap, tak diceritakan tentang para resi, rakyat seluruh negeri, telah, membuat tempat upacara korban suci, di batas desa mengarah ke barat daya, luasnya seribu depa, dikelilingi oleh ladang-ladang.

83. Ketika rakyat berkumpul, bekerja, dipimpin oleh punggawa, tiba-tiba sabda dari langit, tak dibenarkan rakyat mengerjakan, hanya brahmanalah yang diperkenankan mengukur, bila hendak membangun tempat upacara, agar segera diganti.

84. Agar brahmana yang mengukur, juga brahmana yang melarangnya, sehingga suatu upacara kurban bisa batal, hanya itu yang bisa diucapkan, segera para brahmana mengukur, ternpat upacara, dilakukan, sebagai nyanyian hingga kini.

85. Telah selesai semua persia pan, di tern pat upacara telah lengkap dan siap semuanya untuk dilaksanakan, sudah tiba saatnya, hari untuk melakukan kurban suci, para mentri punggawa lengkap sudah, duduk di tempat upacara, begitu pula para
resi.

86. Sang Prabu Janamejaya, dipersilakan memasuki upacara yang telah siap, bercahaya, seperti di surga saja layaknya, karena busananya yang bercahaya, banyak jika diucapkan, dijelaskan di sini.

87. Telah dipersilakan, para resi untuk duduk, mengucapkan weda-weda, duduk di empat penjuru, yang memimpin, Begawan Canda Bargawa, Begawan Kosa Udgata, duduk di dekatnya.

88. Begawan Janma Nikunda, telah pula duduk di sana, dan yang paling akhir, duduk bersama, Begawan Jioti Singalambayun, telah memimpin, Begawan Biasa duduk diiringi oleh keempat pendeta.

62 [ 58 ]89. Beliau sebagai lautnya weda, suara weda tidak putus-putusnya, gemerincing suaranya menyentuh, Sanghyang Agni membara, dalam belanga berkobar-kobar, minyak arak tak putus-putusnya, untuk dituangkan pada api.

90. Wama api berbcda-beda, buas menimbulkan rasa ngeri, diceritakan naga-naga telah, berjatuhan di atas belanga, bergerombol mereka jatuh, ada yang masih di perjalanan, di udara melayang.

91. Ada yang berjumlah seratus hingga dua ratus sekaligus, mati tercebur dalam api, tetapi Sang Taksaka masih, tinggal di kedewatan, didampingi oleh Batara Satakratu, sukar untuk dilukiskan, karena Sang Taksaka merasa iri.

92. lngin turun melayang, ke luar ingin menjatuhkan diri pada api, ekornya lalu ditangkap, oleh Batara Indra, diikatkan pada ujung kainnya, agar tak dapat, mencebur ke dalam api.

93. Tak diceritakan Sang Taksaka, diceritakan para resi, telah diperintahkan oleh, Prabu Janamejaya, agar mengerahkan seluruh keutamaan weda, karena I Taksaka, tak tampak juga batang hidungnya.

94. Begawan Canda Bargawa, segera meneucapkan Reg Weda, diiringi dengan Sarna Weda, dan Atarwa Weda, Yajur Weda semuanya diucapkan oleh, ketiganya, sementara api kian menjadi-jadi.

95. Sang Naga Taksaka, bagaikan ditarik-tarik hatinya, sangat ingin menceburkan diri, dalam api yang berkobar, Betara Indra telah melarangnya untuk turun, namun Sang Taksaka keras sekali niatnya, lari hendak menerjuni api.

96. Sanghyang lndra dilarikannya, ditarik-tarik, karena ekornya terikat, di ujung kainnya , kemudian, dilepaskan dan Sang Naga Taksaka, laju melayang di langit, akan menerjuni api.

97. Betara Indra amat susah, memintanya untuk kembali lagi, Sang Naga Taksaka agar pulang, batal menerjuni api dalam belanga, tetapi tak bisa Sang Naga Taksaka kembali, diceritakan ada seorang brahmana, masih muda dan baru berangkat dewasa.

63 [ 59 ]98. Namanya Sang Astika, merupakan cucu dari saudaranya, Sang Taksaka, tampan tak ada tandingan, lagi pula disayang oleh Sang Prabu, sebagai sahabat; yang tak bisa dipisahkan walau sekejap.

99. Sang Prabu sangat mencintainya, disenangi serta dikagumi, tak pernah dilupakan dalam hati, segala yang diinginkan Sang Astika, selalu dikabulkan, tak pernah terlambat, karena terlalu sayangnya, sebagai abdi yang pandai.

100. ltulah yang dipakai saluran, oleh Betara lndra, seketika, datang kata-kata yang halus, "Wahai engkau Sang Astika, pikirkanlah keluargamu yang banyak, minta turun ke bumi, menerjuni api.

101. Seperti Sang Taksaka, telah lari turun ke bumi, jemputlah ia anakku, hentikanlah segera, Sarpayadnya ini!" Sang Astika berkata, "Ya, hamba dapat, menghentikannya sekarang juga.

102. Janganlah khawatir, saya akan menghadap Sang Prabu sekarang, memohon dengan sangat, agar dihentikan, pelaksanaan Sarpayadnya di Astina.Diceritakan Sang Taksaka, telah berjalan.

103. Menuju Astina, tak diceritakan di jalan, telah tiba di tempat upacara, apinya luar biasa, dalam belanga menjilat-jilat, banyak naga bertumpuk-tumpuk, di angkasa melayang-layang.

104. Sang Taksaka, sudah segera hendak terjun, api yang berkobar, Sang Astika segera, mendekati berkata pada Sang Prabu, "Oh, Sang Prabu dengarlah, kata hamba ini,

105. "Hamba minta maaf, berkenan kiranya baginda, menjadikan hamba rakyat, bila dipenuhi, permintaan hamba, hentikanlah baginda, pelaksanaan upacara ini, lihatlah hamba yang minta belas kasihan.

106. Apakah jadinya hamba, bila korban ular (sarpayadnya) ini diteruskan, cobalah lihat baginda, Sang Taksaka berhasrat, akan turun menerjuni api yang berkobar, karena Sang Taksaka adalah leluhur hamba, bersaudara dekat sekali.

107. Dengan kakek hamba, Sang Antaboga di saptabumi, itulah sebabnya, hamba berani, memohon agar dihentikan, sarpayadnya ini; karena, telah banyak yang mati.


64 [ 60 ]108. Bagaimana penderitaan sanak keluarga hamba, jatuh ke dalam api dan hangus seketika." Sang Prabu, membenarkan Sang Astika, sekarang seketika itu juga timbul niatnya, menghentikan para resi yang berweda, yang menghadapi upacara.

109. Para resi, segera menghentikan wedanya, hilang kobaran api, redup tak bercahaya, sebab tak disertai weda utama, diceritakan Sang Taksaka, telah kern bali ke surga.

110. Naga-naga yang lain, telah kembali, kecuali yang telah mati, ke Nagaloka kembali, menuju ke tempatnya masing-masing, tak diceritakan di Nagaloka, Sang Prabu, Janamejaya, masih dalam penghadapan.

111. Kepada para resi telah, dipersembahkan mas manik, serta uang, dan makanan aswameda, pakaian selengkapnya, selesai, semuanya kembali pulang, ada yang Iangsung ke pertaflaan.

112. Sang Janamejaya, kemudian pulang diiringi oleh Sang Astika, ke istana, dan tiba di istana, di tempat upacara telah selesai, para mentri dan punggawa, telah pula kembali.

113. Diceritakan eli istana, kegembiraan tak ada taranya, orangorang di istana, setiap hari bergembira, seperti tak ada duka, Prabu Janamejaya, raja yang muda.

65 [ 61 ]PUH SINOM

1. Begitulah cerita tentang, sarpayadnya dahulu kala, Sang Astika menghentikan, maka dari sekarang, tak ada lagi kurban itu, karena sudah kehendak Tuhan, membuat agar ada, Sang Astika yang dipuji, diberi tugas, menghentikan upacara.

2. Adanya kurban ular (sarpayadnya) itu begini pada mulanya, Betara Brahma dahulu, sedang dihadap membicarakan, bila ada yang datang, kesusahannya bukan main, agar para naga binasa, hingga ke kedewatan, hangus jatuh di api, bila Sang Prabu, Janamejaya membicarakan.

3. Akan melaksanakan korban ular, sakit hati karena ayahnya dulu, disembur oleh Taksaka, agar dapat membalas, itu yang ditakutkan, oleh para betara di kemudian hari, itulah sebabnya dibicarakan, upaya dari sekarang, agar ada, yang akan membatalkan korban itu.

4. Ketika Sang Anantaboga, di sana ikut hadir, Betara Brahma mengharapkan, agar Sang Anantaboga, mempunyai seorang cucu dari, seorang wanita brahmana, cucu laki yang amat tampan, itu yan diharapkan, membatalkan, korban ular di kemudian hari.

5. Sudah jelas didengar, Sang Anantaboga lalu, pulang, juga yang lain, Sang Anantaboga kemudian, menyimpan di dalam hati, karena telah mempunyai seorang putri, seorang bemarna, Sang Nagini, masih kecil, sangat cantik, tinggal di saptapatala.

6. Begini konon ceritanya, perembugan para betara dahulu, karena ada Sang Astika begini ceritanya, ada seorang brahmana utama, bemama Sang Jaratkaru, taat melakukan tapabrata, tinggal di pertapaan, taat, pada ajaran kebenaran, melaksanakan brata Trisandia.


66 [ 62 ]7. Teguh pada kata-katanya, sebabnya tak beristri, bila namanya tidak sama, tak akan mengambil istri, begitu ceritanya, diceritakan Sang Jaratkaru, sedang terlunta-lunta, berjalan tak tahu arah, akhirnya tiba, di Ayatanastana.

8. Di tempat yang sunyi tak ada, orang yang berani lewat, jika tidak seorang pertapa utama, tak akan berani mendatangi, karena terlalu sepi, konon tempat itu, merupakan batas sorga neraka, tempat para roh menanti, penempatan, dapat sorga atau neraka.

9. Tiba-tiba ada didengarnya tangis, roh-roh bergantungan, bergantung kian kemari, pada bambu betung, dan tikus-tikus menggigit, tali penggantung tapi dak putus, roh-roh menggeliat, berkata dengan menjerit, minta tolong, ada yang menangis menyayat hati.

10. Sambil menyebut-nyebut, suaranya tak menentu, seperti tak bisa ditutup, ada menjerit melengking, Sang Jaratkaru menjadi, kasihan mendengar, tiba-tiba ada didengar, ucapan yang menyayat-nyayat, minta tolong, Sang Jaratkaru dipanggil-panggil.

11. Agar segera menebus dosanya, Sang Jaratkaru merasa, terkejut hatinya, kemudian, ingat pada ayahndanya, ke luar air matanya, dengan deras, dan melihat ke atas, dilihatnya ayahnya tergantung, menjerit dan memanggil, seperti tak ada bedanya.

12. "Jaratkaru anakku, di manakah bahaya ini?" Sang Jaratkaru segera, mendekatinya, dan berkata sambil menangis, "Sayalah Sang Jaratkaru, apa yang saya bisa lakukan, untuk menebus dosa ayah, agar luntur, dosanya tanpa bekas.'

13. Roh ayahnya ialu menjawab, "Adapun penyebab ayah menderita, sakit tak tertahankan, bergantungan seperti ini, salahnya, karena tak mempunyai cucu, maka itu cepatlah, buatkanlah sekarang juga, agar ditebus, oleh cucuku."

14. Sang Jaratkaru menjawab, "Ya, hingga sekarang, saya belum bertemu jodoh, tidak dapat, apabila tak ada, nama yang sama, yaitu Jaratkaru, kiranya saya tak bisa memenuhi, mengambil isteri, sebagai penebusnya."

67 [ 63 ]15. Roh ayahnya menjawab, "Pergilah sekarang juga, ke dunia usahakan, agar ayah segera terlepas, ayah menunjukkan,carilah di saptapatala, pada Sang Anantaboga, usahakan untuk melamar, ada gadis, Sang Jaratkaru namanya."

16. Sang Jaratkaru menuruti, di hati, kemudian permisi, ke dunia segera, tak dikatakan, telah semua, desa-desa dan, setiap pertapaan di gunung, tempat mencari jodoh, juga tak dijumpainya, yang bernama Jaratkaru.

17. Telah diketahui oleh semua orang, kalau Sang Anantaboga, mempunyai seorang putri bernama, Sang Jaratkaru, sangat cantik tak ada duanya, Sang Jaratkaru, seketika itu juga bisa, ke saptapatala meminang, Sang Anantaboga tak berkata panjang.

18. Sangat menyetujui, kemudian dinikahkan lengkap sudah perlengkapan upacara, di saptapatala, tempatnya mencari istri, tak diceritakan telah selesai, kedua mempelai kemudian, Sang Jaratkaru keduanya, lalu pulang, ke pertapaan.

19. Setelah keduanya bertemu, hidup bersama selama-lamanya, sama-sarna mencintai, Sang Jaratkaru Nagini, telah mengandung, ada lima bulan, belum saatnya lahir, setelah sore, sekira pukul satu siang, Sang Jaratkaru.

20. Kemudian tidur-tiduran, Sang Jaratkaru Nagini, mendampingi tak mau berpisah, sambil menghitung, Sang Jaratkaru mengantuk, sambil mengatakan lesu, dengan pelan berkata,"Sang Jaratkaru Nagini, saya malas, biarlah saya tidur.

21. Tetapi ingatlah dinda, tunggu kanda di sini, jangan sekali-kali membangunkan, sebab sama sekali tidak boleh, buruk akibatnya nanti." Sang Nagini Jaratkaru, menuruti tak berani, menolak, Sang Jaratkaru kemudian tertidur, tak ingat akan waktu.

22. Matahari sudah surut, belum juga terjaga, karena lelah yang sangat, Sang Jaratkaru Nagini, ingat akan kewajiban melakukan, brata Trisendia, sudah, saatnya berweda, matahari hampir terbenam, jadi khawatir, pikirannya ragu-ragu.

23. Ingat akan pesan suaminya, tak boleh membangunkan, kalau dibangunkan tentu salah, kalau tidak dibangunkan, apakah ti


68 [ 64 ]dak lebih salah lagi, sebab saatnya telah tiba, untuk melakukan Trisandia, Sang Jaratkaru Nagini, memberanikan diri, dan membangunkan suaminya.

24. Sang Jaratkaru bergegas, bangun, marahnya bukan main,"Apa sebabnya Dinda membangunkan? Bukankah Kanda telah berkata, sama sekali tidak boJeh, Dinda membangunkan, mengapa Dinda melanggar, kata-kata Kanda, barangkali sudah takdir, Dinda harus berpisah dengan Kanda.

25. Hanya sekian lamanya, Dinda menikmati, bersuami dengan Kanda, barangkali sudah ditakdirkan Tuhan, membuat begini, bagaimana mengelakannya, sekarang Kanda tidak lagi menjadi suamimu." Kemudian, dipulangkan, kembali ke saptapatala.

26. Sang Jaratkaru Nagini tak banyak, berkata, menuruti, karena mengaku salah, karena tidak akan, menolak pada suami, Sang Nagini Jaratkaru, telah berjalan, ke saptapatala, diceritakan kandungannya sudah saatnya lahir.

27. Saat lahir pun tiba, lahirlah, seorang anak laki-laki menebus,sang leluhur saat itu juga, putus sudah tali penggantung, tak lagi bergantungan di bambu betung, sebab sudah waktunya,Sang Jaratkaru berhasil, membayar utang, pada ayahnya yang tersiksa.

28. Begitulah ceritanya, sehingga sampai sekarang, dijadikan petuah, oleh semua orang di bumi, pembayaran utama, pada ayah oleh cucunya, karena itulah yang dipakai menebus, dosa-dosa sang ayah, hilang luntur, sekian saja diceritakan.

29. Diceritakan di saptapatala,Sang Anantaboga, senang hatinya melihat, cucunya laki-laki telah lahir, tampan tiada tara, Sang Nagini Jaratkaru, karena dikatakan, setia dan hormat pada suami, tetapi telah melanggar, perkataan suaminya.

30. Sehingga ia kembali, ke saptapatala, tak perduli akan bahaya, Sang Anantaboga kemudian, memerintahkan, membuat upacara bagi cucunya, dan ber-Widi widana, anak tersebut diberi nama, Sang Astika, yang menghentikan sarpayadnya.


69 [ 65 ]PUH DURMA

1. Begitu awal mulanya dahulu diceritakan, sehingga sampai sekarang, jika dalam bepergian, menyusup ke dalam hutan, tegalan, dalam semak yang rimbun, tetap diucapkan, Sang Astika yang dipuji.

2. Maksudnya agar tidak mendapat bencana, dipatuk ular, karena Sang Astika, merupakan keturunan naga, dan berjalan, sehingga batal, sarpayadnya itu dahulu.

3. Adanya naga hingga sekarang, dikatakan hingga sekarang, itulah yang mengadakan, semua ular, termasuk ular lidi, juga merupakan keturunan naga yang paling kecil.

4. Hanya itu yang diceritakan di sini, ada lagi sedikit, seratus silsilah, ketika dunia masih kacau, belum ada raja memerintah, begini mulanya, ada raja yang pertama.

5. Beliau Betara Wisnu dinobatkan, menjadi raja, di Medang Kayangan, dengan gelar (nama) Hyang Manu yang dijunjung, di desa Medang, beliau membangun semua.

6. Tata krama kelakuan para raja, yang diwarisi hingga sekarang, kalau soal sastra, beliau Begawan Biasa di sana menciptakan semua, yang menjelaskan, sampai umur dunia.

7. Dari situlah awal perhitungan usia bumi, yang hingga sekarang, ada disebutkan, perhitungan isaka, memperhitungkan usia burni, berasal dari Medang, untuk pertama kalinya.

8. Hyang Manu mempunyai putra, Betara Darma namanya, diturunkan memang, menjadi raja di Medang, sehingga namanya juga, Sang Darmawangsa, dijunjung di atas dunia.

9. Sang Prabu Darmawangsa mempunyai putra, memerintah,di negara Medang, bagaikan Sanghyang Semara, sebagai penjelmaan, Sang Kameswara, namanya Sang Aji.


70 [ 66 ]10. Prabu Kameswara mempunyai putra, bernama Prabu Erlangga, bertahta di Jawa, Mpu Bradah sebagai pendetanya, itulah yang pertama, raja di Jawa, yang berkuasa.

11. Prabu Erlangga mempunyai putra, laki-laki dua orang, Prabu Jayabaya, namanya yang sulung, keduanya menjadi raja, Sang Prabu, Jayasaba adiknya.

12. Pernah bertentangan sehingga timbul perang, hebat bunuhmembunuh, Sang Prabu Erlangga, tak bisa mendamaikan ,Prabu Jayabaya, tetap pada pendiriannya, tak mengikuti keinginan ayahnya.

13. Karena ia berani menentang, sebab telah dapat, saling membunuh, rakyat kira-kira, ada ribuan yang terbunuh, kalau menuruti, kehendak ayahnya.

14. Penyamaan bagaimana yang dipero1eh rakyat, yang te1ah mati, menuruti kehendak, orang yang diiringi, akhirnya berdamai, bukan berhasil, rakyat berbuat jasa.

15. Itu sebabnya Prabu Jayabaya, menolak, tak menurut, berdamai, Prabu Er1angga, sudah memikirkannya kemudian, minta bantuan, Mpu Bradah untuk memikirkannya.

16. Agar dapat kembali bersatu, Mpu Bradah segera, berangkat untuk membicarakan, menghentikan mereka yang berperang, Prabu Jayabaya, tetap berpegang pada keyakinannya.

17. Seperti apa yang dikatakan pada ayahnya, ingat kepada, perbuatan yang disebut setia, brata dalam peperangan, tak memikirkan saudara sekalipun, dan semua keluarga, itu1ah yang diyakini dan dibela.

18. Mpu Bradah amat1ah marah, karena tak dituruti, oleh Prabu Jayabaya, kemudian Mpu Bradah, ingin mengutuk segera, yang tidak menuruti, berdamai dan bersatu.

19. Sang Prabu Jayabaya lalu menuruti, tetapi mengajukan syarat, pada Mpu Bradah, agar menghidupkan, rakyat yang banyak mati, Mpu Bradah, bersedia melakukannya.

20. Kemudian diperintahkan untuk mengumpulkan, mayat semuanya, setelah diatur, dikumpulkan semua, menjadi satu, kira-kira ada, dua ribu mayat.


71 [ 67 ]21. Kemudian ditatap oleh Mpu Bradah, semuanya hidup kembali, minta peralatan perang, ada yang merentangkan tangan ,saling menggertak, dengan kawan, agar diperangkan lagi.

22. Setelah semuanya hidup, kedua raja, telah menuruti, kata Mpu Bradah, saling memaafkan, Prabu Erlangga, membagi kerajaan.

23. Prabu Jayabaya bertahta di Daha, memerintah di sana, Prabu Jayasaba, di Kediri memerintah, keduanya berkuasa, sangat bahagia, sejahtera di negerinya masing-masing.

24. Prabu Jayabaya mempunyai putra laki, menggantikan menjadi raja, di Daha, Sri Jayakatong namanya, mangkat di medan perang, tak mempunyai keturunan, putus keturunan
ayahnya.

25. Prabu Jayasaba mempunyai putra laki Aryeng Kadiri, namanya, mempunyai putra, laki namanya, adalah Arya Kepakisan.

26. Beliau yang dipindahkan oleh Gajah Mada, dari kerajaan Kediri, sebagai upaya, ke pulau Bali, di mana menjadi Patih, dalem yang memerintah di Bali.

27. Demikian yang bisa dikatakan di sini, terlalu banyak kalau dihitung, dipaparkan dan diceritakan saja di sini, tapi ada sedikit lagi, sebagai tambahan cerita, yang diceritakan di bawah.


72 [ 68 ]PUH PANGKUR

1. Konon ketika tentera halus, di Pagutan, isakanya, seribu tujuh ratus, ketika Sang Kono kalah, isakanya seribu tujuh ratus, duapuluh lima ujungnya, ketika terjadi keributan di Kediri.

2. Isakanya dikatakan, seribu tujuh ratus dua puluh enam, ketika hujan tanah tercantum, isakanya seribu, tujuh ratus tiga puluh lima, dan satu lagi ketika bukit Penyu, isakanya baru mulai.

3. Seribu tujuh ratus empat puluh, empat kalah Sakra, isakanya, seribu tujuh ratus empat puluh, lebih delapan mangkat di Telaga Urang, beliau pulang ke Sasak, meninggalkan Bali.

4. Isakanya seribu tujuh ratus, lima puluh, ingatkan hingga sekarang, ketika Karangasem kalah, isakanya, seribu tujuh ratus lima puluh sembilan, ketika Pagutan kalah, isakanya dimulai.

5. Seribu tujuh ratus enam puluh, ketika Praya menentang dan berbalik, isakanya seribu tujuh ratus, enam puluh enam, ketika Manjeline, Calon Polo ngamuk, isakanya seribu tujuh ratus enam puluh delapan baru dimulai.

6. Konon ketika beliau yang mangkat, di Sasana isakanya baru,seribu tujuh ratus tujuh puluh, ketika Kalijaga menolak, isakanya seribu, tujuh ratus tujuh puluh, tujuh berbalik.


73 [ 69 ]ALIH AKSARA
GEGURITAN SAMBA


Oleh
Tjok Istri Putri Hadiryani

75 [ 70 ]GAGURITAN SAMBA

PUH GINADA


1. Iseng mangiket crita, nyamurang hati paling, nuju suung padidian, esek manahe ulangun, jemak kertase abidang, katulisin, matembang antuk ginada.

2. Nene mangkin cinarita, ida Dewi Yadnyawati, anak Sang Prabu Utara, kagawuk ida ne sampun, antuk Sang Prabu Naraka, Prayajoti, apuspata Raja Boma.

3. Kaduduk kadamaputra, antuk ida sri bupati, Sahuwusing lami reko, sampun ida nandang duhur, huwus ngarajasawala, rupa becik, satsat Supraba ngindarat.

4. Tan sah (Ida), ingembanan, olih inya bayan sangit, makadi wawenya reko, Nilotama ne kawuwus, putranida Sanghyang Indra, dane ngiring, ida Dewi Yadnyawati.

5. Sahusan ida mapayas, raris ida nabda aris: "Tilotama, kamo luwas, mangalih ida sang kakung, sang kadi Smara ngindarat, Darma Widi, putran Sanghyang Padmanaba.

6. Samalih pireng-pirengan, dija ida manyrawadi, Krana ida ngutang nira, di Malaya ane malu, duke ida nangun yadnya, nira ngiring, sang satsat Sanghyang Smara.

7. Nilotama sahur alon: "Inggih embok lintang ngiring!", Raris ida mamargi reko, pirang dina laminipun, mamargi tan pahiringan, ngentap bukit, tegal jurang kalintangan.

8. Saget ida polih orta, mataken ring watak tapi, sang tapi (ne) mangaturang, Darmadewa ida turun, maring jagat Dwarawati lintang luwih, Sang Samba kasub ring jagat.

9. Putran ida sang Kesawa, bupati ring Dwarawati, Sanghyang Hari nyalantara, jananuraga manerus, makapanyungsungan jagat, kasub sakti, kinatwangan ing nagara.


77 [ 71 ]10. Danuja raksasa alah, tan wangi mangadu jurit, ring ida Prabu Kesawa, saking panugrane luhung, mangalahang ripu saktia, ngadu sakti, tuah ida manggihang jaya.

11. Ne mangkin ida Sang Samba, pininang ing sang maharsi, lunga di gunung Malaya, ngemit patapane ditu, antuk ceceh karusakan, dening i wil, mamaksa sang watek tapa.

12. Sang Samba kalintang pradnyan, yusanida anom alit, sakueh raksasane basmia, ring Malaya ane purun, pacang ngarusak watek, sampun mati, olih ida sang rajaputra.

13. Puput rawese sang tapa Nilotama raris mamargi, ngungsi gunung Malaya reko, reh Sang Samba kocap ditu, mangemit sang watek tapa, ring wanadri, dening sering karusakan.

14. Kacrita ida Sang Samba, putran prabu Dwarawati, baguse tan patandinngan, Hyang Aswinodewa turun, nyrawadi dadi manusa, bagus ririh, jananuraga ring jagat.

15. Lunga ida ring Malaya, mangemit resine sami, dening tapane karusak, olih danujana ngamuk, waduanida prabu yaksa, Prayajoti, sawatek tapane brasta.

16. Sarauhe ring Malaya, parek ida ring sang resi, ring Bagawan Wiswanitra, rajaresi lintang putus, sang resi ida nyambrama, sami asri, kahatur ring Prabu Samba.

17. Watek tapa sami natasang, kasub ida manyingakin, ring solah ida sang Samba, sami ida hyun mandulu, sararasida Sang Samba, jaya jati, Sang Darmadewa ngindarat.

18. Ledang kayune sang pandita, muah watek tapane sami, denning rahayu tapane, tan hana raksasa purun, ngarusak maring patapaan, ring wanadri, sapasuking Himalaya.

19. Sang Samba tuara belas, satiba paran lumaris, sareng ring sang Gunadewa, watek tapa ida kawuwus, rupane manis srenggara, anom alit, pradnya ida ring danurweda.

20. Rawuh ring adrin Pe wetan, wenten patapan manginggil, Sang Samba egar ring cita, Gunadewa raris muwus:,"Ngiring Ratu ngamunggahang, mangda gelis, rauh ring genah payadnyan!".


78 [ 72 ]21. Sang Samba tan pararianan, rauh ring pucaking adri, raris ida matur alon: "Payadnyane nguda samun, sapasira olih mayasa, mangawitin, ngawangun tapa irika?

22. Gopurane sampun rusak, rauhing ring bale manik, yadin ring jro pura reko, ring merune tumpang pitu, nika (telas) punggel, rupa lami, sang tapa ida nyawarga!"

23. Sang Samba kasob manyingak, pamedale ne menginggil, candi bentar telas rusak, rebah ia lilit ebun, sanggalangite mangrebo, sekar rawit, irit ruksa muyar roma.

24. Pudak cinagane mekar, masawang rasa ninjoin, sekar gadunge mulihan, irib, engsek ring sang lampus, erang dening katinggalin, uyang paling, wiakti ngurambat ing lemah.

25. Togog parase ya bengong, rasa erang katinggalin, sekar pucuk kawirangan, ia delima semu mangu, masanding (ring) i rudita, pada ngeling, minab mangame sang nywarga.

26. Nesekang ida Sang Samba, nyingak patapane luwih, babatur purane kawot, parase maturut-turut, ukirane sarwa endah, nanging sami, rusak rebah kagunturan.

27. Malih ne ring jaba tengah, wenten bale murdamanik, pangungangan sang pandita, nyingak kalangene ditu, kahuban antuk wandira, kehing paksi, mawijah-wijah ring kayun.

28. Paksine umiang asabda, asahuran sleng tambungin, irib ia mangatuang, ring ida sang wahu rauh, perit petingane umiang, liring-tiing, kasarengin lan bucica.

29. Gunadewa ida ngucap, alon ature amanis: ,"Ratu, titiyang mangaturang, piarsayang kawitipun, ne ngawangun sapunika, lintang luwih, apuspata Darmadewa.

30. Ida kawit manaruka, ngawangun puri iriki, sareng rabinida reko, Dewi Yadnyawati kawuwus, putran Sanghyang Citrarata, lintang luih, pradnyan tur satiawacana.

31. Nanging te katuturannya, aturang titiyang ne mangkin, da sang tapi Yadnyawati, kocap ida sampun lampus, sedan idane masatia, katinggalin, antuk Sanghyang Darmadewa.

32. Sang Samba ida mirengang, Gunadewa manuturin, raris ida naneng bengong, ngeling-elingang ring kayun, rabinida Yadnyawati, sane nguni, katinggalin ring patapan.


79 [ 73 ]33. Yeh waspane deres medal, angen ida mamiragi, eling ida duke kuna, Yadnyawati lintang hayu, satiawacana ring lakia, ngawe asih, Sang Samba raris kantake.

34. Gunadewa kagiat nyingak, Sang Samba ida tan eling, rebah maring natar mangko, Gunadewa gelis nyaup, wacanane meladprasa, saha tangis, "Ratu, sang satsat Hyang Smara!

35. Matangi ratu elingang, nguda ratu sapuniki?, kadi tan tuhu prawira, irib muda kurang tutur, ne mangkin margi bawesang, ngiring alih, dija ida Sang Yadnyawati.

36. Yadian maring Suargaloka, titiyang, Ratu, lintang ngiring, satiba paran lumampah, tan angen titiyang ring tuwuh, lamun mangiring I Dewa, Yadin mati, titiyang nyadia nyatuang jiwa."

37. Sang Samba eling ring raga, tumuli ida ngalilir, malinggih ida ring natar, Gunadewa idanadulur, kari ida manegtegang, saget prapti, Tilotama tan pairingan.

38. Gunadewa alon nyapa, "Sapasira ja punika?, hayu rupane kalintang, kadi Ratihe tumurun, dumadak Widi Wilasa, manuturin, linggihida Yadnyawati.

39. Samalih titiyang nunasang, ring Gusti sang kadi Ratih, Sapasira gusti reko?, ngaraga rauh ka gunung, luwir sungsut katinggalan, dening laki, pamargine murang-murang.

40. Dija purin Gusti mula, nyen parab sang gurulaki?, lungane kelunta-lunta ring alas ida maburu, lunganida lami pisan, saking negeri, masusupan maring alas".

41. Nilotama gelis angucap, sabdane nyunyur manis: ,"Titiyang watek ambara reko, Yadnyawati ne mangutus, mangruruh Sang Darmadewa, dija numadi?, mangda titiyang sauninga.

42. Ne mangkin titiyang nguningang, dening da Sang Yadnyawati, putran Sang Prabu Utara, nanging ida sampun lampus, kasor ida ring payudan, ngadu jurit, ring Sang Prabu Naramangsa.

43. Purinida telas rusak, geseng telas keenjutin, pramisuari pramasatia, dening bakti ring sang lampus, brastane tan pagantulan, Yadnyawati, kari alit katinggalan.

80 [ 74 ]44. Kaduduk kaanggen oka, antuk ida sri bupati, maring Prayajoti reko, nene mangkin sampun luhur, sampun ngarajasawala, rupa becik, sawang wulan karahinan.

45. Warnanida Yadnyawati, saksat kadi Sanghyang Ratih, ring purnamaning gumiwang, di masan sasih kacatur, tranggana wiakti kuciwa, leyeping aksi, tan sah ngulangunin manah.

46. Kalangen sasih, Kartika sami ngasor ring sang putri, atubing roma sumangga, luwir mega angerem dawuh (jauh?) sengning lati angatirah, nyunyur manis, malenyad kadi sarkara.

47. Akate yadin parnayang, kahayon sang rajaputri, sarwa sekare mangasor, ring ragane Raden Galuh, Sang Samba egar ring cita, manyagjagin, manesek raris nakenang.

48. "Sapasira ja i dewa?, ngaraga rauh mariki, antuk babawose tatas, nyadia lungane manguruh, kadaden I Darmadewa, manumadi, manyadma ring madiapada.

49. Ratu sang kadi kusuma, ndaweg titiyang matur sisip, mangda ica nyinampura, titiyang tambet lintang jugul, kabatek kulub cita, mabet ririh, maatur ring sang pawikan.

50. Samalih titiyang nunasang, dija ida Yadnyawati, sampun ke ida manyadma, dija ida mangkin m'lungguh, sapasira nganggen oka?, nene mangkin, mangden titiyang sauninga!"

51. Tilotama alon ngucap: ,"Ndaweg titiyang matur sisip, titiyang Tilotama reko, Yadnyawati ne mangutus, ngaruruh Sang Darmadewa, kocap dini, mangemit sang watek tapa.

52. Yan ida Sang Yadnyawati, okan prabu Prayajoti, bupati ring Naramangsa (?), Prabu.Boma ida kasub, saktine tan papadeng rat, sami jerih, watek dewa wus kasoran.

53. Ne mangkin ida Sang Boma, saha wadua sami ngiring, lunga maring Indraloka, kayunida pacang nglurug, mayuda ring Sanghyang Indra, durung prapti, kantun ida maring suarga".

54. Sang Samba raris angucap, "Titiyang ngaturang ne mangkin, titiyang Samba nama reko, Darmadewa pecak turun, saking bakti mangiringang, Sanghyang Hari, molah maring Dwarawatia.


81 [ 75 ]55. Pamargin titiyange pecak, saking patapan puniki, dening titiyang mangawitang, ngawangun yasa puniku, prasadane telas rusak, tuara kari, bale pamujane rebah".

56. Tilotama g'lis angucap:, "Nunas Ratu mangkin mamargi, ka Prayajotinagara, sakalanya ditu suung, watek danujane luas, sami ngiring, Sang Naraka maring suarga”.

57. Sang Gunadewa angucap:, "Ndaweg Ratu, titiyang ngiring, lunga ka Prayajoti reko, Sang Samba raris amuwusi:,"Sampunang I ratu lunga, dini ugi, jantos titiyang maring alas.

58. Yening sampun manyidayang, olih titiyang Yadnyawati, titiyang misadia ring manah, ngarusak purine ditu, pendakin ja ugi titiyang, saking giri, ring wates gunung Malaya.

59. Puput rawose Sang Samba, raris ida g'lis mamargi, sareng ring Sang Tilotama, pamargina sadandurung, tegal jurang kalintangan, sampun prapti, saget surup Sanghyang Surya.

60. Tilotama oseking cita, wus rauh jabaning puri, kori agunge mineban, Tilotama ngres ring kayun, dening danujane katah, ya makemit, rauh maring jaba tengah.

61. Tilotama raris ngucap: "Meweh pisan titiyang mangkin, dening margi lintang sengka, manah titiyang lintang bingung, kija marginin ka pura?, dening sami, lawangane mahineban".

62. Kacrita Sang Yadnyawati, sungsut lara kaprihatin, tan mari ida mawosang, Tilotama durung rauh, bayansangit sami mapayas, manyarengin, nitiase ngaturang sekar.

63. Ramia umiang ring jro pura, nging ida sang rajaputri, malinggih maring gedongan, tan sah mangelaken lulut, nitiasa resep ing cita, matur manis, "Sampun Ratu sungsut ring cita.

64. Yan wenten Widi wilasa, boya g'lis sidaning kapti, Tilotama gelis prapta, yan sampun ida kapangguh, sang kadi telenging manah, dewa gusti, usan Ratu maselselan.

65. Dening Ratu mangda bagis, m'linggih ring jagat puniki, upaminya sekar reko, i puspa manedeng santun, sadpada keweh mangaras, tengahing dui, yan paksayang pacang pejah.

66. Yening paksayang mangalap, tan urung nyaruang urip, dening panyagane kawot, macan singane mangelur, malih ring genahing sekar, tan patanding, naga Taksakane nyebak.


82 [ 76 ]67. Yadnyawati tan pangucap, erang ida saha tangis, panyeroane sami medal, ring natar pada alungguh, pada ya masukan-sukan, galang kangin wenten girang ya masolah.

68. Liyu parekane teka, mabalih i bayan sangit, krana duarane umenga, di natah pada matambun, Tilotama kenaking manah, raris mamargi, madandan sareng Sang Samba.

69. Pamargane gagangsaran, manyingse mangalih ilid, manubuk pekane reko, nene mangkin sampun rauh, ring jeroning pakarangan, jro puri, ring linggih Sang Yadnyawati.

70. Tilotama raris ngucap, wacana makisi-kisi, "Dini dumun Ratu mraryan, titiyang jani pacang ngruruh, linggihida Yadnyawati, mangde panggih, rarisang ka jro pura !"

71. Tilotama laut majalan, Sang Samba mangetut uri, raris masuk ka jroan, katon ida Raden Galuh, wau ida wus mapayas, muwuh rawit, kasor k'langene ring jagat.

72. Tumuli kapendak tingal, Raden Galuh nabda aris, "Kenken embok tunden luas, suba ke ida kapangguh, sang kadi kenyeping manah, dija panggih, sang saksat Sanghyang Smara?"

73. Tilotama gelis ngucap, ature nyunyur amanis: "Mahilehan mbok ring alas, di M'laya ida kapangguh, parabida Sang Samba, waya jati, Darmadewa nyalantara.

74. Putranida Sang Kesawa, bupati ring Dwarawati, Sanghyang Hari nyalantara, danuja pisaca takut, mangalahang Prabu Kangsa, kasub sakti, mangasorang trimandala".

75. Yadnyawati suka mirengang, asung smita nyunyur manis, mawacana nabda alon:, "Jani dija ida m'lungguh?, nguda depin di jabayan, kemo alih, pang subanan anak nawang!"

76. Sang Samba ida mirengang, wecanane Raden Dewi, raris ida tumame reko, di jeroan ida malungguh, wacanane meladprana, Raden Dewi, erang ida tan sapira.

77. Manguntuk sang rajajwita, manyaru kimud mamunyi, mawacana sada alon:,"Nyen anake mai nutug?, Lotama kemo kaonang, mangden gelis, tunden ya ka jabayan!

78. Nira tuara lega pisan, anak muani teka mai, tumama maring gedongan, di jaba mangden alungguh, dadi embok lintang langgia, ngajak mai, kaonang embok gelisang!

83 [ 77 ]79. Yan uning ida sang nata, tan urung ngemasin mati, rinebut ing naramangsa, wiadin embok pacang lampus, dening pamargine iwang, nene mangkin, tunden iya gelis budal!"

80. Tilotama kenyung ngucap:,"Nguda Ratu sapunika?, cingake dumun tatasang, Sang Darmadewa ne rauh, sang kadi telenging manah, ajap sai, suba teka tunden budal.

81. Tuyuh emboke bawosang, peteng lemah sai mamargi, mahilehan ring Malaya, gumentos ida kapangguh, suba kasidan, ida prapti, lantas Ratu tan panyapa.

82. Inggih ke tidong durusang, sapa dening liring manis, sambrama bahan semita, ulangun anggen pasuguh, dening ida wau prapta, Yadnyawati, naneng bengong tan pangucap.

83. Sang Samba alon angucap, wacanane nyunyur manis:,"Ratu, sang luir sarining kembang, dong cingakin titiyang Ratu, nyadia titiyang mamarekan, naurang urip, ka Prayojotinagara.

84. Sampun Ratu banget duka, titiyang, Ratu, nahen sisip, duke kuna ring Malaya, titiyang wenten ninggal Ratu, titiyang nyadma tan nguninga, ring i gusti, jerih titiyang katinggalan.

85. Ne mangkin titiyang nutugang, nyudarsana ring i manik, mangda Ratu durus ica, ring titiyang kawelas hiyun, inggih sambrama jua titiyang, dening liris mangda wenten renan manah.

86. Wiakti tong ada lintangan, ring kabayen rajaputri, pangadeg nyampaka petak, pamulune nigakancu, lempungning gatra gumiwang, menggep rawit, sawa wulan karahinan.

87. Sekar pudake manyumbah, ring wetis sang rajaputri, sekar sandate magubah, sawang semi ngrenten halus, sekar gadunge kaciwa, tuhu jerih, ring hastan sang mustikeng manah.

88. Sekar bakunge kuciwa, maring rurusning jeriji, kaling ke i canigara, wus nyewaka ring I Ratu, pamulune gading nyalang, nyunyur manis, malenyad magula drawa.

89. Jerih ipun i duirepa, ngatonang untune rawit, putih nyalang kadi danta, nyunyur manis kadi juruh, i nyuh gading suba kalah, susu rupit, nyangkih nyalang buka pola.


84 [ 78 ]90. Raden Dewi tan pangucap, osek kayune tan sipi, Tilotama nabda alon:, "Dong durus icanin Ratu, sambrama i kwa’lasarsa, paicanin, wacana sane utama.

91. Doh bahan ida majalan, laut Ratu ngamenengin, durusan ican i mirah, elingang ke duke malu, sareng ida kajantaka, ring wanadri, ring pucaking Himalaya".

92. Yadnyawati raris ngucap, wacanane sada brangti, "Nira tuara suka reko, Lotama nguda manguduh, nunden nira mangden enyak, manyukanin, kadi ujar mboke suba.

93. Nguda se papak rawosang, anake manongos dini, dadi embok kedeh pisan, nguduh nira mangde kayun, saraga maring wong lakia, nganggen suami, nira nu suka padidian.

94. Yening embok lintang suka, melahan mbok suba ngambil, ditu di rangkine ajak, dadi nira papak uduh, tunden embok manyambrama, anak muani, nira tuara suka pisan".

95. Tilotama raris medal, Sang Samba manabda aris:, "Ratu sang kadi kusuma, durusang icane Ratu, paicanin i jantaka, rauh mai, nyudarsana ring I dewa.

96. Sane ngken pacang sengkayang, antuk dane sang yaksapati, kasub wisesa ring jagat, mangasorang pararatu, wiadin sawatek ambara, sami wedi, ring dane sang prabu yaksa.

97. Yening Ratu durus ica, banggayang titiyang ne mangkin, mamagutang kawibawan, ring danuja asing purun, yadin mamanggih antaka, tuara eling, lamun titiyang ngiring ida.

98. Nunas Ratu kumah titiyang, maring jagat Dwarawati, titi yang wantah ngiring mirah, mangda uning da sang prabu, Sri Maharaja Kesawa, Harimurti, malingga ring jagat Madura.

99. Nene benjang pasemangan, nunas ratu titiyang ngiring, taman puniki rusakang, titiyang, Ratu, pacang ngamuk, yening magde wenten galak, ne makemit, sami ipun pacang pejah".

100. Raden Dewi kenak ring cita, mirengang sabdane munia, "Tan wenten Gusti aduwe?, pang subanan kadi malu, duke di gunung Malaya, maninggalin, titiyang ditu klara-lara.

101. Paling manahe biapara, titiyang tuara takut mati, mawetu laut masatia, di Utara titiyang turun, tumuli


85 [ 79 ]titiyang manyadma, kayang jani, titiyang nemu mangdabagia ".

102. Rajaputra gelis ngucap, wacanane sada aris: ,"Nunas Ratu kapamreman, lesu pisan titiyang sampun", Raden Dewi raris ngucap: ,"Titiyang ngiring", Tumuli maring sayana.

103. Sasolahe ring pamremen, tan pegat asilihasih, sang Samba anabda alon, wacanane manis nyunyur, mangawe sukaning manah, dening luih, wicaksana ring inggita.

104. Nene mangkin sam pun lemah, sawetara galang kangin, Tilotama nabda alon, ring ida Rahaden Galuh, dening danujane galak, singnya mai, ada ane manuturang.

105. Sang Samba gelis angucap, sareng ida Raden Dewi, "Tuara nira takut pejah, yan suba ngisinin kayun, yadin ke sareng paratra, teka mai, ering kapademang".

106. Kacarita sampun lemah, parahinya bayansangit, suba pada ya atangia, gelis ya pada andulu, Tilotama maring natar, nyapa aris, ni inya I Nitiharsa.

107. "lnggih Ratu sasuhunan, ipidan ja Gusti prapti, kija palungani mirah?, dadi suwe nora rawuh, Raden Dewi ida ngajap, sai-sai, mangame-ame i mirah".

108. Tilotama alon ngucap sabdane arum amanis: ,"Nira lunga kaMalaya, lunga manglanglang kulangun, nungkap-nungkap tegal alas, wiadin giri, manilikin watek tapa".

109. Nitiharsa wruh ring sipta, raris ipun manyahurin, medal ature mahalon: "Dumadak jua kapangguh, sang kadi mustikeng manah, ida mai, nyadia titiyang manggiringang.

110. Nanging ngiring ke sekepang, pang subanan anak uning, dening pakemite kawot, liyan ade ne manyaru, manden sampun katangehan, ida dini, tan urung manggih antaka".

111. Bayan sangit pada ngatonang, Tilotama suba prapti, saget ya manyagjag encol, matakon munyine alus, "Lunga kijahai mirah , dewa gusti, mahilehan ring nagara".

112. Titiyang pada kamenggahan, olih ida Raden Dewi, tuara titiyang nawang salah, rajajwita ida bendu, tur titiyang kapandikayang, ngalih gusti, mahilehan ring nagara ".


86 [ 80 ]113. Tilotama alon angucap: "Mahan nira tuara dini, nira mantuk ke suarga, parek maring yayah ibu, dening suba lawas pisan, dini, tuara nira taen budal".

114. Yadnyawati ida medal, Tilotarna kandikain, "Mai ja embok pahekang Tilotama ida muwus, "Mangkinan jua, mas mirah", Yadnyawati, malih ida kajeroan.

115. Tilotama mangkin majalan, tumuli ida ngaranjing, Sang Samba angucap alon,"Dini ke ratu malungguh, titiyang pacang manunasang, dija marginin matinggal saking nagara?.

116. Pang subanan anak nawang, keweh titiyang pacang mijil , saking jero pura reko, wireh danunyane liyu, makemit maring nagara, manilikin, ida sang rajajwita.

117. Nitiharsa raris ka jroan, mabarung ngaturang suri , katon Sang Samba di pura, rupane kalintang bagus, Nitiharsa kagawokan, maninggalin, matur ipun saha sembah.

118. "Duh ratu Sanghyang Smara, ndaweg titiyang matur sisip, ica ratu nyinampura, titiyang tam bet purun matur, sapasira mangiringang, manurunin?, sueca ring Rahaden Dewia".

119. Nitiharsa egar ring manah, mange ton sang rajaputri, Sang Samba angucap alon: , "Nitiharsa jani tahu, kenken ban nira nayanang, bakal mijil, ngungsi puri Dwaraatia?".

120. Nitiharsa sahur sembah,"Becik ne mangkin mamargi, mungpung ke tuara de ade, danuja pacang mage rdu, sami ipun durung teka, kantun mulih , seduluran punggawania".

121. Raden Dewi raris ngucap: ,"Alih ke i bayan sangit, bakal ajak ya majalan, Nitiharsa raris matur, "Titiyang kari madabdaban", Raden Dewi, raris ida maiyasan.

122. Bay an sangit pada teka , raris ipun magagampil, mamakta sarwa busana, branane kalintang liyu, Tilotama malu majalan, rauh di margi, manyantos ida Sang Samba.

123. Raden Galuh ida medal, bayan sangit ipun ngiring, Sang Samba tuara da betas, Nitiharsa ya manutug, pamargine gegangsaran, tur kenjutin, purine sang raja Boma.


87 [ 81 ]PUH DURMA

1. Geger gemuruh maring jero nagara, kang wong awara-giri, kanggek raksasa mulat, dening agunging pawaka, adenden awerin-werin, jeroning pura, antian anggegap wisti.

2. Rame pada pasliwer atanya-tanya, pada tan hana ngawruhi, kwehing bala raksasa, tumulung punang pura, pada tan anahen kapti, maring udiana, jro puri telas binasmi.

3. Ring kadatuan ika pada geger humiang, gumuruh suaraning tangis, tan weruhing paran, glanalara cetaka, gelis genine ngalindih, maring nagara, kabeh ya pada basmi.

4. Dewi Yadnyawati mangkin kacarita, bayan sangit mangiring, lawan Tilotama, nrepaputra tan pasah, pamargine pada gelis, rawuh ring alas, Nitiharsa matur aris.

5. Yatna-yatna, ratu seregang mamarga, puniki wenten i wil, rauh saking gagana, mangda sampun kacirian, i ratu mangkin mamargi", sang nrepaputra, prayatna ngunus keris.

6. Dahat kacaryan punang yaksa lumihat, raris ipun mawali, rauh di nagara, raris manuturang, yan ida Sang Yadnyawati, ida mamarga, ring tengahing wanadri.

7. Sareng wong kakung rupane tan papada, baguse tuara nandingin, lanang mungsanunggal, saksat kadi ambara, yan manusa tuara bani, teka laksana, ring nagara Priagjioti.

8. Nene mangkin i parekan mangaturang, ring ida sri bupati, ring Magadapura, antuk Sang Yadnyawati, duaning ida wus lumaris, maninggal pura, miringan inya sangit.

9. Sregan ida sang rajaputra . . . . .?, jarasanda namaneki, raris ida ngateg, wadua saha sanjata, pamargine ngetut buri, Sang Nrepa Samba, prayatna ida mamargi.

10. Kacrita saget rawuh maring alas, tepisiring nagari, maring

88 [ 82 ]Priagjioti Sang Prabu Jarasanda, pamargine lintang gelis, tur saha bala, akehe tan sinipi.

11. Sang nrepatiputra prayatna ring hawan, sareng sang rajaputri, tan sah ingembanan, Tilotama ngiringang, Nitiharsa bayan sangit, miragi suryak, aswa gajahe pajerit.

12. Sang Samba lintang pageh tuhu prawira, tan hana kitaning kapti, tumun musuh katah, manesek manrejakang, aswa liman lan kesari, pada prawira, saha mamanahin.

13. Sang Samba tumuli ida memanah, antuk sanjata lungid, panah Brahmasara, Karayana Naraca, mwang musuhe telas mati, patang juta, awreg waduanya kalilih.

14. Sregen ida Sang Prabu Jarasanda, ngayat larase lungid, hru geni mangabar, tinujah nrepaputra, kabinawa tan sinipi, pacang ngarusak, Sang Samba prawireng budi.

15. Hru Barunastra ne kanggen mangwalesang, ujan maduluran angin, mademang pawaka, Sang Jarasanda kagiat, dening genine mati, raris ngawrayang, antuk panah siladri.

16. Sang Samba ida sakroda . . . .?, cakra sahasra koti, pika katibakang, ngarab ring biomantara, ngarusak ikang hru adri, telas sancarna, wadua Magad katibanin.

17. Sang Jarasanda banget kawirangan, mangayat astra luih, hru Nagapasa, mangang pacang manyarap, Sang Samba prayatna gelis, hru Candrahasa winetekan tan mari.

18. Mangrusakang Nagastra, tastas maring langit, makroda Jarasanda, mangunus tomara, mamanah tur matitis, Sang Samba kagiat, kena pinateb ing bumi.


89 [ 83 ]ALIH BAHASA

GEGURITAN SAMBA



Oleh:

Tjok Istri Putri Hadriyani


91 [ 84 ]GEGURITAN SAMBA

PUH GINADA

1. Iseng merakit ceritera, menghibur hati bingung, di kala sepi sendiri, hati melayang dalam lamunan, ambil kertas selembar, ditulisi, memakai tembang Ginada.

2. Kini diceriterakan, beliau Dewi Yadnyawati, anak Sang P.rabu Utara, diambil beliau saat dulu, oleh Sang Prabu Naraka, Prayojoti, putra Raja Boma.

3. Diangkat putra,.oleh beliau Sri Bupati, sesudah lama, beliau semakin dewasa, sesudah akil balig, rupanya cantik, laksana Dewi Supraba.

4. Beliau .punya pengasuh, inya dan bay an sangit, seperti bibi konon, Nilotarua yang dibicarakan, anak sanghyang Indra, yang mengikuti, beliau Dewi Yadnyawati.

5. Selesai berhias, lalu beliau berkata, Tilotama kini pergilah, mencari orang laki-laki, yang seperti penjelmaan Dewa Samara, budi baik, putra Sanghyang Padmanaba.

6. Dan lagi carilah kabarnya, di mana beliau berada, karena beliau meninggalkanku, dulu di Malaya, ketika beliau membuat upakara, aku mengikuti, beliau yang seperti Sanghyang Semara."

7. Nilotama menjawab, "Ya Kanda saya menurut." Lalu ia berjalan, saat hari itu lamanya, berjalan tanpa ternan, menjelajapegunungan, jurang dilewati.

8. Tiba-tiba beliau dapat berita, bertanya kepada segenap pertapa, sang pertapa ruengabarkan, sang Darmadewa berada, di daerah Dwarawati, amat terpuji, Sang Samba termasyur di bumi.

9. Anak dari Sang Kesawa, bupati di Dwarawati, laksana ianghyang Hari, dicintai rakyat, menjadi pengayom rakyat, terkenal sakti, tersohor di negara.


93 [ 85 ]10. Semua raksasa kalah, tidak berani mengadakan perang dengan Prabu Kesawa, karena nasibnya memang baik, mengalahkan musuh sakti, mengadu kesaktian, selalu beliau menerima kemenangan.

11. Kini diceriterakan Sang Samba, di an tara oleh Sang Maharesi, pergi ke gunung Malaya, menjaga pertapaan di sana, dari serangan terus-menerus, karena i wil, memaksa segenap pertapa.

12. Sang Samba sangat cerdik, masih kecil, semua raksasa mati terbunuh, yang berani ke Malaya, akan merusak, sudah mati, oleh beliau sang putra raja.

13. Selesai ceriteranya sang pertapa, Nilotama lalu pergi, menuju Gunung Malaya konon, karena kabamya Sang Samba di sana, menjaga segenap pertapa, di tengah hutan, karena sering dirusak.

14. Diceriterakan beliau Sang Samba, anak raja Dwarawati tarnpan tak ada tandingannya, Hyang Aswin turun, menitis menjadi rnanusia, rupawan dan cerdik, dicintai rakyat di dunia.

14. Diceriterakan beliau Sang-Samba, anak raja Dwarawati tampan tak ada iandingannya, Hyang Aswin turun, rnenitis menjadi manusia, rupawan dan cerdik, dicintai rakyat di dunia.

15. Beliau pergi ke Malaya, menjaga para pendeta semua, karena pertapaan dirusak, diamuk oleh manusia jahat, rakyat Prabu Yaksa, Prayojoti, segenay pertapaan itu rusak.

16. Sesampainya di Malaya, menghadap para pendeta, ke hadapan Bagawan Wiswamitra, raja pendeta yang terhormat, sang Pendeta menyambut, semua indah disampaikan ke hadapan Prabu Samba.

17. Segenap pertapa meyakinkan, tajub beliau melihat, terhadap perilaku Sang Sambu, dalam hati beliau, gayanya yang menimbulkan simpati, tiada lain, laksana Sang Darmadewa.

18. Berbahagialah hatinya sang pendeta, beserta pertapa semua, karena selamat dalam pertapaan, tak ada.raksasa yang berani, merusak ke pertapaan, di tengah hutan, dalam wilayah Himalaya.


94 [ 86 ]19. Sang Samba tak pernah berpisah, di mana setelah tiba lalu, bersama dengan Sang Gunadewa, dikatakanlah beliau oleh pertapa, wajahnya cantik menarik, kecil mungil, pandai beliau tentang Weda.

20. Sesampai beliau di pertapaan di sebelah tirnur, ada seorang pertapa tua, Sang Samba cepat-cepat hersama, Gunadewa lalu berkata, "Marilah kami menuntun, agar cepat sampai di tempat bertapa."

21. Sang Samba tiada berhenti , sesarnpai di puncak gunung, lalu be1iau bertanya, "Mengapa sepi di ternpat ini, siapa yang membuat, pertama kali, mendir.ikan pertapaan di sini.

22. Pintu gerbangnya sudah rusak, begitu pula balai manik, dan juga di dalam pura, bangunan yang bertingkat tujuh, sudah patah-patah, kira-kira sudah Iama, Pertapa itu wafat!"

23. Sang -Samba tajub menyaksikan, pintu keluar yang sudah usang, candi bentarny.a rusak, jatuh dan dililit tanaman, sanggalangit hidup subur, hunganya kecil-kecil, bagaikan hiasan ram but.

24. Pohon pa.ndanharum yang sedang mek.ar, menimbulkan bau semerbak, bunga gadung yang menjurai, barangkali kesedihan ditinggalkan wafat, malu dan marah karena ditinggalkan, geIisah, sehingga merambat ke sana ke mari.

25. Patung pasa pun melongo, malu dan marah ditinggalkan, pohon ..kembang sepatu membalas dendam, pohon delima termangu, bersanding dengan pohon rudita, keduanya menangis, barangkali mengenang kepergian sang wafat.

26. Terhenyak Sang Samba, meny.aksikan pertapaan yang indah pasangan bangunan yang baik, batu padas tersusun rapi dan indah, ukirannya serba indah, tapi semua, rusak dan jatuh berguguran.

27 . Dan Iagi di halama.n tengah, ada balai Murdamanik, tempat pendeta cuci mata, menyaksikan keindahan di sana, diliputi keindahan alam, oleh burung-burung, beterbangan di pohon-pohon.

28. Burung itu seumpama sabda, saling sahut menyahut, seolah ia mengabarkan, kepada yang baru datang, burung pipit seumpama, burung tiying-tiying, disertai burung murai.

95 [ 87 ]29. Pada mulanya, beliau menyendiri, membangun rumah di sini, bersama istrinya, Dewi Yadnyawati disebut, anak Sanghyang Tjitrarata, amat men~esankan, cerdik dan bijaksana.

30. Tapi ceriteranya ini, ham ba persern bahkan sekarang, beliau sang pertapa Yadnyawati, konon sudah wafat, wafatnya melakukan satia, ditinggalkan, oleh Sanghyang Darmadewa.

31 . Sang Samba mendengarkan, Gunadewa berceritera, lalu beliau diam terrnangu, mengi.ngat-ngingat dalam hati, istrinya Yadnyawati, pada saat dulu, ditinggalkan di pertapaan.

32. Air matany.a bercucuran , sedihnya setelah mengetahui, ingat ketika dulu, Yadnyawati yang amat cantik, setia dengan tutur kata, kepada suami, kasih sayang, Sang Samba lalu tak sadar.

33. Terkejut Gunadewa .melihat, Sang Samba tak sadarkan diri, jatuh di halarnan itu, cepat Guuadewa mengambil, bicaranya tersendat-sendat, rlisertai tangis, "Oh Paduka bagaikan Hyang Semara!

34. Bangunlah oh paduka, mengapa Tuanku begini, seperti bukan seorang perwira, seperti anak kecil tak tahu apa, sekarang mari bicarakan, mari mencari , di mana Sang Yadnyawati:"

35. Sang Samba sadar kern bali, lalu beliau hidup kembali, duduklah beliau di. halaman, dipegang oleh Gunadewa, masih rnenenangkan diri, tiba-tiba datang, Tilotama sendirian.

36. ~Nalaupun di sorga, hamba akan mengikuti, walaupun sampai di mana, hamba mempertaruhkan nyawa, asal mengikuti Tuanku, walaupun mati, ham ba bersedia rnengorbankan jiwa.

37. Gunadewa bertany.a perlahan, "Siapakah saudari ini?" Derwajah amat cantik, bagaikan bulan pumama turun, mudahmudahan Tuhan menyertai , menceriterakan, tempat Yadnyawati.

38. Dan lagi hamba mohon, kepada saudari yang sepet=ti bulan, siapa gerangan tuan putri, sendid datang ke gunung, dan lagi sedih ditinggalkan, oleh laki-laki , sehingga berjalan tak tentu arah.

39. Di mana rumah asal tuan putri, siapa nama suami tuan putri, seperti tersesat, ke hutan beliau berburu, sudah lama beliau berangkat, dari negara, lalu mencari-cari ke tengah hutan."

96 [ 88 ]40. Nilotama cepat menjawab, ucapnya halus manis, "Hamba adalah warga bidadari, Yadnyawati yang mengutus, mencari Sang Darmadewa, di mana rnenitis, supaya hamba mengetahuinya.

41. Sekarang hamba menuturkan, karena Sang Yadnyawati, anak Sang Prabu Utara, tetapi beliau sudah wafat, kalah dalam peperangan, melakukan peperangan, dengan Sang Raja Naramangsa.

42. Istananya habis rusak, terbakar habis, permaisurinya melakukan satia, karena horrnatnya kepada ;ang telah mati, tidak ada apanya lagi, Yadnyawati masih kecil.

43. Dipungut dan diangkat anak, oleh Sang Sri Bupati, Prayajoti kini, sekarang sudah besar, sudah akil balig, wajahnya cantik, bagaikan bulan.

44. Wajah Yadnyawati, bagaikan bulan, pumama menyinari bumi, pada bulan Oktober, terang-benderang tak kecewa, rlalam pandangan, sangat rnenawan hati.

45. Pad a waktu bulan musim bunga, semua menyerahkan diri kepada sang putri, dipakai menghias rambut, bagaikan awan bertebaran, manis seperti madu, menambah "Tianisnya, manis bagaikan madu.

46. Begitulah suatu kesempumaan, dalam hari sang raja putri, semua bunga-bunga menyerahkan diri, kepada beliau Raden Galuh, Sang Samba girang hatinya, lalu menyambut, mendekati lalu bertanya.

47. "Siapa gerangan tuan putra, sendirian datang kemari, dan berbicara tegas, akan mencari, penjelmaan I Darmadewa menitis, menjadi manusia di bumi ini.

48. Oh tuan bagikan bunga bangsa, maafkan ham ba, sudi kiranya memberi maaf, hamba terlalu bodoh, karena ketabahan hati, pura-pura pandai, berbicara kepada orang yang pandai.

49. Dan lagi hamba bertanya, di mana dia Yadnyawati, sudah menjelma menjadi manusia, di mana sekarang ia berada, siapa memakai putra, saat ini, supaya hamba mengetahui.

50. Tilotama berkata perlahan, "Maafkan hamba, hamba Tilotama, diutus oleh Yadnyawati, mencari Sang Darmadewa,

97 [ 89 ]konon di sini, menjaga para pertapa.

51. Apabila Sang Yadnyawati, anak Prabu Prayojoti, Bupati di Naramangsa, Prabu Boma terkenal, sakti tak ada bandingannya, semua takut, segenap dewa sudah dikalahkan.

52. Dan kini Sang Boma, serta diiringi oleh rakyat, pergi ke Indraloka, berkeinginan akan menggempur, berperang melawan Sanghyang Indra, belum tiba, rnasih berada di sorga.

53. Sang Samba lalu berkata, hamba memberi tahu sekarang, nama hamba adalah Sang Samba, katanya Darmadewa turun, dengan hati hormat mengikuti, Sanghyang tembuni, lahir di Dwarawati.

54. Perjalanan hamba konon, dari pertapaan ini, karena hamba membuat, membangun pertapaan di sini, bangunan-bangunan habis rusak, tidak ada, bangunan tempat pemujaan rebah.

55. Tilotama cepat berkata, "Marilah Tuanku sekarang menuju, ke negara Prayajoti, berhubung di sana kosong, segenap raksasa itu pergi, semua ikut, Sang Naraka ke sorga."

56. Sang Darmadewa berkata, "Ampun Tuanku, hamba ikut, pergi ke Prayajoti," Sang Samba lalu berkata, "Janganlah Tuanku ikut, tinggalah di sini, tunggulah kedatangan hamba.

57. Kalau sudah berhasil, oleh hamba Yadnyawati, hamba akan bersedia, merusak istana di sana, jemputlah hamba, dari gunung, di batas gunung Malaya.

58. Selesai berkata Sang Samba, lalu beliau cepat berjalan, bersama dengan Sang Tilotama, perjalanan akan cepat, melewati jurang dan tegalan. ~udah tiba, tiba-tiba matahari terbenam.

59. Tilotama susah hatinya, setelah tiba di halaman luar rumah, pintu gerbangnya tertutup, Tilotama merasa takut di hati, karena raksasa banyak, yang berjaga, sampai ke halaman bagian tengah.

60. Tilotama lalu berkara, "Amat susah hamba sekarang, karena perjalanan menyulitkan, hati hamba amat bingung, jalan mana ditempuh untuk masuk, karena semua, pintu tertutup.

61. Diceriterakan Sang Yadnyawati, sedih menanggung penderitaan, tak henti-hentinya menyebut-nyebut, Tilotama belum


98 [ 90 ]datang, pelayan-pelayan semua berhias, mendampingi, mempersembahkan bunga.

62. Kini di dalam istana, beliau sang raja putri, duduk di dalarn kamar, duduk memeluk lutut, senantiasa terasa di hatinya, berkata manis, janganlah tuanku susah di hati.

63. Kalau ada rahmat Tuhan, pasti cepat bisa tiba, Tilotama cepat datang, kalau sudah bersua, yang menjadi tujuan, oh tuan putri, jangan sedih dan menyesal.

64. Karena tuan putri patut berbahagia, tinggal di dunia ini, sempurna bunga, bunga mekar berseri, sukar dipetik, dikelilingi duri, kalau dipaksa bisa pecah.

65. Kalau dipaksa dipetik, akan rnungkin mencabut nyawa, karena panjagaan kuat, harimau dan singa mengaum , dan lagi di tempat bunga, tak ada tandingannya, si naga raksasa menganga.

65 . Yadnyawati membisu, malu dan marah disertai tangis, pelayannya semua keluar, di halaman mereka duduk, bersuka ria, sampai subuh ada pula yang menari.

66. Banyak ham ba sahaya datang, men on ton pelayan wanita , karena sernuanya berada, berkumpul di halaman, Tilotama lega di hatinya, lalu berjalan, bergandengan tangan dengan Sang Samba.

67. Berjalan agak tergesa-gesa , menuju tempat yang agak tersembunyi , di antara pelayan-pelayan itu, dan kini telah tiba, di halaman rumah, di halaman dalam , di tempatnya Sang Yadnyawati.

68. Tilotama lalu berkata, berkata berbisik-bisik, "Di sini berhenti sejenak, sekarang hamba akan mencari, tempatnya Yadnyawati, supaya bersua, silahkan terus ke puri dalam ."

69. Tilotama lalu berjalan, Sang Samba rnengikuti, lalu masuk ke istana tampaklah tuan putri, beliau baru selesai berhias, semakin cantik, tiada tandingannya di dunia.

70. Lalu menghadaplah, Raden Galuh lalu berkata, "Bagaimana Kanda disuruh bepergian, apakah sudah bersua, yang menjadi idaman hati, di mana dijumpai, sang yang bagaikan Sanghyang Semara?"


99 [ 91 ]71. Tilotama cepat menjawab, dengan nada manis, ke sana kemari di dalam hutan, bertemulah dengan beliau, namanya Sang Samba, memang benar, laksana Darmadewa.

72. Anak Sang Kesawa, Bupati di Dwarawati, penjelmaan yang persis, para penjahat pasti takut, mengalahkan perabu Kangsa, terkenal sakti, terkenal di ketiga alam ini.

73. Yadnyawati gembira mendengar, semua tingkah lakunya manis, berkata perlahan, "Sekarang di rpana beliau, mengapa dibiarkan menunggu di luar, carilah, supaya dikenal orang.

74. Sang Samba telah mendengar, perkataan Raden Dewi, lalu beliau menghadap, di puri beliau duduk, bic-aranya perlahan, Raden Dewi, terkejut melihatnya.

75. Tunduklah raja yang cantik itu, malu-malu kucing, berbicara pelan, "Siapa ini yang ikut? Lotama suruhlah pergi, cepatcepat, suruhlah ia ke luar.

76. Hamba tidak rela, orang laki datang ke mari, apalagi masuk ke dalam rumah, suruhlah duduk di luar, mengapa Kakak berani melanggar, mengajak ke mari, suruhlah pergi embok cepat.

77. Kalau tahu beliau sang raja, tak heran kita dibunuhnya, direbut dan dijadikan mangsa, begitu pula kakak akan dibunuh, karena berbuat salah, dan saat ini, suruh ia cepat-cepat pulang."

78. Tilotama tersenyum berkata, "Mengapa tuan putri begini, lihatlah baik-baik, Sang Darmadewa yang datang, sesuai dengan permintaan hati, tiap hari menjadi idaman sesudah datang lalu disuruh pulang.

79. Pikirlah kepayahan Kakak, siang malam berjalan, berputarputar di Malaya, sampai bersua, kini sudah tercapai, beliau datang, lalu Tuanku tidak menerima.

80. Yah, silahkan menyapanya, sapalah dengan senyum manis, sambut dengan tingkah laku baik, suguhkanlah sebagai pelepas rindu, karena beliau baru hadir, "Yadnyawati, memandang termenung dan membisu.

100 [ 92 ]81. Sang Samba berkata pelan, bicaranya manis, "Oh tuan putri yang bagaikan sari bunga, lihatlah ham ba, ham ba bersedia menghamba, membayar dengan jiwa, datang ke Prayajoti negara.

82. Janganlah tuan hamba marah, hamba, pernah bersalah, pada zaman aulu Di Malaya, hamba meninggalkan tuanku, hamba orang tidak tahu, terhadap tuanku, lari hamba dikejar musuh.

83. Sekarang hamba menyambung, menjunjung tinggi kepada tuan putri, semoga tuan putri mengabulkan, memberi harapan hamba, ya, terimalah hamba, karena menimbulkan kebahagiaan, supaya ada, yang dapat menimbulkan hati senang.

84. Memang tidak ada yang lebih, melebihi raja putri, bentuk tubuh semampai, kulit putih kekuning-kuningan, halus menghanyutkan, cantik menawan hati, bagaikan bulan kesiangan.

85. Bunga pan dan menghonnat, pada batas sang raja putri, roncean bunga sandat, merupakan hiasan rambut, bunga gadung kecewa, lalu pergi, pada bunga sangjuwita hati.

86. Bunga bakung pun kecewa, pada jari jemari yang lurus, apa lagi canigara mohon kepada tuanku, kulit yang kuning langsat, amat manis, manis bergula madu.

87. Pergilah sang dwirupa, menyaksikan gigi yang teratur, putih bersih bagai danta, manis bagai gula aren, sang kelapa kuning sudah kalah, susu tegak, tegak bagaikan bentuk."

88. Raden Dewi membisu, sesak dadanya tak terperikan, Tilotama berkata pelan, "Silakan berikan tuan putri, sapalah sang baik hati, berikanlah, ucapan yang utama.

89. Dari jauh beliau datang, kini tuan putri membisu, berikanlah dia sang pennata hati, ingatlah yang terdahulu, bersama beliau mengalami kekalahan, di dalam hutan, di puncak Himalaya."

90. Yadnyawati lalu berkata, berkata dengan nada marah, "Aku tidak suka, Lotama mengapa menyuruh, aku supaya mau, menerima, seperti kata Kakak tadi.

91. Mengapa turut campur, saya tinggal di sini, mengapa kakak keberatan, menyuruh aku supaya mau, bersama dengan orang laki itu, menjadikan suamiku, aku masih suka membujang.


101 [ 93 ]92. Kalau Kakak berkeinginan, lebih baik kakak yang mengambil, ajaklah di tempat tinggal Kakak, mengapa hamba dipaksa, Kakak suruh aku menyambut, orang laki, aku tidak suka."

93. Tiltama lalu keluar, Sang Samba lalu berkata, "Tuan putri yang bagai bunga, berilah hamba, berilah hamba yang hina, datang ke mari, menghamba kepada tuan putri.

94. Apa lagi yang menjadi pemikiran, yang merupakan keputusan hati, terkenal kuat dalam dunia, menakjubkan para raja, walaupun semua yang di angkasa, semua takut, kepada yang merupakan keputusan.

95. Apabila tuan putri rela, biarlah hamba sekarang, mengadu kewibawaan, kepada setiap raksasa yang berani, walau menemui kekalahan, tidak pandang, asalkan bersama dia.

96. Marilah tuanku ke rumah hamba, ke negara Dwarawati, hamba akan menurutkan permata hati, agar sang Prabu maklum, Sri Maharaja Kesawa, Hari Murti, bertahta di negara Madura.

97. Besok pagi-pagi benar, marilah Tuanku bersama, taman ini kurusak, hamba akan mengamuk, supaya marah-marah, para penjaga, semua akan hamba bunuh."

98. Raden Dewi lega mendengarkan, mendengarkan ucapan itu, "Tiada dua lagi, sepala-pala seperti dulu, ketika di gunung Malaya, meninggalkan, hamba di sana menanggung sengsara.

99. Hatinya bingung mengembara, hamba tidak takut mati, menjelma dan melakukan janji, di utara hamba menjelma, sampai sekarang hamba mendambakan kebahagiaan."

100. Sang raja putra cepat menyahut, dengan tutur kata yang manis, "Oh tuan putri marilah ke peraduan, hamba amat letih." Raden Dewi lalu berkata, hamba menurut, lalu masuk ke dalam kamar.

101. Tingkah lakunya di tempat tidur, tak putus-putusnya bercumbu rayu, Sang Samba berkata pelan, bicaranya manis, menimbulkan hati senang, karena pandai, bijaksana dalam hati.

102. Kini sudah pagi, kira-kira saat fajar menyingsing, Tilotama berbicara perlahan, kepada sang Raden Galuh, karena raksasa

102 [ 94 ]garang, tidakkah akan kemari, apabila ada yang mencerierakan.

103. Sang Samba berkata cepat, kepada Raden Dewi, "Aku tidak takut mati, asal untuk mengisi hati, walaupun datang bersama bencana datang ke mari, tidak luput akan dibunuh."

104. Diceriterakan sudah siang, para emban pengasuh, sudah bangun, cepat ia menghadap Tilotama di halaman, lalu bertanya, bibi emban I Nitiharsa.

105. "Ya, Tuan junjungan hamba, kapan Tuan datang, ke mana tuan putri pergi, mengapa lama tidak datang, Raden Dewi menunggu-nunggu, setiap hari, menyebut-nyebut Tuan putri.

106. Tilotama berkata pelan tutur katanya manis, "Aku pergi ke Malaya, pergi menurutkan kata hati, melihat-lihat tanah tegalan dan hutan, dan gunung, menyelusuri segenap pertapa.

107. Nitiharsa mengerti, lalu menyahut, timbul pertanyaan perlahan, "Semoga ditemui, yang menjadi tuntunan hati, beliau kemari, hamba bersedia mengikuti.

108. Tapi mari sembunyikan, supaya tidak ada orang tahu, karena penjagaan ketat, apalagi ada yang menyamar, supaya tidak kentara, beliau di sini, tak urung menemui ajal."

109. Sang pengasuh menyaksikan, Tilotama sudah tiba, tiba-tiba ia mendekat cepat, bertanya dengan halus, ke mana pergi i mirah?, oh tuanku, raja yang cantik jelita tinggal.

110. Hamba ditinggalkan, oleh beliau Raden Dewi, tidak hamba tahu kesalahan, beliau raja juwita marah, dan hamba disuruhnya, carilah tuan, keseluruh pelosok.

111. Tilotama berkata pelan, "Pikiran hamba tidak di sini, aku pulang ke sorga, menghadap ayah ibu, karena sudah lama sekali, hamba di sini, tidak pernah hamba pulang."

112. Yadnyawati beliau keluar, Tilotama dipanggil, "Marilah Kakak dekat." Tilotama berkata, "Tunggu sebentar, Mas Mirah." Yadnyawati, lagi beliau masuk ke kamar.

113. Tilotama sekarang berjalan, lalu beliau masuk, Sang Samba berkata (pelan) "Di sinilah Tuan tinggal, hamba akan menanyakan, di mana ada jalan keluar.

103 [ 95 ]114. Supaya tidak ada orang tahu, sulit hamba akan keluar dari dalam puri, karena raksasanya banyak, menjaga negara ini, menyelidiki, beliau sang raja putri."

115. Nitiharsa lalu masuk ke dalam, menghadap mempersembahkan sisir, kelihatan Sang Samba di dalam, rupanya terlalu cakap, Nitiharsa ternganga, menyaksikan, lalu berkata dengan hormatnya.

116. "Duh Tuan Sanghyang Semara, ampun hamba mohon maaf, sudilah tuanku memaafkan, hamba bodoh berani berkata, siapa yang mengikuti, turun, sudilah pada Raden Dewi."

117. Nitiharsa amat senang hatinya, menyaksikan sang raja putri, Sang Samba berkata, "Nitiharsa sekarang tahu, bagaimana upayaku, supaya menitis, ke dalam kerajaan Dwarawati.

118. Nitiharsa menyahut hormat, "Lebih baik kini berjalan, berhubung belum ada yang tahu, raksasa akan pergi, semua mereka belum datang, masih pulang, bersama punggawanya.

119. Raden Dewi lalu berkata, "Carilah i bibi pengasuh, akan kusuruh petunjuk jalan." Nitiharsa berkata, "Hamba masih berkemas." Raden Dewi, lalu beliau berhias.


120. Inang pengasuh datang, kalu ia berkemas membawa bermacam-macam pakaian, kekayaan amat banyak, Tilotama berjalan duluan, sampai di jalan, menunggu Sang Samba.

121. Raden Galuh lalu ke luar, inang pengasuh juga mengiringi, Sang Samba tidak bisa berpisah, Nitiharsa mengikuti, perjalanan agak cepat, lalu dibakarlah, istananya Sang Raja Boma.

104 [ 96 ]PUH DURMA

1. Geger riuh rendah di dalam puri, orang-orang ke sana ke mari, terkejut para raksasa menyaksikan, karena besarnya bencana, di dalam istana, pertanda malapetaka.

2. Ramai saling bertanya, tidak ada yang tahu, semua bala raksasa, menolong ke dalam istana, tidak bisa menahan marah, dalam kerajaan, rumah istana habis terbakar.

3. Di dalam istana itu ramai semua, riuh rendah suara tangis, tidak mengenal tempat, terang benderang jadinya, cepat api itu merembet, ke seluruh negeri, banyak yang musnah.

4. Dewi Yadnyawati kini diceriterakan, inang asuh yang mengiringi, bersama Tilotama, Sang Samba tiada pernah berpisah, perjalanan agak cepat, tiba di dalam hutan, Nitiharsa lalu berkata.

5. "Waspadalah, Tuanku dalam perjalanan, kini ada i wil, datang dari angkasa, supaya tidak kentara, Tuanku kini berjalan, sang raja putra, siaga menghunus keris."

6. Sangat kecewa setiap raksasa melihat, lalu ia kembali, tiba di negara, lalu menceriterakan, bahwa beliau Sang Yadnyawati, dia berjalan, di hutan gunung.

7. Bersama orang laki amat tampan tak ada bandingannya, tampannya tak ada menandingi, hanya seorang yang laki-laki, bagaikan langit, kalau manusia tidak berani, datang berlagak, di negara Prayajoti.

8. Sekarang seorang pelayan menuturkan, kepada beliau Sri Bupati, di kerajaan Magada, tentang Sang Yadnyawati, karena beliau sudah pergi, meninggalkan kerajaan, diiringi oleh inang pengasuh.

9. Bersama dengan beliau sang raja putra.....(?). Jarasanda

105 [ 97 ]namanya itu, lalu beliau menyiapkan, rakyat lengkap dengan senjata, perjalanannya beruntutan, Sang Raja Samba, waspada beliau berjalan.

10. Diceriterakan tiba-tiba sampai di hutan, di pinggiran kerajaan, di Priogjoti, Sang Prabu Jarasanda, jalannya amat cepat, disertai tentara, banyak tak terhibung.

11. Sang raja putra waspada di jalan, bersama sang raja putri, ti-
dak berpisah dengan para inang pengasuh, Tilotama mengiringi, inang pengasuh Nitiharsa, mendengar sorak-sorai, suara gajah menjerit.

12. Sang Samba amat teguh serta perwira, tidak gentar sedikitpun, walaupun musuh banyak, mendesak menerjangkan, kuda gajah dan singa, dengan gajahnya, dengan segala kemampuannya memanah.

13. Sang Samba kemudian beliau memanah, dengan senjata runcing panah yang mengeluarkan api, Narayana Naraca, beserta musuhnya habis mati, empat juta, rakyatnya terpukul mundur.

14. Terkejut beliau Sang Prabu Jarasanda, mengangkat busur berkilauan, panah api bernyala-nyala, menjilat sang raja putra, amat berwibawa, akan merusak, Sang Samba yang perwira.

15. Panah Barunastra itu dipakai membalas, hujan dan angin mematikan api, Sang Jarasanda terkejut, karena api itu mati, lalu membalas, dengan panah siladri.

16. Sang Samba beliau marah . . . . ., cakra yang amat sakti itu dihujamkan, berkobarlah memenuhi angkasa, merusak senjata panah tadi, hanguslah semuanya, rakyat Magada menderita kekalahan.

17. Sang Jarasanda sangat kecewa, mengangkat panah tersohor, bernama panah Nagapasa, menganga mau menyergap, Sang Samba waspada cepat, senjata panah candrahasa, ditarik dengan sekuat tenaga.

18. Merusakkan Nagastra, putus berkeping-keping di angkasa, marah Jarasanda, menghunus senjata, memanah dan membidik, Sang Samba terkejut, kena dan tertelungkup di bumi.

106 [ 98 ]ALIH AKSARA

GEGURITAN MANIGUNA


Oleh:

Wayan Suteja


107 [ 99 ]MANIGUNA

PUH DANGDANG

1. Ampuranen titiyang nggawe gending, dangdang gula, munyi Bali Jawa, makuma bisa manahe, doh para pacang patut, reh pupuhnyane tuna lewih, sueca sang hium mamaca, ngalilayang kayun, kalih ica mangampura, i katunan, bumara melajah nulis, kranane nggawe gita.

2. Wenten puniki satua ring margi, kacarita, nenggah Raja putra, sakeng Mandraka bumine, rupane lintang bagus, Maniguna aran Sang Mantri, nanging Ida kalintang, mamangguhang lacur, manyusup ring gunung alas, makaronan, ring watek burone sami, masangu sarwa pala.

3. Pirang dina milareng ati, wenten dukuh, ring Nandawana, Ni Rangda Druta arane, tininggalaning kakung, adruwe putri Diah Arini, Niang Ratih yaning raras, tan papadeng rumsum, Saraswati ring kapradnyan, sampun surup, Sang Hyang Rawi mungguing tasik, akalian ka pamreman.

4. Suba lemah Ni Rangda matangi, mineh ipian, pinda suami prapta, maweh putra lanang reke, sulaksana manulus, akarmining Diah Arini, Ni Rangda trepting cita, anuli lumaku, nyuwupeng wana puspa, ring kalanguan, kadi graha Smara-Ratih, rikala amacangkrama.

5. Kidang manjangan sutrepting ati, agonjakan, mukti trenang kusa, katon kang singa warake, ring rumi ya rumuruk, nitia kala sukamukti, awakniageng manengka, ndatan singa-sigun, mrak angigeleng janggala, kinidungan, uning camareng giri, rikala kapawanan.

6. Kirnang gajah asibuing toya hning, asidekung, pasury asewana, we mumbul sakeng tulale, atur we tarpana rum, bramara mangreng ngisep sari, kadiastuti karenga, kadi nudut kahiun, gawok Ni Rangda tur kagiat, mangatonang, wong laki cayane nrang sasih, baguse tuara da pada.

109 [ 100 ]7. Tan bina kadi Hyang Astara-sari, yan rasayang, mijil saking suarga, nyajah kalangon marangke, Ni Rangda alon amuwus: "Inggih dewa sang apekik, sredanta ngampurayang, langgana umatur, Saking paran jua i dewa, kalih wangsa, parabe ndikayang mangkin? mangde titiyang sauninga".

8. Sang Mantri sawune ngembeng aksi, "Inggih bibi, tan uning ke titiyang, ring peradesa Wangsane, uning titiyange sampun, iriki jroning wana giri, manggih lara pataka; pisan angmasi antu, wus waneh nahen duhkita". Ngelad prama, tan mari mangasih-asih, sang katuwoning alas.

9. Ni Rangda kadi nirising ati, yan miragi, wuwus sang kalaran, sadara aris ature: ,"Inggih dewa sang bagus, palilayang larane mangkin, tingkah dadi manusa, suka duka kapangguh, ngiring dewa pamuliha, rumah bibi, wenten sanak i dewa istri, unika aturang biang!

10. Nanging nisrupa lintang acungking, kalih tambet, durung mapaguruan, ri manda bagia manahe, tininggaling guru, sang apungkusan Diah Arini, ica mangampurayang, ring wong lintang dusun, Raden Mantri suka miarsa, kadi arsa, taru lata nganti riris, rikala labuh kapat.

11. Maniguna suka manyahurin, "Inggih bibi, tan panjang ko titiyang, mangiring pisan kahiune, welas, bibi manuduk, titiyang wong kalintang kapir". Ni Rangda mangke ngucap: ,"Meneng sang abagus, ngiring mangke pamuliha, kumah bibi". ,Sang Mantri nuli lumaris, makaronan lumampah.

12. Tan ucapan tingkahe ring margi, glis prapta, ring pawesmanira, Ni Rangda egar manahe, sareng raris umujung, ring paturuan Ni Diah Arini, anuli mangandika: ,"Dewa anakingsun, matangi juwa i dewa, meme mahan, nuduk wong kalintang lewih, rasayang sihaning hiang".

13. Sang ahayu ngrepata matangi, ngusap soca, sarwi ngucap ipian: "Hiang Kama dateng marangke, mawa sara pusparum, tinibani dada tumitih, kantepeng pagulingan, tan mari isning luh, Ni Rangda alon angucap: ,"Iki prapta, sang kadi Hiang Astra-Sari, jati karma i dewa".

110 [ 101 ]14. Sang ayu kadi marasing ati, kasambeyan, dadi katinggalan, wong laki bagus rupane, Raden Mantri andulu, Ni Diah Arini ayu lewih, pada pinendak tinggal, padakena lulut, Ni Rangda wruhing semita, tur angucap:,"Dewa anakingsun kalih, iriki jua i dewa.

15. Puputang periyasih sutrepti, biang mapindah, manabdabang sangua". Anuli lumampah age, Sang Mantri ring sang ayu, punika kari jroning loji, pada mangubda manah, erange ngaliput, Maniguna mangke ngucap: ,"Inggih dewa, Sang Kadi Hiang Cita rasmi, tulia maraga mreta.

16. Suecaning titiyang wong lareng ati, lintang rahat, kadi taru lata, satata kebusa manahe, yan tan sih sang ayu, amelaburin titiyang mangkin, tan bina lungning jingga, yan tan peliangelut, tan sah akosaheng lemah, bendet surya, tan urung anemua pati, durusang sih i dewa.

17. Yan sampun i dewa nyuwecanin, i kalaran, sadera mainguang, ngrehaken kakanta mangke, nggen parekan satuwuk, dadi juru ngawa ceremi, kalih membakta sekar, rikala magelung, boya purun titiyang tulak, inggih dewa, durus kasihta mas manik, akaruan jroning tilam.

18. Yadian ping sapta titiyang dumadi, mangda tan sah, pituwi ping sapta, sahasra malih wetune, mangde sida kapangguh, mangatpada ayunta rari, makaron ring sayana, dados juru pangku". Raris Ida nyuduh madia, sarwi ngaras, sang ayu yatna tan sipi, manyingguk tur manyakar.

19. Sang Mantri tan surud ngasih-asih, nunas ica, sarwi ngaras-aras, sang ayu sanget tangisé, Sang Mantri malih matur,"Jejeh titiyang ratu ne mangkin, mandadi tanah karas, cinaka ring kuku, dekdek ratu awak titiyang". katatonan", Sang Ayu mingser tan mari, kungkab paduning wastra.

20. Maniguna ledang ngambil panpi, linukaran, sampun tinitihan, Sang ayu lesu pramangke, luir wulan wus inawut, warna acum mawuwuh rasmi, raris kapingkalihan, rasa kadi uluh, matemu kalawan sepan, yan rasayang, pucang nyangluh suruh wangi, satanding ring karasmian.

21. Panjang yan tuturang makasami, sasolahan, Sang Mantri ngemban Diah, sampun lami pakurene, watara tigang tahun,

111 [ 102 ]pada tresneng luluteng suami, raris Ida nuturang, satingkahe malu, sampun sami kapidarta, sayan menget, Sang Mantri ring pureng nguni, pramangke arsa budal.

22. "Dewa sang kadi Hyang Giri Putri, tuah i dewa, paragan utama, ampura kakanta mangke, langgia mapamit mantuk, maninggalin i dewa mangkin, sampunang salit arsa, boya titiyang ratu, saking tumilar pitresana, ring i dewa, kewala ngeton biang sori, kalih Ida i bapa.

23. Salamine titiyang manilarin, duh mas mirah, tan langkung sahulan, malih nguang rawuh marangke, mekul sang srining rumrum, manutugang pitresna bakti, manatak suka duka, sapangdaning tuduh, elingang ratu mas mirah, aturinguang.,"Sang sayu masawur aris:, "Inggih kaka pangeran.

24. Uningang tangisning anggen sih, kalulutan, paran wakas inguang, tinilaring kaka mangke, luir tunjung nedeng santun, rikala kapegatan warih, tan wangdia lemah layuan, kengeta pukulun, kalih paksi cakrawaka, kaleng kulem, tan urungen nemuang sedih, tininggalan ring priya".

25. Akueh wuwus sang amamuit mulih, ring sang kalih, sampun masumpah hiang, padangamel pitresnane, Manigune lumaku, nanging kari kahalin-alin, sang maninggal katinggal, pada mangu-mangu, asing ton nggawe biapara palakune, tan kocapan karyeng margi, amanggih kadurmanggalan.

112 [ 103 ]DURMA

1. Winuwusan mangke Sang Sri Naranata, ring Nandananagari, subala wiryawan, nanging kari jajaka, warnane dahat apekik, amunder jagat, nanging durung ngalap rabi.

2. Enjing medal sira anaring paseban, pepek pacareng aji, pada kanda-kanda, kalawan paramantriya, prasama atateng linggih, makamanggala, Patih Waktra kakasih.

3. Sang Nata asemu smita arsa angucap:,"Eh sira Rakrian Patih, angapa tinaha, dutaningsun tan prapta.,Ki Patih umatur aris: ,sarwia wot-sekar: ,"Singgih sanya Sri Bupati.

4. Yan rinasa-rasa de patik Batara, donia tan age prapti, dening lintang mabuat, manyitra diah utama, makapatni Narapati, pangerakena, lampahing duta ngenu".

5. Tan carita gunitane mareng saba, kang duta mangke prapta, ngaran Wijayakta, sampun anggawa citra, dinulu dera Nrepati, sang wahu prapta, medek sahawot sari.

6. Sang Nata wruhing smita sang wahu prapta, nuli angucap aris: ,"marangke lungguha, angapa Wijayakta, karyanta kinen puniki, sida tan sida, anyitra wong pawestri?"

7. "Sanja Nata patikta olih anyitra, istri ring wana-giri, tan pasameng raras, anaking Rangda Druta, kadi Hiangning Madu pasir, anyalantara, pantes sarining puri.

8. Egar Sang Nata nuli nanggapi citra, inasuasan de Aji, rasa-raseng cita, lewihing kasujanman, kadi Sang Hiang Cita Rasmin, mangun keragan, mulating citra iki.

9. Tur angucap Sang Nata amelad prana,: "Duh masingsun ta rari, pawaking Kalanguan, kakanta raat kabranan, panah Hiang Kama nebinin, manadia pusang, ngetus jiwa tkeng ati".

113 [ 104 ]10. Patih Waktra age matur sahasembah,: "Pukulun Sri Bupati, ayua gia wagugen, mangke amit patik bra, ngrereh sang mustinin ati, tan panangsayan, sida dinaning mangkin".

11. Sampun puput ature Ken Patih Waktra, Sang Nata angling aris: "nging kita tinuta, punang sarwa wahana, ingsun papareng lumaris"., Ki Patih Waktra, sampun atihang mangkin.

12. Bedil mamas sami pada duduan-duduan, bandrang sadu paresi, kalih laning pedang, kendang gong pasawuran, karasmianing gending curing, awor ing gita, lampahing wong pawestri.

13. Sang Nata alungguh ring dampar kanaka, lalancang mas sinanding, tan sah tedung kembar, lampahira araras, sumbreg kadi gunung Sari, mangke wus lintang, jajahaning nagari.

14. Tan ucapan lampahira ring alas, gelis rawuh ne mangkin, mareng padukuhan, Ni Rangda Druta kagiat, ningali sang wahu prapti, kesekeng cita, Sang Nata marepeki.

15. Tur angucap nabda manis ngupaksama, "Ih bibiningsuneki, tumulus asihta, anakta pintaninguang, makapriyaningsun bibi.,Ni Rangda Druta, kawogan matur: "Singgih".

16. "Mangke karepinguang angawa anakta, mantukeng dalem puri, Anuli lumampah, angamet sang araras, Sang Diah kagrek tur anangis, kadi tinebah, dandan Ni Diah Arini.

17. Tan ucapan sampun lunggueng dampa ema, tinidungan pawestri, sahatatabehan, gelisira ring awan, jag dateng ring taman Sari, ring bale meka, pakakasniangrimangi.

18. Sang Nata semu garjita raris ngucap: "Duh mas mirah sun yayi, sang mawak kalanguan, tulus sihta mas mirah, ngusadani lara kingking, rahat kabaran, Sang Hyang Semaranagdi".

114 [ 105 ]SMARANDANA

1. Sang Diah ndatan panawuri, kari ngrasa-raseng cita, Sang Nata amuwus alon: Duh mas mirah atmaninguang, paran kinayunanta, yan manik sarwa alus, asing sinadianta ana".

2. Sang ayu masawur aris, wireh mula jati pradnyan, pramangke mangawe nayo,: "Singgih sadnya Sri Narendra, ampuna kang kawula, langgiya amidi Sang Prabu, wenten kakan titiyang ical.

3. Maniguna akakasih, yan sampun kasidan prapta, rika manehta Sang Katong, asrahaken jiwa raga.,Sang Nata raris ngucap: ,Mangke sun kinon angruruh, ayua sira manangsaya".

4. Anuli ngundang Ki Patih, Ki Patih agelis prapta, prapta umedek Sang Katong, Sang Katong angucap mangkia, "Mangke ta kinekinunguang, nguang kapidi de sang yu, sang ayu madruwe kaka".

5. "Kakane Sang Diyah Ari, aran Maniguna ika, ika ruruhana mangko, mangke kita mangkata".,Tan wiwal Wijayakta, yukti sunembah umatur, matur amuit lumampahe.

6. Kang duta sampun lumaris, tan kocapan maring awan, Maniguna kocap mangko, sinamber ing paksi gagak, malih ana ring pawana, asru teka mangliput, cihenaning kasengkalan.

7. Maniguna ngraseng ati, ati tan sah kesiab-kesiab, dadi ana sabda alon, saking akasa karengua, "Ih kita putuninguang, priyanta amanggih sungsut, inalap de Sri Dandaka".

8. Sang Mantri uwus miragi, kadi dedel dadanira, waspadres mijiling panon, raris angucaping cita: "Paran wekasaninguang, tan surud amangguh sungsut, sapasira pacang olas.

9. Mangolasin wong kasiasih, iriki ring jroning wana, lami titiyang nandang wirong, tan bina i tadaharsa, ri padem nikang ulan, luir cataka nyadiang jawuh, rikala asujimasa.

115 [ 106 ]10. Duh sang luir Semarapatni, cingak titiyang lara bara, tan sah rumaket ring panon, yan sira kari pitresnan, ring apa ungguananta, tuduhakena pukulun, maneh mangke lumampah".

11. Lumampah manawang liring, tan mari masasambatan karasmianing wana katon, prasama mangawe rimang, kalih paksia kokika, ring tahen nyanding atrinipun, sumangkin nggatgat duh kita.

12. I belibis mareng warih, asisih-sisih ring priya, satawaneng taru menjot, lakiki atur masuryak, i lutung ring wandira, ngaras suami saleng gelut, rasa mangirangi manah..

13. Entikan gadung kahaksi, mangolaken taru ragas, upama asta sang anom, tumiba ring madianing diah, kumbang angrengi kembang, mangrurum sawang karungu, nyuh dantane makembaran.

14. Luir nuroja yan inapti, mega sa:nania ring roma, i nilapangkaja katon, arja linuruning soca, ke:nbang sridanta waja, pudak cinaga luir suku, angsana menur angraga.

15. Sangub angemuk i ukir, kadi kudungning sang anuan, kalih pangdaping sinom, rikalane kapawanan, mangke ya katinggalan, manga:me-ame sang ayu, mangkin angrahati cita.

16. Sang Mantri tan mari sedih, anuut alas suket jurang, lami sampun lintang renoh, araryan soring angsoka, jag datang Wijayakta, duta Sang Dandakaprabu, Sang Mantri kagiat tuminggal.

17. Anuli angucap aris: ,"Inggih ampuranen inguang, atanya ring sira mangko, paran suaraja-karyanta?, nusupeng giri wana.,Kang duta mangke sumahur, "Sang Nata mangutus inguang.

18. Ring Dandaka Sang Bupati, angruruh Sang Maniguna, saking pamidia ayu anon, anakne Rangda Druta, inalap de Sang Nata", Sang Mantri raris sumahur, "Inggih titiyang Maniguna.

19. Janma lintang kasihasih, sahuripe nandang lara. I Patih angucap alon:,"Lah ta kita anakinguang, ayua ta adadawan, adan papareng lumaku, umedak Sang Sri Dandaka".


116 [ 107 ]20. Sang Nata dahat i ati, kalih arinta Sang Diyah, tan sah nangis ing paturon, sang inujaran lumampah, akarweng Wijayakta, tan kocapan sampun rawuh, ring pungkur taman Dandaka.

PANGKUR

1. Sang Nata malih tuturang, wus angremih-remih sang kadi Ratih, nanging durung ring salulut, raris mijil ka jabayan, manyalimur karagan manggawe inguh, ngaksi tlaga mangelunang, toyan nyane lewih hening.

2. Minania aseliweran, berasikania ngijing ngrebut bukti, manganti renek mapunduh, kayuh geng kabinawa, miguh-miguh kadi ngigel pajeng dadu, ri sorning pangkaja mekar, kinajrihan iwak alit.

3. Bungane maduduan-duduan, sarwa endah rupaning sarwa sami, sedeng paranin sang akung, mabekel karas tanah mangrancana karasmianing taman santun, mangrenging bramareng sekar, kadi kakung ngamong istri.

4. Togog manike sajajar, mangaranang kinennyaran Hyang Rawi, mapinda istri ring kakung, kalih watu dumilah, putih-putih panukub natare alus, tan bina ring Indraloka, mani maya pada lewih.

5. Sang Nata sayan kagatgat, ulangune ring sang kadi iliang Ratih, alinggih ring watu alus, ri ebning nagapuspa, ame-ame ring sang duta durung rawuh, jag prapta Sang Wijayakta. Maniguna manyarengin.

6. Sang Nata egar ring cita, wahu mulat Sang Wijayakta prapti, semu semitrasandulu, Sang Nata raris ngucap: "Lah inggih ingkene parek ing ulun", Sang prapta asahur sembah:,

7. Puniki Sang Maniguna, akakasih panggih ring wana giri, manggih lara lapu-lapu, rasa suka nyawita, dening sampun pangguh Ida sang ahayu", Sang Nata suka miyarsa, mangandikarum amanis:

8. "Duh yayi Sang Maniguna, tan lian adi nambani lara kingking tan ana sih sang ahayu, ri ngaung duhkita bara, mangke yayi mangeremih sang arumrum, yen wus sida saharas, ingkene ta madeg Patih".

117 [ 108 ]9. "Pukulun Sri Naranata, lintang sueca ring titiyang daridranis,sapakahiunan Sang Prabu, títiyang sahiring pisan, nanging jantos rawuh titiyang mangkin ratu, mapanggih ring sang araras", Manggut Sang Sri Narapati.

10. Tan ucapa Sang Maniguna, sampun mapanggih ning Ni Diah Arini, Sang Hyang Surya Sampun surup patut mapasang damar, udan-angin mangalinus kayu rubuh, manibanin bale maka, katahurag pada anjrit.

11. Irika Sang Maniguna, masarengan Sang Diah Arini mijil, nyaru ring wong manjing metu, mamargi gagancangan, Sang Narendra manakonan sang arumrum, ngungsi ring Nandanawana sumreg kang wong sami ngiring.

12. Muntab kroda Naranata, awurahan bala Mantrine sami, konen nabeh tegteg agung, Sang Nata ja lumampah, tan pahawan mangeruruh sang arumrum, ngungsi ring Nandanawana, sumreg kang wong sami ngiring.

13. Ni Rangda mulihing suarga, majalaran agni daraneng ati, sampun geseng dadi awu, sang priya tka mamendak, tan waktan ring suargan suka sakahiyun, Sang Nata aglis prapta, ring padukuhan asepi.

14. Tan ucap Sang Naranata, walui yan alampah Ni Diah Arini, masarengan sang abagus, tan pararyan lumampah, sampun rawuh ring madianing wana semput, nuhut rejeng pringga jurang, asinutan soring jati.

15. Lanang-istri asasambat, "Bibi aji cingak titiyang iriki, manggih lara lintang kebus, madianing giri wana, sapasira mangolasin mangkin ratu, tan urungan manggih pejah, iriki ring wana giri".

16. Bangbang wetan cumarancang, asawuran umung suaraning paksi, Tuan Mantri malih lumaku, tan supen makaronan, silih aras makasangu nandan sungsut, enengaken sireng alas, winuwusan Sri Bupati.

17. Ring Madalekanagara, makalangen lunga ring wana giri, bala Mantri amregewuh, sampun sami matingkah, miwah jaring ginelaran sampun puput, kendang gong atarayuhan, sahasurak wanti-wanti.


118 [ 109 ]18. Sonane sami magalak, ngetut buron bala Mantri ngiderin, anamrang nuwekang gayur, akeh mati kacurnan, ana nyawus keneng jaring sami bungkus, akueh buron endah pelag, katur ring Sang Sri Bupati.

19. Sang Nata suka ing cita, mangatonang burone akeh keni, kon angunduh ngawa mantuk, ri uwusing binedag, Naranata wus munggahing kudajamus, pamargine lon-alonan, bala Mantri sami ngiring.

20. Wuwusan sang manggih lara, aneng alas makaron lanang istri, pamargine nyunut-nyunut, nut rejeng pringga jurang, sampun lesu tan mari matuntun-tuntun, mangulati pararayanan, ri sorin puspa sumar mrik.

21. Anuli prapta Sang Nata, kadi kagiat ngeton sang lara kalih, rupane kalintang ayu, Sang Nata sayan kragan, raris turun mangandika manis arum, "Ih kita sang makaronan, saking paran ta iriki.

22. Kalih sang apa aranta", sang inujaran gelis manyawurin, Singgih pukulun Sang Prabu, titiyang Sang Maniguna, suamin titiyang Diah Arini yan winuwus, tan mari mamanggih lara, manusup ring wana giri.

23. Prabu Mada jag wirosa, pinejahan Maniguna wus mati, Sang Diah raris kasahup, "Duh dewa atma jiwa, tulus asih masarengan mangkin ratu, nunas budal ka nagara, sampun anangsayeng ati.

24. Diah Arini jati pradnyan, ngubda uyung sinaputaning manis, manis ling awor guyu, guyu ameled prana, raris matur: "Inggih ratu Sang Ahulun, gantin titiyang manggih suka, manyawiteng ratu lewih.

25. Sueca geng mangampurayang, lintang dusun nisrupa daridra nis, tan pakanti nandang sungsut, mungguh ring giri wana, Naranata karaket antuk ulangun, tan lingu ring kamanisan, kapulut wimurceng ati.

26. Ri wusan angucap-ucap, masarengan munggahing kuda gelis, sang ayu anang pungkur, pamargi gagancangan, mirig gunung bala Mantri doh ring pungkur, rika Sang Diah olih nyingsiang, kasuduk Sang Narapati.

119 [ 110 ]27. Sapisan trus gigirira, pejah tiba ri soring gili alit, sang ayu raris nyaru, matinggal mangisuwang, tan kawruhan ngungsi layon sang abagus, tan kocapan maring awan, prapteng sawa sang suami.

28. Katinggalan sang apejah, mangelintik ri soring puspa mamrik, raris Sang Diah amahayu, ngusap-usapi raga, wastra lukar inangkeban sampun puput, kalih kain wus jinampian, antuk ganten Sang Diah Arini.

29. Tan mari masasambatan, kadi cucur engkak-engkak ngasiasih, layone tan sah karumrum, sarwi ngugah maguyang, "Inggih kaka boya cingak titiyang ratu, sapasira gawah titiyang, iriki ring wana sepi.

30. Lalu lalista matilar, nanging jantosnguang ring titi ugal-ugil, malih ring margane kebus, yadian ring Yamaloka, mango tumut makaronan saleng tuntun, Duh Hiang Dasa Lokapala, cingak titiyang satieng laki".

31. Durung puput asasambat, dadiana mayaning Hiang Widhi sasih, katon ulah istri kakung, akrama ring janggala, mapulilit garini ngemasi antu, sang kakung kagiat mulianga, ngambil taru ngusadani.

32. Gelis urip wus sinembar, paripurna tingkahe kadi nguni, raris ical ngungsi semput, Sang Diah manyadia nulad, ngambil taru cinanggeman dekdek sampun, kasembar raris sang pejah, anuli urip matangi.

33. Sang abagus mangandika, "Duh mas mirah sang mustikaning ati, sapa ngurip titiyang ratu, Sang ayu manyawurang, manartayang pratingkahe kadi sampun, sang kakung suka miarsa, : "Becikang tarune mangkin".

34. Sang Diah alon angucap:,"Inggih kaka endi paranin mangkin, lintang kaselekeng laku, yan tan ngelalu jiwa", Maniguna sumahur nyadia silunglung, lumampah satiba para, prapta ring pucaking ukir.

35. Sinang katon tang sagara, prenah wetan Tuan Mantri muwus aris: "Inggih dewa ariningsun, nunas ratu mamarga, ka pasisi bilih ada wong ajukung, sakeng Madrakanagara"., Sang ayu tinuteng suami.

120 [ 111 ]36. Pamargine lintang durgama, mangarejeng sengka sengkanut sripit, sayan eruh sang ahayu, megat-megati jurang, sampun rawuh ri soring angsoka mayun, makaronan sarwi nyingak, snomianing pasir ukir.

SINOM

1. Sinuamning soka inalap, sinawang kalasa gading, Sang araras kanggek gempor, Raden Mantri matur aris:,"Singgih dewa maskuari, ring sila sayana lungguh, sarwi ngaksi kalangon, panjrahning sarwa sari, rasa nungsung, atur awaknia sumpinga".

2. Ring sampun suruping arka, peteng libut mangresresin, gajah warak singa macan, magonjakan mangreng-mangrek, sarwa galak ring wengi, sami asih ring sang arum, tan waktan sang araras, ri tepining wana giri, nandang sungsut, suba lemah sinalinan.

3. Prabu Canda caritayang, ngalinggihin banawi putih, makalangen ring sagara, rumuli ring wana giri, masaning sarwa sari, Sang Nata aptianglangu, tan ucapan ring awan, sampun rawuh ring pasisi, keh andugur, Narapati asayuban.

4. Ri ebning angsoka membang, Sang Nata nuli ningali, sang araryan lanang wadon, yan ring suarupa satanding, sulaksanayu lewih, gagawokan Sang Ahulun, siuh rempuhing hredaya, kadi Hiangning madupasir, mangun lulut, Sang Nata alon angucap:

5. "Ih kita sang makalihan, saking paranta iriki, kalih sang apa aranta?, sang abagus matur aris:, "Inggih Sang Narapati, titiyang laramanggih lacur, masarengan ring priya, titiyang nyadia mangda urip, asing kahiun, nuduk titiyang manyawita.

6. Aran titiyang Maniguna, sang priya arah Arini"., Sang Narendra ngucap alon:,"Duh yayi sang sareng kalih, sampun sang-sayeng ati, dalan mangke sareng mantuk, mungguhing Candanagara".,Lanang istri matur: "Singgih", samidulur, Sang Nata munggahing kapal.

121 [ 112 ]7. Pamargina llintang becat, prapteng madianing jaladi, Sang Nata mangawe naya, merih pangan sarwa lewih, manadah arak anis. Sawarnane sami alus, duluring draksa-kinca, karanehan Raden Mantri mangan-inum,, mawera ndatan wruhing rat.

8. Maniguna kahanyudang, inapusan sampun pasti, makambangan ring sagara, suka egar Sang Nrepati, ngamong sang ayu lewih, ndatan sandeha ring kahiun, andal ring kawibawan, tan ucap lampahing margi, sampun rawuh, aneng greha pabuncingan.

9. Raris Sang Nata ngandika:,ngasih-asih rum amanis:,"Dewa sang sarining sinom, yan ring pradnyan Saraswati, sawang rupa Hiang Ratih, pamupulan manis muluk, pawakning sakalangon, ngasorang ayu sabumi, pantes sumbung, istri ayu satus nagara.

10. Den tumulus sihta ri nguang, mukti rarasing rasasmi, tan lian adi ngawiwasa, iriki ring Candabumi. Sarwi mangaras pipi, raris maskuingkua sang ayu".,Meh kalukaran sinjang, lintang keput Diah Arini, ngubda ujung, raris matur nggawe rimang.

11. "Sadnya Nata tan pahingan, peradnyane apupuji, ri nguang nisrupa tan tulak, kewala wengi jantosin, adih nguang tan sahiring, kadi gula was inemu, kapan manise ilang, ris-arisan ratu mangkin, lintang kasub, jaya satru sabuwana.

12. Gawok titiyang mangatonang, becik purine iriki, tan bineng Smaraloka, pamupulan sarwa lewih, pantes ratuning bumi, paranata padanungkul, many rahang sanagara, sami tinut sahabakti, lintang kasub apa makapangasoran ?"

13. "Duh dewa sang kadi sinuam, ada ne kaliliran kris, tan papasah ri kakanta, lewih guna mahasakti, panugrahan Hiang Widhi, yan tebahang api murub, dadi ngeseng sarwa galak, Sampun wengi sane mangkin nunas ratu, munggah mungguing pakasutan".

14. Diah Arini sayan merang, eling ri pejah sang suami, sampun anyud ring sagara, kebus idepe luir apui, kabatek satieng laki, raris dane ngunus duhung, mijilgeni angoroh, kawegan Sang Narapati, tur kasuduk, Sang Nata geseng saksana.

15. Katawurag sanagara, sang ayu manyingse mijil, pamargine sada encol, mangungsi ring wana giri, tan pararyan mamargi,

122 [ 113 ]anut gunung rejeng pangkung, prapteng madianing alas,
lewih durgamaning margi, lintang lesu, pupu ngetor kapiyuhan.

16. Tan mari masasambatan, mangame sang sampun lalis,: "Cingak titiyang duhka bara, iriki ring wana giri, lalu tan sih Hiang Widhi, maweh lara tan awanuh, kewala patuduhang, mangda panggih sang alalis, inggih ratu, suka mati makaronan".

17. Paraburone ring alas, kabinawangrebut bukti, gajah warak singa baruang, ulam macan manyerengin, nyadang salukning margi, pada asih ring sang arum, mangideri mangebag, mangandika Diah Arini, "Panganingsun apan waneh manggih lara.

18. Ah ah kita uripinguang, apa sukanta ring urip, nah jiwa Si Kalantaka, rampasana den agati.,Sang ayu maninggali, suteja aworing limut, sahatatit kumedapdap, sawang tingal mangulapin, kadi tuduh, ri ana sang sampun lina.

19. Pamargine mangenggalang, ngetut kumedaping tatit, tan ucapang sireng alas, sampun rawuh ring pasisi, nubut pasisi sedih, mangulame sang abagus, kacingak makambangan, sang ahayu manyagjagin, tur kasawup, raris bakta kadahetan.

20. Taline wus linukaran, Raden Mantri mangalintik, rinareban pandan rangkang, samipaning karang asti, eling ring sedanang urip, glis Sang Diah ngambil taru, kapakpak kasembarang, mangalilir Raden Mantri, raris bangun, ngusap soca patalahan.

21. Wahu nuptupang pramana, Sang Hiang Atma sampun mulih, ring pada hredaya nongos, nanging kari naneng liring, paksi Sang Diah Arini, ri samipa yan alungguh, sarwi angucap alon:,"Duh dewa sang satieng laki, ndatan surud, manggih lara duhka bara.

22. Paran lampah ta mas mirah, awananing malih prapti, wus inalap de Sang Katong, doh para pacang mamanggih, yan tan asih Hiang Widhi, manuduhang maskuaringsun. ,Sang Ayu matur alon, nartayang tingkahe sami, sampun puput, mapidarta lara erang.

23. Paran dera mangko kaka, ndi rasa Madrakapuri?, ndi ngaung

123 [ 114 ]tinanyan lumampah, iriki ring wana giri, tan urung manggih pati, sapasira maweh sangu".,"Inggih dewa sang raras, sarwa palane rebutin, mangda niru, watek burone ring alas.

24. Nunas munggahing parwata".,Sang ayu nuli lumaris, akaron lumampah alon, ngaksi rumning pasir ukir, panjrahning sarwa sari, sarwa pala padam enduh, umadangaken wohnia, wruh ri dateng sang tamuy, akeh ruru, rayajeng sang makaronan.

25. Ri wusing amukti pala, ring watu sayana linggih, kasongan angsoka membang, Raden Mantri matur raris:, "Duh dewa mas manik, ngiring mangke yan anglalu, ri tepining sagara, ngaksi karasmianing pasir", Istri kakung, sarwianglila akakarang.

26. Tan ucap sang manggih lara, wanten tuwa-rawa mancing, negakin jukung pamelas, rusak dening udan angin, talin layar tastas sami, satiba parane anyud, tan dadi katogasang, tan urungan baya pati, mangeladu, tedun ring ajeng sang lara.

27. Mangandika Maniguna,"Ih saking endi ta kaki?, paran ta suaraja karya, warahana ingsun teki., Tuwa-rawa nyawurin:,"Inggih dewa sang abagus, kawula Madraka nguang, keneng awus udan angin, manggih lacur, anyude satiba para.

28. Kaki wong Madrakapura, liwat bagianing sunneki, kadi tuduh ri datengta, ri tepining pasir ukir, mulane gustin kaki, Maniguna yan winuwus, Mantri Madrakapura, liwat lara duhka kingking, manggih lacur, makaronan sang araras".

29. Tuwa-rawa eling nembah, ngelut cokor sahatangis, "Inggih dewa mas pangeran, anyud nguang rawuh mariki, kadi tuduhning widi, mangde wenten wong manungsung, mantuk ring Madrakeng rat, suka egar lanang istri, pada tumut, munggahing jukung malepas.

30. Bidake sampun makebah, pada yatna manimbangin, pamargine lintang becat, tinub dening angin mirir, laju kadresan angin, tan ketung tempuhing alun, tan ucap ring sagara, gelis rawuh ring pasisi, sampun turun, raris kumah I Bandesa.

31. Pirang dina lawasira, sinungsueng bandega sami, sahaneng wong kagawokan, mangatonan sang apekik, Sang Adiah ayu

124 [ 115 ]lewih, satanding ring rupa ayu, yadian ring kapradnyanan, kawibawaan lintang lewih, sedeng sungsung, madeg ratu ring Madraka.

32. Prabu Madraka caritan, mangrenga orta sejati, yan kocap sang putra prapta, nanging kari ring kakisik, nggawa istri ayu lewih, Sang Nata ngandika alus:,"Eh kita para mantria, miwah kita Rakrian Patih, kineningsun, mangundang sang wahu prapta".

33. Rakrian Patih sawur sembah, prasama sami mangiring, nuli amiteng Sang Katong, mangaturin Raden Mantri, mahawan dampa gading, rinenggeng ratnadi murub, tan ucapeng wratmara, prapta Si Patih manangkil, sang abagus, asanding ring sang araras.

34. Nuli matur saha sembah, "Inggih ratu Raden Mantri, sangka ring adnya Sang Katong, ngutus inguang rawuh mangkin, ngaturin Raden Mantri, masarengan Sang ahayu, yan ingampe cumadang, sang inundang arseng ati, sampun puput, sang kalih lungguhing dampa.

35. Pamargine lon-alonan, bala Mantri atap ngiring, kadi alun sagara langa, abanawi dampa gading, atiyang pajang kuning, layar petak tunggulipun, karang asue tunggangan, bandega Hiang Smara-Ratih, aptianglangu, atur mara ring Madraka.

36. Tan ucap lampahing awan, agelis prapta ring puri, nuli tangkil ring Sang Katong, lanang-istri awot sari, rawuhing paramantri, prasama tateng lungguh, arseng cita Sang Katong, sareng ring Sang Pramisuari, gawok ndulu, rarasira sang araras.

37. Tinakonan de Sang Nata, awananing molih istri, sulaksana ayuanom, "Sang apa adrewe putri?, Sang ayu matur pihuning, satingkahe manggih lacur, duk karyeng giri wana, tekaning pati ring urip, sami katur, gawok sakehing mangrenge.

38. Ri uwus angucap-ucap, lanang istri nuli amit, saha sembah ri Sang Katong, kalih ri Sang Pramisuari, manggut sasemita manis, Sang Hiang Arka sampun surup, patut mapasang damar, pariwara padangiring, sang ahayu, kinanti ring pakasutan.


125 [ 116 ]ALIH BAHASA

GEGURITAN MANIGUNA


Oleh

Wayan Suteja

127 [ 117 ]MANIGUNA

PUH DANGDANG

1. Maafkanlah saya membuat gending, dangdang gula, berbahasa Bali Jawa, berlagak bisa hati saya, tipis harapan untuk benar, karena pupuh (ikatannya) kurang lebih, berkenanlah yang hendak membaca, bersenang hati, dan suka memaafkan, kekurangan, yang baru belajar menulis, karenanya membuat gita.

2. Ini cerita jalanan, alkisah, pertama raja putra, asalnya dari Madraka, rupanya sungguh tampan, Maniguna nama Sang mantri, namun beliau selalu, mendapat sengsara, pergi ke gunung hutan, bersama-sama, dengan segala binatang, cukup makan buah-buahan.

3. Entah berapa lama sengsara di hati, ada dukuh, di Nandawana, Ni Rangda Druta namanya, ditinggal suami, punya putri Diah Arini, Hiang Ratih jika diumpamakan, harum tiada banding, cerdik bagai Saraswati, telah terbenam, matahari di batas lantai, tenggelam keperaduan.

4. Setelah pagi Ni Rangda bangun, memikirkan impian, seakan suami datang, mendapat putra pria, tingkah laku yang baik, berdampingan Diah Arini, Ni Rangda mengheningkan cipta, kemudian pergi, masuk hutan bunga, di keindahan, bagai rumah Smara Ratih, di saat bermesraan.

5. Kidang menjangan bahagia dalam hati, bercanda, mencapai puncak kesenangan, kelihatan singa warak, di hutan ia bercanda, senatiasa mencapai kesenangan, badannya besar menakutkan, ia tak gentar, merak menari di telaga, dinyanyikan, pohon cemara di gunung, di kala dihembus angin.

6. Kiruang gajah besar bermandikan (menyemburkan) air jernih, aside kung, pasursewana, mata air dari pegunungan, sebagai air suci harum, kumbang bersuara menghisap sari, bagai lagu pujaan terdengar, nan menggegerkan hati, heran Ni Rangda


129 [ 118 ]dan kaget, melihat, orang laki cahayanya terang bulan, tampannya tiada banding.

7. Tiada beda bagai Hyang Astrasari, jika dirasakan, datang dari sorga, menciptakan keindahan kemari, Ni Rangda berkata halus, "Ia Tuan yang tampan, mohon dimaafkan, berani hertanya, dari mana asal Tuan, juga keturunan, nama katakan sekarang, agar saya jelas."

8. Sang Mantri menjawab disertai air mata, "Ia Bibi, tak tahulah aku, pada asal keturunan, setahuku telah, di sini dalam hutan gunung, mendapat lara sengsara, sampai saat kematian, hingga bosan me nahan lara." Menunduk, lalu menagis, ia sengsara dalam hutan.

9. Ni Rangda bagai teriris hatinya, kala mendengar, perkataan si lara, seraya berkata halus, "Oh Anaknda yang bagus, hapuslah air mata (kesedihanmu) sekarang, kodrat manusia, sukaduka berjumpa, marilah pulang, ke rumah bibi,ada saudaramu manis, itu ibu berikan.

10. Namun kurang cantik am at jelek, dan bodoh, belum terdidik, senang berilah hati, ditinggalkan ayah, bernama Diah Arini, maafkanlah, orang dusun." Raden Mantri senang mendengar, laksana, tumbuhan rambat mendapat air, di kala hujan sasih kapat.

11. Maniguna gembira menjawab, "Ia Bibi, aku tiada berpanjang, menurut kehendak, kasih Bibi memungut, aku orang yang amat dewa." Ni Rangda sekarang berkata, "Sang Mantri lalu berjalan, bersamaan berangkat."

12. Tak terceritakan di jalan, cepat tiba, di rumahnya, Ni Rangda riang hatinya, bersama lalu menuju, ke tempat tidur Ni Diah Arini, seraya berkata, "Anakku, bangunlah kau, ibu dapat,
memungut orang amat mulia, bagai kesayangan Tuhan."

13. Sang cantik kaget bangun, mengusap mata, seakan dalam mimpi, "Hyang Kama datang kemari, mem bawa puspa harum, menimpa dada, saat di tempat tidur, selalu menghelus yang istri." Ni Rangda berkata halus, "Ini datang, seorang bagai Hyang Astrasari, inilah jodohmu."

14. Sang Ayu bagai mekar hatinya, tercengang, diberi, orang laki


130 [ 119 ]bagus rupanya, Raden Mantri tersipu, Ni Diah Arini cantik mulia, saling beradu pandang, sama-sama terpesona, Ni Rangda menyadari roman muka, dan berkata, "Anakku berdua, tinggalah di sini.

15. Selesaikan ciPita kasihmu, ibu mohon diri, menyiapkan makanano" Lalu berjalan segera, Sang Mantri dan sang Ayu, mereka masih dalam kamar, sama membendung hati, malu meliputi, Maniguna sekarang berkata, "Ya dewi, yang Jaksana Hyang Cita Rasmi, laksana raja pemberi hidup.

16. Kasihanilah aku orang lara, amat sukar, bagai tumbuhan rambat, senantiasa panas hati, jika tanpa kasihmu, menghujani aku sekarang, tentu layu daunnya, jika tak dapat memeluk, tentu lunglai di siang hari, disentak matahari, pasti akan mati, berikanlah kasihmu.

17. Jika kau telah mengasihi, si sengsara ini, aku bersedia, hormatlah Kakanda sekarang, jadi pengabdi, jadi pembawa cermin, juga membawa bunga, di kala bermahkota, tak berani aku menolak, ya adinda, teruskanlah kasihmu mas manik, bersama setempat tidur.

18. Walau tujuh kali aku menjelma, agar takjauh, walau tujuh kali, kita lahir, agar dapat bertemu, mengiringkan kehendak adinda, menyatu dalam hidup, menjadi abdi." Lalu ia memeluk pinggang, seraya menghelus, sang ayu sadar tak terhingga,
menyiku dan mencakar.

19 Sang Mantri tak habis merayu, minta maaf, serta menciumi, sang ayu menangis tersedu-sedu, Sang Mantri lagi berkata, "Takut aku sekarang, sebagai tanah padas, dicakar kuku, hancur badanku, terluka." sang ayu lalu terlena, membuka pengikat kainnya.

20. Maniguna riang mengambil tepi, dikuakkan, telah ditindih, sang ayu lesu seketika, bagai bulan habis ditelan, warna sayu berganti cerah, lalu diulang, bagai tertelan terasa, bertemu sepah, jika dirasakan, bau gurih pinang wangi, tampak amat serasi.

21. Panjang jika diceriterakan semua, tingkah, Sang Mantri mengemban istri, telah lama berkeluarga, kira-kira tiga tahun, sama-sama cinta kasih bersuami, lalu beliau menceritakan,


131 [ 120 ]keadaannya dulu, setelah semua diceritakan , makin ingat, Sang Mantri pada rumahnya dulu, seketika ingin kembali pulang.

22. "Adinda yang bagai Hyang Giri Putri, sungguh Dinda, raja utama, maafkan Kakanda sekarang, hendak mohon diri pulang, meninggalkan Adinda sekarang, jangan salah sangka, bukanlah aku , berarti meninggalkan cinta, pada Adinda, tapi menengok ibu , kedua dengan ayah.

23. Lamanya aku meninggalkan, oh mas mirah, tak lebih sebulan, kembali aku datang kemari, memeluk sang cantik nan molek, melanjutkan cinta bakti, menampung suka duka, sesama keinginan, ingatlah ratu mas mirah, kataku." Sang Ayu berkata lirih, "Ia Kakanda pangeran.

24. Berkata dengan tangis, kesedihan, apalah artinya aku, ditinggalkan Kakanda sekarang, bagai tunjung sedang mekar, di kala kehabisan air, pastilah akan layu, ingatlah kanda, dua burung cakrawala, di kala mendung, tak urungkan bersedih, ditinggalkan oleh suami."

25. Banyak pembicaraan mereka yang hendak berpisah, keduanya, telah bersimpuh, sama-sama memegang cinta kasih, Maniguna berangkat, namun masih tersendat-sendat, yang meninggalkan dan ditinggalkan, sama termangu-mangu, setiap melihat menyebabkan bimbang perjalanan, tak tcrkatakan dalam perjalanan, semua selamat.


132 [ 121 ]DURMA

1. Diceritakan sekarang sri baginda raja, di negara Nandana, rakyatnya makmur damai, namun masih jejaka, wajahnya amat bagus, memerintah jagat, tapi belum beristri.

2. Keesokan harinya keluarlah beiiau di balai pertemuan, penuh sesak, sating berbincang-bincan, dengan para patih, semua duduk sesuai tata krama, sebagai ketua, Patih Waktra tersayang.

3. San Raja Rona Muka riang berkata, "Eh kau Rakrian Patih, mengapa lama, dutaku tak datang." Ki patih menjawab halus, bagai jatuhnya bunga," daulat Paduka Sri Bupati.

4. Hamba kira, sebabnya tidak segera datang, karena amat sukar cari istri utama, sebagai istri paduka raja, tunggulah perjalanan duta tersebut."

5. Tak terkatakan keadaannya dalam rapat, si duta sekarang datang, bernama Wijayakta, sudah membawa berita, dipersembahkan pada baginda raja, sang baru datang, sujud seraya menyembrahma.

6. Sang raja menyadari Rona Muka sang baru datang, lalu berkata pelan, "Dekatlah dudukmu, bagaimana Wijayakta, pekerjaanmu tugas ini, berhasil atau tidak, mencari istri?"

7. "Daulat Tuanku hamba dapat menemukan, wanita di hutan gunung, tiada banding cantiknya, anak Rangda Druta, bagai santan dengan gula pasir, sekala, pantas sebagai kembang keraton."

8. Senang hati sang raja menanggapi berita, diresapkan dalam angan-angan, menghayal, kelahiran manusia yang sempurna, bagai sukma keindahan , membangkitkan kerinduan , mendengar cerita ini.


133 [ 122 ]9. Serta berkata sang raja sendu, "Oh masku dinda, raja keindahan, Kakanda sangat rindu, panah Hyang Kama menusuk, hingga luka, menyentuh jiwa sampai ke hati."

10. Patih Waktra lalu matur serta sembah, "Paduka Sri Baginda, jangan mengigau, sekarang hamba mohon diri, mencari yang diangankan, tiada ragu, dapat hari ini juga."

11. Telah selesai atur Patih Waktra, sang raja berkata lirih, "Tapi kau diturut, dengan segala tunggangan, Aku turut berangkat." Ki Patih Waktra, telah siap sekarang.

12. Bedil panah semua gemuruh, tombak serta perisai, serta pedang, kendang gong bersautan, kesenian irama gamelan, teriring irama gita, pejalanan orang mencari istri.

13. Sang raja duduk di kursi emas, menyanding lalancang mas, juga berpayung kembar, jalannya teratur, gemuruh bagai gunung sari, sekarang telah lewat, perbatasan wilayah.

14. Tak terkatakan perjalanann. dalam hutan, cepat tiba sekarang, di padukuhan, Ni Rangua Druta kaget, melihat sang baru datang, penuh perhatian, sang raja mendekat.

15. Serta berkata dengan manis menghormat, "lh Bibiku ini, tuluskanlah kasihmu, anakmu aku pinta, sebagai istriku Bibi." Ni Rangda Druta, bimbang matur, "Ya Tuanku."

16. Sekarang biarlah aku membawa anakmu, pulang ke keraton, seraya berangkat, mengambil gadis itu, Sang Diah kaget serta menangis, bagai dibelah, dada Ni Diah Arini.

17. Tak terkatakan telah duduk di joli emas, dipayungi serba bersama serta suara gong, cepat di jalan, sudah tiba di taman sari, di balai kaca, peralatan serba megah.

18. Baginda raja gembira lalu berkata, "Duh mas mirahku dinda, sang raja keindahan, tulus kasihmu mas mirah, mengobati duka lara, yang amat sangat, Sang Hyang Semaranagdi."

134 [ 123 ]SMARANDANA;

1. Sang Diah tidak menjawab, masih menimbang-nimbang dalam pikiran, sang raja berkata pelan, "Duh mas mirah pujaan sukmaku, apa yang kau kehendaki, manik serba halus, setiap kau angankan pasti ada."

2. Sng ayu lalu berkata, sebab memang bijaksana, seketika membuat daya upaya, "Ya Tuanku baginda, maafkanlah hamba, berani memohon kepada baginda, Ada kakak hamba hilang.

3. Maniguna yang hamba kasihi, jika kiranya bisa datang, saat ini terpenuhi kehendak tuanku, menyerahkan jiwa raga." Sang raja lalu berkata, "Sekarang aku suruh mencari, janganlah kau kecil hati."

4. Seraya memanggil Ki Patih, Ki Patih segera datang, datang menghadap sang raja, sang raja berkata sekarang, "Sekarang kau kusuruh, sang ayu memohon kepadaku, kakak sang ayu.

5. "Kakak sang ayu, namanya Maniguna, carilah itu sekarang, sekarang berangkatlah kau. "Vijayakta tak menolak lalu menyembah sujud, mohon diri lalu berangkat.

6. Si duta telah berjalan, tak terkatakan dalam perjalanan, Maniguna sekarang ceritakan, disambar oleh burung gagak, berada di angkasa, mendung datang menyelimuti, suatu tanda ada bahaya.

7. Maniguna berpikir, hati tetap berdebar-debar, seketika ada suara pelan-pelan, dari angkasa kedengarannya, "lh kau cucuku, istrimu mendapat kesedihan, diambil oleh Sri Dandaka."

8. Setelah Sang Mantri mendengar, bagai sesak dadanya, air matanya berlinang, seraya berkata dalam hati, "Apakah sebabnya aku, tiada hentinya menyandang duka, siapakah dapat menolong.


135 [ 124 ]9. Mengasihani orang kesedihan, di sini di dalam hutan, lama aku menderita duka, . tak beda dengan burung Soka, di bulan mati, bagai tumbuhan rambat mengharap hujan, di kala bulan September.

10. Duhai sang bagai dewi asmara, lihatlah aku duka lara, selalu dekat di mata, jika kau masih cinta, di mana tinggalmu sekarang, berilah petunjuk, arah berjalan sekarang."

11. Berjalan mengikuti tingkah, senantiasa menghimbau, tampak keindahan hutan, segalanya membangkitkan kerinduan, lebih-lebih burung Soka, di pohon mendampingi bininya, semakin membangkitkan duka.

12. I Belibis di telaga, bercumbu rayu dengan bininya, burung satiwana di pohon merayu, suaminya bagai bersorak, kera di pohon, mencumbu suami saling peluk, seakan merangsang hati.

13. Tumbuhan gadung dilihat, melilit pohon ragas, seumpama tangan Sang Mantri , memeluk pinggang Sang Diah, kumbang mengisap bunga, merayu nan terkasih, kelapa kuning berkembaran.

14. Bagai buah dada jika diumpamakan, awan bagai wajahnya, biru indah kelihatan, seni dipandang mata, kembang sridanta waja, pudak cinaga bagai kaki, angsana menuh menyatu dalam raga.

15. Rumput lebat di gunung, bagai sanggul sang istri, serta pencipta keagungan, di waktu bermesraan, sekarang ia tertinggalkan, meratapi sang ayu , semakin menyayat hati.

16. Sang Mantri selalu sedih, menelusuri hutan turun jurang, setelah lama amat payah, istirahat di bawah angsoka, tiba-tiba datang Wijayakta, duta sang Prabu Dandaka, sang Mantri kaget melihatnya.

17. Lau berkata halus, "maafkan aku, bertanya padamu sekarang, siapa dan apakah tujuanmu, sampai di hutan gunung." Sang utusan sekarang berkata, "Baginda raja mengutus aku.

18. Beliau di Dandaka, mencari sang Maniguna, karena permintaan putri ayu, anak Rangda Druta, diambil oleh Raja." Sang Mantri balas menjawab, "Ya hambalah Maniguna.


136 [ 125 ]19. Orang yang amat sengsara, selama hidup bersedih, sang patih berkata pelan, "Marilah anakku, janganlah kau menyesal, mari ikuti aku, mengharap baginda Sri Dandaka."

20. Sang raja amat kasihan, juga adiknya sang putri, senantiasa menangis di tempat tidur, sang utusan berjalan, bersamaan Wijayakta, tiada tersebut telah sampai, di belakang taman Dandaka.

PANGKUR

1. Sang raja lagi diceritakan, setelah merayu sang jelita, namun belum ditanggapi, lalu keluar keraton, menghibur hati nan bingung, melihat telaga memukau, airnya bening.

2. lkannya berseliweran, kawannya berenang laju berebut makanan, berebut dedak berkumpul, insang besar mengagumkari, kibas-kibas bagai menari payung dadu, di bawah bunga tunjung mekar, dikalahkan ikan kecil.

3. Bunganya bersusun-susun, serba indah pusparagam, sedang menarik asmara, berbekal luuas tanah, merencanakan keindahan taman bunga, mengiang kumbang pada bunga, bagai asmara mengemban istri.

4. Patung mestika beJjejer, menyilaukan disinari matahari, berupa istri pada asmara, juga batu mengkilap, putih-putih

4. Patung mestika beJjejer, menyilaukan disinari matahari, berupa istri pada asmara, juga batu mengkilap, putih-putih penutup halaman halus, tak beda dengan indraloka, manik nilam serba mewah.

5. Sang rcija semakin terangsang, rindunya pada sang laksana Dewi Ratih, duduk di batu halus, di bawah bunga seroja, meninjau duta yang belum datang, tiba-tiba Wijayakta, Maniguna menyertai.

6. Sang rcija riang di hati, setelah melihat sang Wijayakta datang, rona muka cerah seketika, sang raja lalu berkata, "Dekatlah padaku sekarang, yang datang hatur sembah."


137 [ 126 ]7. "Ini Sang Maniguna, bersedih bertemu di hutan gunung, menyandang lara terlunta-lunta, mungkin suka sekarang, karena telah bertemu sang ayu." Sang raja suka mendengar, berkata halus manis,

8. "Oh Adik Sang Maniguna, tiada lain adik mengobati duka lara tiada dicintai sang ayu, aku amat duka, sekarang Adik merayu sang putri, apabila mau, di sini kau menjabat patih."

9. "Paduka Sri Baginda, amat murah hati pada hamba, sekehendak paduka, hamba laksanakan, namun tunggu kedatangan hamba sekarang, bertemu pada sang putri." Manggut Sang Raja.

10. Tak terkata Sang Maniguna, telah bertemu dengan Diah Arini, matahari te1ah tenggelam , patut memasang lampu, hujan angin berhembus kayu rebah, menimpa balai kaca, banyak orang menjerit.

11. Saat itu Sang Maniguna, bersamaan Diah Arini keluar, menyamar pada orang yang keluar masuk, berja1an tergesa-gesa, sang raja menanyakan sang putri, dengan Sang Maniguna, dimaklumkan te1ah hilang.

12. Meledak kemarahan raja, meni tahkan para patih semua, disuruh pukul kcntongan besar, sang raja berangkat, tak menentu mencari sang putri, masuk di Nandanawana, gemuruh sekalian orang mengiringkan.

13. Ni Rangda meninggal, atas sebab sakit hati, telah lebur jadi abu, sang pria datang menjemput, tak terkisah di sorga suka sekehendak, sang raja cepat tiba, di padukuhan sepi.

14. Tak terkatakan sang raja, kembali pada perjalanan Diah Arini, bersamaan Sang Mantri, tiada henti berjalan, telah tiba di tengah hutan lebat, menurun jurang naik gunung, berdandan dalam hutan.

15. Suami istri meracau, "lbu ayah 1ihat1ah aku di sini, menyandang lara amat panas, di tengah hutan gunung, siapakah akan menolong sekarang, tentulah akan mati, di hutan gunung ini."

16. Sinar merah di timur menyingsing, bersautan merdu suara burung, Tuan Mantri melanjutkan perjalanan, senantiasa bersamaan, saling hibur sebagai jaminan kesedihan, tunda sejenak mereka di hutan, diceritakan Sri Dupati.


138 [ 127 ]17. Negara Madakka, akan merasam pergi ke hutan gunung, para patih bertunggang gajah, mereka telah siap, serta jaring telah dipasang, kendang gong bertalu-talu , serta sorak riuh rendah.

18. Anjingnya semua galak, mencari buruan para patih mengitari, ada membunuh dengan tombak, banyak mati tertombak, ada mati kena jaring terbungkus, banyak binatang bermacammacam, dipersembahkan kepada sang raja.

19. Sang raja bersuka ria, melihat binatang banyak kena, disuruh mengumpulkan bawa pulang, setelah diikat, sang raja telah menunggang kuda jamus , jalannya pelan, para mentri mengiringkan.

20. Diceritakan sang lara, ada di hutan suami-istri , jalannya terlunta-lunta, naik gunung turon jurang, setelah letih lalu melihat-lihat, mencari tempat istirahat, di bawah bunga sumar seroja mrik.

21. Tiba-tiba datang sang raja, kaget melihat sang lara berdua, ropanya amat cantik, sang raja semakin tertarik, lalu turon berkata manis halus, "Ih kau berdua, dari mana kau di sini.

22. Dan siapa namamu." Yang ditanya cepat menjawab, "Paduka Sri Baginda, hamba Sang Maniguna, istri hamba Diah Arini, namanya, sedang duka lara, menyusup ke hutan gunung."

23. Prabu mabuk angkara, dibunuh Maniguna sampai mati, Sang Diah lalu diambil, "Duh dewa atmajiwa, tolong kasihmu bersamaan sekarang, mari pulang ke negara, jangan bim bang hati."

24. Diah Arini sungguh cerdik, menutup sedih diselimuti manis, manis katanya bercampur kelakar, guyon berwajah manis, lalu berkata, "Ia Tuanku raja, saatnya hamba mendapat suka, mengabdi pada raja mulia.

25. Harap dimaafkan, amat dusun nista ropa dena, senantiasa menyandang duka, tinggal di hutan gunung." Sang raja terpesona nan terlena, tak sadar akan kemanisari, tertawan dibakar hati.

26. Setelah berkata-kata, bersamaan menunggang kuda cepat, sang ayu di belakang, perjalanan cepat, naik gunung para pa-

139 [ 128 ]tih jauh di belakang, saat itu Sang Diah dapat kesempatan, didorong sang raja.

27. Sekalian terus ditikam, sampai mati dengan keris kecil, sang ayu lalu menyamar, pergi tergopoh-gopoh, tak diketahui kelihatan mencari mayat suaminya, tak terkisahkan di jalan, tiba pada mayat suami.

28. Tertinggalkan yang mati, terlentang di bawah puspa seroja, lalu Sang Diah memperbaiki, mengusap-usap badan, kain dibuka ditutupkan yang mati, serta luka telah diobati, doogan usaha Sang Diah Arini.

29. Senantiasa meratap, bagai burung soka memelas kasih, mayat senantiasa dipelihara, setiap membuka menangis, "Oh Kanda lihatlah aku, siapakah pembelaku, di sini di tengah hutan sepi.

30. Sampai hati kau meninggalkan, namun tunggu aku di titi neraka, serta di jalan panas, ataupun di Yamaloka, agar ikut bersamaan setuntun, Duh Hyang Dosa Lokapala, lihat hamba satya suami."

31. Belum habis perkataan, senantiasa ada hikmah Tuhan, tampak ular suami istri, bersenggama di telaga, berbelitan yang perempuan mati, yang laki kaget melihat, mengambil kayu mengobati.

32. Cepat hidup habis disembur, sempurna keadaannya seperti semula, lalu hilang menuju semak, Sang Diah berkenan meniru, mengambil kayu dikunyah sampai hancur, lalu disembur yang mati, kemudian hidup lalu bangun.

33. Sang bagus berkata, "Duh mas mirah sang mustika hati, siapa menghidupkan aku." Sang ayu menjawab, menceritakan keadaannya yang baru lalu, si suami senang mendengar, simpan kayunya sekarang.

34. Sang Diah berkta pelan, "Ya Kanda ke mana kita sekarang, amat ragu di jalan, jika tidak pasrah hati." Maniguna menjawab bersedia sependapat, berjalan tiada tujuan, tiba di puncak gunung.

35. Tenang tampaklah laut, di arah timur Tuan Mantri lalu berkata, "Ya Adinda, mohon Dinda pergi, ke pantai mungkin


140 [ 129 ]ada orang bersampan, dari negara Madraka." Sang ayu ikut suami.

36. Perjalanan amat cepat, menurun jurang sempit serta berbahaya, semakin sukar sang ayu, melewati jurang, telah tiba di bawah angsoka berteduh, bersamaan seraya melihat, keindahan laut dan gunung.


SINOM


1. Kecantikan buga dipetik, dielus kelapa gading, yang bermesraan kemudian lunglai, Raden Mantri berkata halus, "Ya dewa masku Dinda, bijaksana dalam laku, setiap melihat terpesona, bergoyanglah segala kembang, seakan mengharap, menyuruh menyumpingkannya.

2. Setelah tenggelam matahari, berganti gelap gulita, gajah warak singa harimau, bercanda mengaum menguak, serta galak di malam hari, semua kasih pada sang harum, tak terkatakan sang sengsara, di tepi hutan gunung, menyandang sedih, telah bersalin pagi.

3. Ceritakan Prabu Canda, menunggang perahu putih, bersenang-senang di laut, kemudian di hutan gunung, aneka kembang, sang raja ingin bersenang, tak terkisahkan di perjalanan, telah tiba di batas, banyak andugur, sang raja berteduh.

4. Di rerimbunan angsoka terurai, sang raja lalu melihat, orang berteduh suami istri, ketampanannya serasi, tingkah laku mulia, terpesona sang raja, kacau bingunglah hati, bagai sari gula pasir, membangkitkan asmara, sang raja berkata halus

5. "Ih kau berdua, dari mana kau di sini, dan siapa namamu." Sang putra lalu menjawab, "Daulat Tuanku, hamba dalam duka lara, bersamaan dengan istri, hamba menghendaki hidup, segala titah, memungut hamba mengiringkan.

6. Nama hamba Maniguna, istri hamba bernama Arini." Sang raja berkata halus, "Duh Adik berdua, jangan berkecil hati, mari sekarang bersama pulang, ke negara Canda." Suami istri berkata, "Ia seiring, sang raja menaiki kapal."


141 [ 130 ]7. Jalannya amat cepat, sampai di tengah laut, sang raja membuat daya upaya, mengambil makanan serba enak, meminum tuak arak, warnanya semua halus, disertai araksa-pinca, terhibur Raden Mantri, makan minum, mabuk tak sadarkan diri.

8. Maniguna dihanyutkan, ditipu jelas, mengapung di laut, riang gembira sang raja, mengemban sang ayu cantik, tak ragu dalam hati, mengandalkan kewibawaan, tak terkisah dalam perjalanan, telah tiba, di keraton pabancingah.

9. Lalu sang raja berkata, merayu nan manis, "Dewa sang rasinya keraton, dalam kecerdikan Saraswati, bayangan rupa Ilyang Ratih, kumpulan manis muluk, raja keindahan, mengalahkan cantik sejagat, pantas sombongkan, istri ayu seratus jagat (negara).

10. Ya berikanlah kasihmu padaku, mencapai mesranya cinta, tiada lain dinda mewarisi, di sini di negara Canda." seraya menghelus pipi, lalu dipeluk sang ayu, entah terbuka tutup dada, amat bingung Diah Arini, memelas rayu, lalu berkata membuat daya upaya.

11. "Daulat Baginda tiada banding, terpuji hal kepandaian, hamba nista rupa tiada tolak, namun tunggulah malam, hamba tak mau jauh, bagai gula habis dikulum, kapan hilang manisnya, kewibawaan tuanku sekarang, amat terkenal, penakluk musuh sejagat.

12. Terpesonalah hamba melihat, keindahan keraton ini, tak beda smara loka, terkumpulnya aneka nilam, pantas ratunya dunia, tunduk semua hormat, menyerahkan kekuasaan, semua tunduk serta hormat, amat terkenal, apa yang mengalahkan?"

13. Duh dinda yang bagai keindahan, ini ada warisan keris, tak pernah terpisah dengan kanda, amat berguna rrtahasakti, anugrah Tuhan, jika ditancapkan api menyala, bisa menghancurkan segala yang galak, telah malam sekarang mohon, masuk ke tempat tidur.

14. Diah Arini semakin marah, ingat akan kematian suami, telah hanyut di 1aut, panas hatinya bagai api, terdorong satya suami, lalu ia menghunus keris, ke luar api membara, terkejut sang raja, dan ditikam, sang raja hancur.


142 [ 131 ]15. Ribut seisi negara, sang ayu segera ke1uar, jalannya tergesa­-gesa, menuju hutan gunung, berjalan tiada henti, menuruti gunung jurang, tiba di da1am hutan, am at baik di jalan, amat letih, kaki bergetar kepayahan.

16. Senantiasa menghimbau, menyebut yang telah mati, "Lihatlah aku duka lara, di sini di hutan gunung, mungkin tiada Tuhan tiada kasih, menyandang duka tiada henti, namun tunjukkanlah, agar ketemu sang mati, ia Tuhan, ingin mati bersamaan."

17. Binatang-binatang di hutan, 1uar biasa merebut bukti, gajah warak singa beruang, buaya macan menyertai, menunjukkan ja1an, semua kasih pada sang harum, berkitar menjaga, berkata Diah Arini, "Makanlah aku kare.na bosan sengsara."

18. Ah ah kau sukmaku, apa senangmu hidup, nah dewa kematian, rampas1ah atmaku, sang ayu melihat sinar suci di langit, serta petir berkilap-kilap, sinar mata menyilaukan, bagai titah, di tempat sang te1ah mati.

19. Jalannya dipercepat, mencari kilatan petir, tak terkisahkan ia di hutan, telah tiba di pantai, menurut pantai bersedih, menghimbau sang suami, terlihat terapung, sang ayu mendekati, la1u diambil, serta bawa ke tepian.

20. Talinya lalu dilepaskan, Raden Mantri tergeletak, ditutpi pandan harum, ditidurkan di tempat teduh, ingat akan cara menghidupkan, segera Sang Diah mengambil kayu, dikunyah disemburkan, megap-megam Raden Mantri, lalu bangun, mengusap mata perlahan.

21. Bam menyusun sukma, sang Hyang Atma telah pulang, di masing-masing sukma tinggal, namun masih hening pangling, dilihat Sang Diah Arini, duduk memangkunya, seraya berkata pelan, "Duh Dinda sang satya suami, tiada henti, mendapat duka lara.

22. Bagaimana caramu Dinda, sehingga datang lagi, setelah diambil oleh sang raja, jauh nian akan ketemu, jika tanpa kasih Tuhan, menunjukkan Adiknda." Sang ayu berkata lirih, menceritakan keadaannya semua, setelah selesai, bercerita cara jengah.


143 [ 132 ]23. Ke mana sekarang Kanda, di mana Puri Madraka, ke arah manakah aku berjalan, di hutan gunung ini, pastilah kita mati, siapa kan memberi makan, "Ia dinda sang cantik, buah-buahan makan, agar meniru, segala binatang di hutan.

24. Mohon naik gunung ", Sang ayu lalu berjalan, bersamaan berjalan pelan, melihat keindahan gunung dan lautan, mekarnya puspa ragam, buah-buahan bergelayutan, menggiurkan buahnya, tahu akan kedatangan tamu, banyak masak, untuk makan sang berduaan.

25. Setelah memakan buah, di batu dasar duduk, diteduhi rimbunnya angsoka, Raden Mantri lalu berkata, "Duh Dinda mas manik, marilah sekarang berjalan, di tepi laut, melihat keindahan pantai." Suami istri, sama bersuka ria bermesraan.

26. Tak terkisahkan sang kesengsaraan, ada nelayan memancing, berlayar dengan perahu jukung, rusak oleh hujan angin, tali layarnya putus semua, akhirnya hanyut, tak terhindarkan, nyaris mati, pasrah, turun di dekat sang lara.

27. Berkata Maniguna, "Ih dari mana kau kakek, apa yang kau kerjakan, beritahulah aku ini?" Nelayan menjawab, "Oh Anak sang bagus, rakyat Madraka aku, tertimpa arus hujan angin, mendapat bahaya, hanyut sampai jauh.

28. "Kakek orang negara Madraka, amat bahagia aku ini, bagai titah kedatanganmu, di tepi laut dan gunung, sebenarnya gustimu, Maniguna jika dipanggil, Mantri negara Madraka, amat sengsara duka lara, mendapat bahagia, bersamaan sang ayu."

29. Nelayan maklurri sujud, memeluk kaki seiring tangis, "Ya dewa mas pangeran, hanyut hamba ke sini, bagai titah Tuhan, agar ada yang menjemput, pulang ke negara Madraka." Suka ria suami istri, sama turut, naik sampan berlayar.

30. Layar telah terkembang, sama waspada mengimbangi, perjalanan amat cepat, didorong oleh angin semilir, laju dihembus angin, tiada terhitung menempuh arus, tak terkatakan di lautan, cepat tiba di tepian, telah turun, lalu ke rumah nelayan.

31. Berapa hari lamanya, diemban nelayan semua, setiap orang


144 [ 133 ]heran, melihat sang tampan, Sang Diah cantik mulia, sebanding dengan rupa ayu, juga dalam hal kepandaian, kewibawaan amat mulia, cocok dihormati, menjadi raja di Madraka.

32. Prabu Madraka ceriterakan, mendengar kabar sesungguhnya, tentang putra datang, namun masih isu-isu, membawa istri cantik mulia, sang raja berkata halus, "Eh kau para patih, juga kau rakrian patih, kau kusuruh, mengundang sang baru datang."

33. Maha patih berkata sujud, bersama-sama semua pengiring, seraya mohon diri pada sang raja, menjemput Raden Mantri, mahawan dampa gading, disambut dengan taburan bunga, tak terkisahkan kemeriahan, tiba si patih menghadap, sang abagus, bersanding dengan sang gemulai.

34. Lalu berkata dengan sujud, "Ya Ratu Raden Mantri, adalah kehendak sang raja, mengutus hamba datang sekarang, memberi tahu Raden Mantri, bersamaan sang ahayu, hendaklah di joli tersedia, yang diundang senang hati, telah selesai, berdua naik joli.

35. Jalannya pelan-pelan, bala wadwa banyak mengiring bagai gelombang lautan indah, beriringan kuda kuning, bertedung payung kuning, kain putih tunggulnya, kuda asua tunggangan, bagaikan Hyang Semara Ratih, sungguh mempesona telah dekat di Madraka.

36. Tak terkisahkan dalam perjalanan, cepat tiba di kraton, lalu menghadap pada sang raja, pria wanita menaburkan bunga, sampai para mantri, semua duduk hormat, suka ria sang raja, bersama permaisuri, tercengang heran, menatap sang berbahagia.

37. Ditanya oleh sang raja, akan hal mendapat istri, tingkah halus muda belia, putri siapa, sang ayu menjelaskan, keadaannya dalam duka, semasih di hutan gunung, antara mati dan hidup, semua dijelaskan, heran semua mendengar.

38. Setelah bercerita, suami istri lalu mohon diri, serta sujud pada sang raja, juga pada permaisuri, manggut tersenyum manis, matahari telah tenggelam, patut menyalakan lampu, inang pengasuh mengiringkan, sang ahayu, diiring sampai ke tempat tidur. PN BALAI PUSTAKA - Jakarta

Karya ini berada pada domain publik di Indonesia karena dipublikasikan dan/atau didistribusikan oleh Pemerintah Republik Indonesia, berdasarkan Pasal 43 Undang-undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta.

Perbuatan yang tidak dianggap sebagai pelanggaran Hak Cipta meliputi:

  1. Pengumuman, Pendistribusian, Komunikasi, dan/atau Penggandaan lambang negara dan lagu kebangsaan menurut sifatnya yang asli;
  2. Pengumuman, Pendistribusian, Komunikasi, dan/atau Penggandaan segala sesuatu yang dilaksanakan oleh atau atas nama pemerintah, kecuali dinyatakan dilindungi oleh peraturan perundang-undangan, pernyataan pada Ciptaan tersebut, atau ketika terhadap Ciptaan tersebut dilakukan Pengumuman, Pendistribusian, Komunikasi, dan/atau Penggandaan;
  3. ...
  4. Penggandaan, Pengumuman, dan/atau Pendistribusian Potret Presiden, Wakil Presiden, mantan Presiden, mantan Wakil Presiden, Pahlawan Nasional, pimpinan lembaga negara, pimpinan kementerian/lembaga pemerintah non kementerian, dan/atau kepala daerah dengan memperhatikan martabat dan kewajaran sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.