namanya itu, lalu beliau menyiapkan, rakyat lengkap dengan senjata, perjalanannya beruntutan, Sang Raja Samba, waspada beliau berjalan.
10. Diceriterakan tiba-tiba sampai di hutan, di pinggiran kerajaan, di Priogjoti, Sang Prabu Jarasanda, jalannya amat cepat, disertai tentara, banyak tak terhibung.
11. Sang raja putra waspada di jalan, bersama sang raja putri, ti-
dak berpisah dengan para inang pengasuh, Tilotama mengiringi, inang pengasuh Nitiharsa, mendengar sorak-sorai, suara gajah menjerit.
12. Sang Samba amat teguh serta perwira, tidak gentar sedikitpun, walaupun musuh banyak, mendesak menerjangkan, kuda gajah dan singa, dengan gajahnya, dengan segala kemampuannya memanah.
13. Sang Samba kemudian beliau memanah, dengan senjata runcing panah yang mengeluarkan api, Narayana Naraca, beserta musuhnya habis mati, empat juta, rakyatnya terpukul mundur.
14. Terkejut beliau Sang Prabu Jarasanda, mengangkat busur berkilauan, panah api bernyala-nyala, menjilat sang raja putra, amat berwibawa, akan merusak, Sang Samba yang perwira.
15. Panah Barunastra itu dipakai membalas, hujan dan angin mematikan api, Sang Jarasanda terkejut, karena api itu mati, lalu membalas, dengan panah siladri.
16. Sang Samba beliau marah . . . . ., cakra yang amat sakti itu dihujamkan, berkobarlah memenuhi angkasa, merusak senjata panah tadi, hanguslah semuanya, rakyat Magada menderita kekalahan.
17. Sang Jarasanda sangat kecewa, mengangkat panah tersohor, bernama panah Nagapasa, menganga mau menyergap, Sang Samba waspada cepat, senjata panah candrahasa, ditarik dengan sekuat tenaga.
18. Merusakkan Nagastra, putus berkeping-keping di angkasa, marah Jarasanda, menghunus senjata, memanah dan membidik, Sang Samba terkejut, kena dan tertelungkup di bumi.
106