garang, tidakkah akan kemari, apabila ada yang mencerierakan.
103. Sang Samba berkata cepat, kepada Raden Dewi, "Aku tidak takut mati, asal untuk mengisi hati, walaupun datang bersama bencana datang ke mari, tidak luput akan dibunuh."
104. Diceriterakan sudah siang, para emban pengasuh, sudah bangun, cepat ia menghadap Tilotama di halaman, lalu bertanya, bibi emban I Nitiharsa.
105. "Ya, Tuan junjungan hamba, kapan Tuan datang, ke mana tuan putri pergi, mengapa lama tidak datang, Raden Dewi menunggu-nunggu, setiap hari, menyebut-nyebut Tuan putri.
106. Tilotama berkata pelan tutur katanya manis, "Aku pergi ke Malaya, pergi menurutkan kata hati, melihat-lihat tanah tegalan dan hutan, dan gunung, menyelusuri segenap pertapa.
107. Nitiharsa mengerti, lalu menyahut, timbul pertanyaan perlahan, "Semoga ditemui, yang menjadi tuntunan hati, beliau kemari, hamba bersedia mengikuti.
108. Tapi mari sembunyikan, supaya tidak ada orang tahu, karena penjagaan ketat, apalagi ada yang menyamar, supaya tidak kentara, beliau di sini, tak urung menemui ajal."
109. Sang pengasuh menyaksikan, Tilotama sudah tiba, tiba-tiba ia mendekat cepat, bertanya dengan halus, ke mana pergi i mirah?, oh tuanku, raja yang cantik jelita tinggal.
110. Hamba ditinggalkan, oleh beliau Raden Dewi, tidak hamba tahu kesalahan, beliau raja juwita marah, dan hamba disuruhnya, carilah tuan, keseluruh pelosok.
111. Tilotama berkata pelan, "Pikiran hamba tidak di sini, aku pulang ke sorga, menghadap ayah ibu, karena sudah lama sekali, hamba di sini, tidak pernah hamba pulang."
112. Yadnyawati beliau keluar, Tilotama dipanggil, "Marilah Kakak dekat." Tilotama berkata, "Tunggu sebentar, Mas Mirah." Yadnyawati, lagi beliau masuk ke kamar.
113. Tilotama sekarang berjalan, lalu beliau masuk, Sang Samba berkata (pelan) "Di sinilah Tuan tinggal, hamba akan menanyakan, di mana ada jalan keluar.
103