Cebur nuju daging

Kaca:PEPARIKAN MAHABHARATA.pdf/91

Saking Wikisource
Kaca puniki kavalidasi

71. Tilotama cepat menjawab, dengan nada manis, ke sana kemari di dalam hutan, bertemulah dengan beliau, namanya Sang Samba, memang benar, laksana Darmadewa.

72. Anak Sang Kesawa, Bupati di Dwarawati, penjelmaan yang persis, para penjahat pasti takut, mengalahkan perabu Kangsa, terkenal sakti, terkenal di ketiga alam ini.

73. Yadnyawati gembira mendengar, semua tingkah lakunya manis, berkata perlahan, "Sekarang di rpana beliau, mengapa dibiarkan menunggu di luar, carilah, supaya dikenal orang.

74. Sang Samba telah mendengar, perkataan Raden Dewi, lalu beliau menghadap, di puri beliau duduk, bic-aranya perlahan, Raden Dewi, terkejut melihatnya.

75. Tunduklah raja yang cantik itu, malu-malu kucing, berbicara pelan, "Siapa ini yang ikut? Lotama suruhlah pergi, cepatcepat, suruhlah ia ke luar.

76. Hamba tidak rela, orang laki datang ke mari, apalagi masuk ke dalam rumah, suruhlah duduk di luar, mengapa Kakak berani melanggar, mengajak ke mari, suruhlah pergi embok cepat.

77. Kalau tahu beliau sang raja, tak heran kita dibunuhnya, direbut dan dijadikan mangsa, begitu pula kakak akan dibunuh, karena berbuat salah, dan saat ini, suruh ia cepat-cepat pulang."

78. Tilotama tersenyum berkata, "Mengapa tuan putri begini, lihatlah baik-baik, Sang Darmadewa yang datang, sesuai dengan permintaan hati, tiap hari menjadi idaman sesudah datang lalu disuruh pulang.

79. Pikirlah kepayahan Kakak, siang malam berjalan, berputarputar di Malaya, sampai bersua, kini sudah tercapai, beliau datang, lalu Tuanku tidak menerima.

80. Yah, silahkan menyapanya, sapalah dengan senyum manis, sambut dengan tingkah laku baik, suguhkanlah sebagai pelepas rindu, karena beliau baru hadir, "Yadnyawati, memandang termenung dan membisu.

100