89. Beliau sebagai lautnya weda, suara weda tidak putus-putusnya, gemerincing suaranya menyentuh, Sanghyang Agni membara, dalam belanga berkobar-kobar, minyak arak tak putus-putusnya, untuk dituangkan pada api.
90. Wama api berbcda-beda, buas menimbulkan rasa ngeri, diceritakan naga-naga telah, berjatuhan di atas belanga, bergerombol mereka jatuh, ada yang masih di perjalanan, di udara melayang.
91. Ada yang berjumlah seratus hingga dua ratus sekaligus, mati tercebur dalam api, tetapi Sang Taksaka masih, tinggal di kedewatan, didampingi oleh Batara Satakratu, sukar untuk dilukiskan, karena Sang Taksaka merasa iri.
92. lngin turun melayang, ke luar ingin menjatuhkan diri pada api, ekornya lalu ditangkap, oleh Batara Indra, diikatkan pada ujung kainnya, agar tak dapat, mencebur ke dalam api.
93. Tak diceritakan Sang Taksaka, diceritakan para resi, telah diperintahkan oleh, Prabu Janamejaya, agar mengerahkan seluruh keutamaan weda, karena I Taksaka, tak tampak juga batang hidungnya.
94. Begawan Canda Bargawa, segera meneucapkan Reg Weda, diiringi dengan Sarna Weda, dan Atarwa Weda, Yajur Weda semuanya diucapkan oleh, ketiganya, sementara api kian menjadi-jadi.
95. Sang Naga Taksaka, bagaikan ditarik-tarik hatinya, sangat ingin menceburkan diri, dalam api yang berkobar, Betara Indra telah melarangnya untuk turun, namun Sang Taksaka keras sekali niatnya, lari hendak menerjuni api.
96. Sanghyang lndra dilarikannya, ditarik-tarik, karena ekornya terikat, di ujung kainnya , kemudian, dilepaskan dan Sang Naga Taksaka, laju melayang di langit, akan menerjuni api.
97. Betara Indra amat susah, memintanya untuk kembali lagi, Sang Naga Taksaka agar pulang, batal menerjuni api dalam belanga, tetapi tak bisa Sang Naga Taksaka kembali, diceritakan ada seorang brahmana, masih muda dan baru berangkat dewasa.
63