Cebur nuju daging

Kaca:PEPARIKAN MAHABHARATA.pdf/42

Saking Wikisource
Kaca puniki kavalidasi

kebenaran, sama-sama menyombongkan diri sakti, Sang Srenggi memuji, dirinya disebut, wakbajra tak ada tandingan,dan dijuluki, dibia caksu yang hebat, sakti tak ada menyamai.

14. Kemudian Sang Kresa menjawab, bersenda gurau, seperti mengejek, "Jangan engkau terlalu bangga, menyombongkan diri pintar sakti tak ada tandingan, mengapa dibiarkan ayahmu, di pertapaan berduka, bangkai u1ar busuk, bergelayut, di bahunya hingga sekarang, masih dikalungkan.

15. Prabu Parikesit yang mengalungkan, dosanya, diam tak berkata, sebab masih monabrata, tiba-tiba Sang Prabu, menanyakan kijang yang lari, begitu awal mulanya, hingga sekarang masih, ayahmu mamona, di pertapaan, berkalungkan bangkai ular." Sang Srenggi mendengarkan.

16. Kemudian seketika marah 1uar biasa, dan mengutuk, "Apalagi yang congkak, perbuatan Sang Prabu, semoga Sang Prabu, dimangsa naga Tilaksaka segera, dalam tujuh hari." Kemudian segera turun, ke dunia sebentar, dijumpai ayahnya masih, berkalung ular sebagai tali.

17. Kira-kira hampir selesai, me1akukan brata, sampai waktunya, Sang Srenggi berkata segera, dan menjelaskan, akan ulah Sang Parikesit, sudah dikutuknya, agar segera mengalami, dimangsa o1eh naga Taksaka, akan meninggal, dalam waktu tujuh hari, dari sejak kutukan dikeluarkan.

18. Terkejut Bagawan Samiti, mendengarkan, karena anaknya,tergesa-gesa mengeluarkan sapa, tak memikirkan akibatnya karena Sang Prabu memerintah, kemudian Bagawan, Samiti berkata, "Duh anakku mengapa, demikian, tindakanmu Sang Srenggi, sembarangan menge1uarkan kutuk.

19. Karena Sang Prabu memerintah, menguasai, se1uruh jagat, itulah sebabnya ayah memuja, karena milik Sang Prabu, untuk semua air suci, di mana ayah mengambilnya, juga milik Sang Prabu, itulah sebabnya ayah memuja, merafalkan, pemujaan pada Tuhan, mengukuhkan kepanditaan.

20. Tempat yang kita tempati setiap saat, siapa yang punya, juga Sang Prabu, sebab memang tidak kuasa, menandingi Sang Prabu, Walau bagaimana salahnya, harus dimaafkan , sebab

47