17. Negara Madakka, akan merasam pergi ke hutan gunung, para patih bertunggang gajah, mereka telah siap, serta jaring telah dipasang, kendang gong bertalu-talu , serta sorak riuh rendah.
18. Anjingnya semua galak, mencari buruan para patih mengitari, ada membunuh dengan tombak, banyak mati tertombak, ada mati kena jaring terbungkus, banyak binatang bermacammacam, dipersembahkan kepada sang raja.
19. Sang raja bersuka ria, melihat binatang banyak kena, disuruh mengumpulkan bawa pulang, setelah diikat, sang raja telah menunggang kuda jamus , jalannya pelan, para mentri mengiringkan.
20. Diceritakan sang lara, ada di hutan suami-istri , jalannya terlunta-lunta, naik gunung turon jurang, setelah letih lalu melihat-lihat, mencari tempat istirahat, di bawah bunga sumar seroja mrik.
21. Tiba-tiba datang sang raja, kaget melihat sang lara berdua, ropanya amat cantik, sang raja semakin tertarik, lalu turon berkata manis halus, "Ih kau berdua, dari mana kau di sini.
22. Dan siapa namamu." Yang ditanya cepat menjawab, "Paduka Sri Baginda, hamba Sang Maniguna, istri hamba Diah Arini, namanya, sedang duka lara, menyusup ke hutan gunung."
23. Prabu mabuk angkara, dibunuh Maniguna sampai mati, Sang Diah lalu diambil, "Duh dewa atmajiwa, tolong kasihmu bersamaan sekarang, mari pulang ke negara, jangan bim bang hati."
24. Diah Arini sungguh cerdik, menutup sedih diselimuti manis, manis katanya bercampur kelakar, guyon berwajah manis, lalu berkata, "Ia Tuanku raja, saatnya hamba mendapat suka, mengabdi pada raja mulia.
25. Harap dimaafkan, amat dusun nista ropa dena, senantiasa menyandang duka, tinggal di hutan gunung." Sang raja terpesona nan terlena, tak sadar akan kemanisari, tertawan dibakar hati.
26. Setelah berkata-kata, bersamaan menunggang kuda cepat, sang ayu di belakang, perjalanan cepat, naik gunung para pa-
139