DURMA
1. Diceritakan sekarang sri baginda raja, di negara Nandana, rakyatnya makmur damai, namun masih jejaka, wajahnya amat bagus, memerintah jagat, tapi belum beristri.
2. Keesokan harinya keluarlah beiiau di balai pertemuan, penuh sesak, sating berbincang-bincan, dengan para patih, semua duduk sesuai tata krama, sebagai ketua, Patih Waktra tersayang.
3. San Raja Rona Muka riang berkata, "Eh kau Rakrian Patih, mengapa lama, dutaku tak datang." Ki patih menjawab halus, bagai jatuhnya bunga," daulat Paduka Sri Bupati.
4. Hamba kira, sebabnya tidak segera datang, karena amat sukar cari istri utama, sebagai istri paduka raja, tunggulah perjalanan duta tersebut."
5. Tak terkatakan keadaannya dalam rapat, si duta sekarang datang, bernama Wijayakta, sudah membawa berita, dipersembahkan pada baginda raja, sang baru datang, sujud seraya menyembrahma.
6. Sang raja menyadari Rona Muka sang baru datang, lalu berkata pelan, "Dekatlah dudukmu, bagaimana Wijayakta, pekerjaanmu tugas ini, berhasil atau tidak, mencari istri?"
7. "Daulat Tuanku hamba dapat menemukan, wanita di hutan gunung, tiada banding cantiknya, anak Rangda Druta, bagai santan dengan gula pasir, sekala, pantas sebagai kembang keraton."
8. Senang hati sang raja menanggapi berita, diresapkan dalam angan-angan, menghayal, kelahiran manusia yang sempurna, bagai sukma keindahan , membangkitkan kerinduan , mendengar cerita ini.
133