dan kaget, melihat, orang laki cahayanya terang bulan, tampannya tiada banding.
7. Tiada beda bagai Hyang Astrasari, jika dirasakan, datang dari sorga, menciptakan keindahan kemari, Ni Rangda berkata halus, "Ia Tuan yang tampan, mohon dimaafkan, berani hertanya, dari mana asal Tuan, juga keturunan, nama katakan sekarang, agar saya jelas."
8. Sang Mantri menjawab disertai air mata, "Ia Bibi, tak tahulah aku, pada asal keturunan, setahuku telah, di sini dalam hutan gunung, mendapat lara sengsara, sampai saat kematian, hingga bosan me nahan lara." Menunduk, lalu menagis, ia sengsara dalam hutan.
9. Ni Rangda bagai teriris hatinya, kala mendengar, perkataan si lara, seraya berkata halus, "Oh Anaknda yang bagus, hapuslah air mata (kesedihanmu) sekarang, kodrat manusia, sukaduka berjumpa, marilah pulang, ke rumah bibi,ada saudaramu manis, itu ibu berikan.
10. Namun kurang cantik am at jelek, dan bodoh, belum terdidik, senang berilah hati, ditinggalkan ayah, bernama Diah Arini, maafkanlah, orang dusun." Raden Mantri senang mendengar, laksana, tumbuhan rambat mendapat air, di kala hujan sasih kapat.
11. Maniguna gembira menjawab, "Ia Bibi, aku tiada berpanjang, menurut kehendak, kasih Bibi memungut, aku orang yang amat dewa." Ni Rangda sekarang berkata, "Sang Mantri lalu berjalan, bersamaan berangkat."
12. Tak terceritakan di jalan, cepat tiba, di rumahnya, Ni Rangda riang hatinya, bersama lalu menuju, ke tempat tidur Ni Diah Arini, seraya berkata, "Anakku, bangunlah kau, ibu dapat,
memungut orang amat mulia, bagai kesayangan Tuhan."
13. Sang cantik kaget bangun, mengusap mata, seakan dalam mimpi, "Hyang Kama datang kemari, mem bawa puspa harum, menimpa dada, saat di tempat tidur, selalu menghelus yang istri." Ni Rangda berkata halus, "Ini datang, seorang bagai Hyang Astrasari, inilah jodohmu."
14. Sang Ayu bagai mekar hatinya, tercengang, diberi, orang laki
130