Cebur nuju daging

Kaca:Kajian nilai budaya dalam geguritan aji dharma.pdf/98

Saking Wikisource
Kaca puniki kavalidasi

89


lemah lembut, Paman Patih carilah tukang pikul, beserta kursi yang dicat dengan perada, untuk memikul, Sang Pendeta akan pulang, perintahkan menghaturkan makanan, sawah ladang beserta uang.

183. Ki Patih berkata menyetujui, dan telah datang tukang pikul dan kursi, sang Raja bersabda lembut, baiklah dan pulanglah Sang Pendeta, sebab anda telah letih, dari pagi duduk saja, bahan santapan telah berjala, hamba pesembahkan dengan hormat.

184. Tetapi hamba mohon, pada sang Pendeta agar dengan senang hati anda ingat, menengok hamba datang kemari, sekarang tak lain hanya Sang Pendeta, untuk hamba pakai, sebagai guru yang terpercaya, sebagai guru besar dan berkuasa, melindungi negara Bhoja.

185. Sesampainya di rumah tak diceritakan lagi, dan kini ceritakanlah Ki Demung, dinobatkan menjadi Maha Patih, boleh menunggang gajah, sudah disiarkan, Baginda Raja bersabda lembut, Paman Patih aku menjadi heran, siapa sebanarnya yang memberitahukan

186. Yang menyebab tuntas perkaranya jadi selesai, mengadili persoalan begitu sulit, Ki Patih berkata serta menyembah, ada yang memberitahu hamba, Si Belibis putih, bagikan anak kandung hamba, nah bila demikian perintahkan untuk mengambil, aku ingin melihatnya.

187. Ki Patih lalu pulang, sesampai di rumah lalu berkata pada Ni Ugi, Gusti anak kita dipersembahkan, Baginda Raja meminta, Ni Ugi, lalu menangis tak menjawab, Si Belibis tertawa terbahak-bahak, ibu mengapa menangis.

188. Walaupun hamba di dalam Istana, hamba tetap ingat akan kasih sayang ibunda, seberapa jauh hamba pulang, kemari menengok Bapa, hamba senang menjadi budak, bapa juga senang tak akan salah.

189. Ki Patih lalu membawanya, Sang Belibis dan telah datang di Istana, heran Baginda Raja melihat, karena merasa aneh