83
diakuinya, demikian pula hamba, diusir disuruh pergi.
132. Berdiam diri Baginda Raja masih memikirkan, sebab terlalu sulit, mengadili Pendeta, juga tak terpikirkan, lalu beliau menanyai, I Distri yang mana, suami anda coba ingati.
12a 133. Ida Istri menjawab hamba mohon ampun, tuanku sekali lagi hamba mohon ampun, tak dapat hamba ingati, benar-benar tak dapat hamba ingati, sebab sama dan serupa betul, warna rambut, bentuk hidung demikian pula mata.
134. Bentuk dada punggung tangan kaki demikian pula gerak-gerik, warna kulit sama, begitu pula suaranya, juga perihal usia sama, kain panjang selimut juga sama, juga itu, tingkah laku sama.
135. Menjadikan tersenyum orang yang menghadap Raja di sana, mendengar jawaban I Distri, demikian pula melihat Sang Pendeta, sama-sama memegangi tangan, warna muka beringas keduanya, Baginda Raja sangat, jengkel hatinya melihat.
136. Lalu Baginda Raja lagi bersabda, kepada para menteri semua, cobalah sama-sama pikirkan, habiskan segala akal pikiran, agar jangan sampai beliau tak tuntas, yang betul empunya (berhak), bisa-bisa terkena hukum.
137. Bila tak dpat Paman Patih memikirkan, demikian pula Ki Demang keduanya, Manguri Kanuruhan, Tumenggung Yayi
Arya, aku akan memecat semuanya, demikian pula aku, berhenti memakai Gusti.
138. Ada persoalan tapi tak pernah menyelesaikan perkara, sekarang siapa yang bisa, dia akan memegang negara, kini
marilah pulang, dirumah sama-sama pikirkan, semua berduka cita, terutama Gusti Patih.
139. Semua orang yang ramai dibawah balairung, gempur semua penonton, banyak yang terheran-heran, Sang Raja lalu
pulang, berpesan kepada Sang Pendeta berdua, tunggulah
disini, saya masih memikirkan.