77
sabitnya tidak diperdulikan, karena keburu berjalan, didapati Ki Demang sedang duduk-duduk, dibalai-balai panjang, Si pemelihara kuda mendekati.
83. Berkata putus-putus dengan keringat mengalir, Tuanku ini burung, warna putih halus sekali, katanaya belibis namanya, oleh orang yang menemui, Ki Demang senang, tersenyum lalu mengambil.
82. Sipelihara kuda senang lalu kembali pulang, rumput dan sabitnya, tidak diperdulikan, karena keburu berjalan, didapati Ki Demang sedang duduk-duduk, dibalai-balai panjang, Si pemelihara kuda mendekati.
83. Berkata putus-putus dengan keringat mengalir, Tuanku ini burung, warna putih halus sekali, katanaya belibis namanya, oleh orang yang menemui, Ki Demang senang, tersenyum lalu mengambil.
84. Bagaimana akalmu sampai kau mendapat burung ini, hamba memasang jerat, baru saja lihat, ingin sekali dihati, moga-moga karunia Tuhan, lalu terkabul, mau siburung mencari tempat jerat.
8a 85. Lalu berganti sibelibis berkata, agar tuanku tahu, hamba raja belibis tapi berasal dari Malawa, hamba raja dari segala burung, bisa berkata seperti manusia, Ki Demang menjadi heran sekati.
86. Lalu ganti berkata, hai kamu betibis putih, tak ada bandingnya pada bangsa burung, berkata bagai manusia disinilah kau tinggal, aku mau mengesahkan kamu, sebagai anakku, Aku menyayangi betul.
87. Si Belibis menjawab, hamba menuruti kehendak bapa, lalu dibawa putang, sampai di kademangan, Ni Ugi lalu menjemput, burung, burung apa yang di bawa gusti, tampannya tak tertandingi, sangat senang hamba melihatnya.
88. Ki Demang menjawab ini Belibis putih, pinternya bukan main, berkata-kata bagai manusia, gembala kuda yang