70
31. Pemuda sangat tampan, dan gagah, Dewi Dati bagai diiris, pikirannnya mau menyeret, lalu berkata halus, Embok bolehkah aku meminjam, Pemuda tampan itu sebentar saja, tak dapat kulupakan, pikiranku hancur gelisah, Dewi Daksi, berkata silahkan kau ajak.
4a 32. Tapi jangan lama-lama mengajaknya, Dewi Dati menjawab halus, Kanda bagaikan Dewa Asmara, mohon agar hamba disinggahi, Sang Raja lalu menjawab, Aku menuruti adik cantik, karena kakakmu mengijinkan, Aku inilah sebagai penjaganya, silahkan suruh apa saja, sebagai penjaga di tempat tidur.
33. Dewi Dati lalu menggandeng tangan, menuju tempat tidur berdua, sang Raja memegang pinggangnya, Dewi Dati pura-pura menangis, pelan-pelan dulu sekarang apakah hamba akan hilang terbang, Sang Raja berkata pelan, Duh adik yang bagai Dewi Ratih, berilah aku Dik, jangan sampai aku jadi ragu.
34. Aku tak bisa sama sekali, mengendalikan hatiku yang gundah, segala yang terpegang sudah baik, segala yang tercium berbau harum, segala yang terlihat bergerak, disebabkan memanggung rindu, bagaikan bersusuh asam, ngilu tak dapat dikendalikan, demikianlah dinda Ayu, nah teruskanlah berikan aku.
35. Gelisah karena tumben, Dewi Dati menerima saja, Sang Raja tak terkendalikan lagi, ujung kainnya sang Putri telah lepas, lalu ditindih sangat nikmat, kaget juga Dewi Dati mengaduh, waktu terkena asmara, bagai pingsan lalu Sang Raja merayu, mencumbu, memangku merayu dan menciumi.
36. Dinda Ratuku belahan jiwaku, janganlah rela dinda meninggalkan, silahkan sekarang mandi, Aku akan menjaga ke kamar mandi, Dewi Dati siuman, disirami setelah dipangku, telah diberi ampas sirih, ketempat tidur lagi digiring, gadis ayu, lesu bagaikan tak bertulang.
38. Setibanya Dewi Datu, bertanya pada Dewi Dati, Embok siapa yang diajak, tadi malam tidur di sini, ketampanannya