67
dari menghadap, Sang Raja kemudian masuk Istana, esoknya
diceritakan Jagi, Sang Raja memerintahkan, pembunya, semuanya ada 100, datang akan mengiringnya.
11. Sang Raja punya hamba sahaya bernama Ronte membawa kacu indah, berisikan sirih serta rokok, pagi-pagi Sang Raja berangkat bergemuruhlah yang mengiringi, semuanya pemuda-pemuda seragam, bunyi rantainya, anjing gemerincing, keselatan di tujunya terus-menerus, cepat sampai, Beliau di hutan perburuan.
12. Semua mengitari semak belukar, anjing-anjing masuk mencari-cari, pemburu senang mengadu, Sang Raja juga menyertai belukar, merasa tak senang tak dapat apa-apa, telunta lunta dalam perjalanan, akhirnya tiba, Beliau di Negeri Malay.
13. Didapatinya sedang sepi sekali, tak ada seorangpun ketemu, lalu naik ke Balairung, duduk di ambang pintu semua hamba sahayanya ikut, termangu seperti Sang Raja, hanya berkata dalam hati, ini bekas mengapa di sini, bila hanya musuh, menyerang mengapa keadaannya begini.
14. Habistakada sisanya, menjadi semak ditumbuhi rumput, rumput ilalang pantas dibabat, bekasnya telah lama benar, orang-orangnya meninggalkan, lalu baginda bersabda alus, Hontalah cobalah datang ke sana, teruskan ke dalam Istana, tiba di sana, waspadalah menyelidiki.
15. Si Honta lalu berangkat, menuju Istana, sepi tak ada orang terlihat, terlanjur masuk ke tempat tidur, lalu terlihat gedung indah, bagus memanjang tiga ruang, pintunya di cat perada, di serambi yang paling timur ada terlihat wanita cantik sekali.
2b 16. Duduk mengambil sirih, Si Honte lalu berjalan, setibanya di luar melapor, Tuanku hamba menumukan, seorang wanita, sedang mengambil sirih, di serambi menyendiri, ada gedong panjang bagus, sangat cantik, takjub hamba melihatnya.
17. Baru selesai demikian, Sang Raja bersabda manis, kepada pengiringnya semua, baiklah disini dulu tunggu, bila ada