Cebur nuju daging

Kaca:Kajian nilai budaya dalam geguritan aji dharma.pdf/75

Saking Wikisource
Kaca puniki kavalidasi

66


duduk, memakai selimut wama hijau, berkembang-kembang perada semua, sebagai pembalut selimut, sutra halus berenda-renda.

4. Ikat pinggang dengan sutera merah, berpakaian kain Perancis ungu, kerisnya berhulu patung, dihias dengan permata utama, disela intan semua, warangkanya berbinar halus, bagai memancarkan cahaya merah, balang-belangnya bagai di cap jari, bersinar terang diterpa olehcahaya matahari.

5. Mahkotanya buatan Keling, ceria diiringi para gadis, ada yang membawa petiara, ada yang membawa obor kecil, patung yang baru tak tertandingi, semuanya ada 18 orang, semuanya tiap hari memelihara kecantikan, berhias memakai minyak wangi sama-sama gadis penuh dengan asmara.
6. Di hadapanSang Raja, duduklah para biksu, para Mantri dan bujangga, di sela oleh patih Madri, berkata disertai sembah, ya tuanku Raja, telah cukup menurut pikiran hamba, kemakmuran negara Malawa, tapi tuanky, di Istana belum ada putra mahkota.

7. Bila diangap benar pendapat hamba, baiklah tuanku mencari lagi, istrisebagai penghuni Istana, pantas dinobatkan sebagai Permaisuri, Si Lobangkara suruh, utus menyilidiki ke berbagai negara, agar dia membikin foto semua puteri Raja, bila ada, berkenan di hati Paduka.

1b 8. Hambalah berkehendak melamar, bila tak mau dilamar mari kita serbu agar kalah, Puterinya dapat diwan. Baginda Raja bersabda pelan, Paman Patih benar nasehatmu, tapi aku sesunguhnya belum ada niat, dalam waktu ini pikiran akan mencari, bila ada, seperti yang mati di pinggan.

9. Aku lagi mencari istri, tapi belum ada yang setarap, kecuali ke Asmaralaya, hanya dia Dewi Ratih, berangkali beliau itu setarap, Para Biksulalu berkata, Paduka janganlah demikian, karena sebagai lambang Negeri, tunggulah Paduka, perjalanan Tuhan yang Maha Esa.

10. Serentak semua membenarkan, sampai siang baru pulang