Cebur nuju daging

Kaca:Kajian nilai budaya dalam geguritan aji dharma.pdf/161

Saking Wikisource
Kaca puniki kavalidasi

153


mendambakan artha (kekayaan) dan senantiasa berpikir, berkata dan berbuat yang benar.

Di dalam mengejar kesenangan hendaknya berpedoman pada sastra agama (dharma). Berkata tidak boleh menyakiti hati rakyat maupun makhluk hidup, berpikir yang baik dalam kepentingan Negara, berbuat yang baik terutama untuk menegakkan kebenaran dan keadilan yang senantiasa selalu waspada.

Konsep pengendalian diri seperti tersebut di atas ada disebutkan dalam Geguritan Aji Dharma seperti bait-bait berikut ini:

Pedanda kalih manyagjag, ngelut madya saha matur aris, enen mara anak Agung, sedeng pangemban jagat, Dharma ksama, parartha yajnya anulus, nyandang bapa memen jagat tong sida angan agigis.

(Aji Dharma, 180)

Kedua pendeta lalu mendekat, merangkul pinggang serta berkata lembut, ini baru seorang Raja, pantas sebagai pelindung Negara, sesuai dengan ajaran Dharma, kukuh tak berubah dengan yadya, pantas dicintai rakyat, tak ada celanya sedikit pun.

Laut nyumbah Bhatara Aji Dharma, titiang manunas, urip, geng rena ngampura, ratu manjalkang titiang, titiang kalintanging bhakti, awanan titiang ngraris rawuh mariki.

(Aji Dharma, 299)

Lalu berdatang sembah pada Tuanku Bhatara Aji Dharma, hamba mohon dihidupkan, agar rela memberi ampun, tuanku memperbudak hamba, hamba sangat hormat, menyebabkan hamba terus datang kemari.

Kutipan di atas menekankan pada azas perilaku yang baik. Perikalu yang baik adalah dasar utama untuk mengendalikan diri dan budi pekerti yang luhur sebagai dasar utma yang patut dilaksanakan sebagai cara hidup yang layak di masyarakat. Kutipan di atas merupakan pujian sang Pendeta kepada Raja atas keberhasilannya memimpin Negara yang berazaskan pada ajaran Dharma dan disertai dengan pengendalian diri. Tegas dalam setiap memberikan keputusan. Tampak, bahwa rakyat