Cebur nuju daging

Kaca:Kajian nilai budaya dalam geguritan aji dharma.pdf/160

Saking Wikisource
Kaca puniki kavalidasi

152


mati tercingcang-cingcang, mati digantung, diiris-iris, disakiti, akan senang menerimanya.

Uraian di atas menyampaikan dharma sebagai dasar satu-satunya jalan untuk mencapai hasil yang dituju, atau dengan kata lain dengan kekuatan dharmalah hendaknya memperoleh sesuatu. Hal ini ada juga ditegaskan dalam kitab Sarasamuscaya, yang dalam kesempatan ini dikutipkan bait-baitnya sebagai berikut:

Lawan tekaping mangarja, maka pagwanang dharma taya, ikang dana antuking mengarjana, yatika patelur, Sadhana ping tiga, kayatna kena.

Dan caranya berusaha memperoleh sesuatu, hendaknya berdasarkan Dharma, dapat yang diperoleh karena usaha, hendaknya dibagi tiga, sebagai sarana mencapai yang tiga itu, perhatikanlah itu baik-baik.

Dengan semangat jiwa pengabdian, tekun bekerja, kepada Raja, Ki Demung mendapat penghargaan yang cukup terhormat yaitu diangkat menjadi Maha Patih. Ini pertanda bahwa setiap usaha yang dilakukan serta dilandasi oleh Dharma kelak akan memperoleh hasil yang memuaskan. Hal ini sejalan dengan konsep Hindu yaitu Hukum Kanna, disebutkan bahwa orang yang mempergunakan Dharma sebagai tujuan hidup yang utama, dan mengabdi terhadap sesama makhluk dan beramal saleh untuk kesejahteraan sesama makhluk serta menjunjung tinggi keadilan dan kebenaran, maka orang itu akan mendapatkan berkah dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa) .


2) Pengendalian diri dan budhi pekerti yang luhur.

Di dalam menjalankan pemerintahan konsep pengendalian diri merupakan dasar yang paling hakiki. Karena kepribadian bisa membawa pengaruh terhadap negara yang dipimpinnya. Maksudnya negara masih ketergantungan dengan watak pemimpinnya. Seorang pemimpin (Raja) hendaknya kuat menguasai diri (mengendalikan diri) serta tak lepas dilandasi budi pekerti yang luhur pula.

Untuk menjaga ketentraman negara seorang Raja hendaknya teguh imam senantiasa mengutamakan tapa utama sarira yaitu tidak selalu