Cebur nuju daging

Kaca:Kajian nilai budaya dalam geguritan aji dharma.pdf/158

Saking Wikisource
Kaca puniki kavalidasi

150


tradisional daerah-daerah di Indonesia yang muncul dan berkembang sebagai basil hubungan manusia dengan lingkungan fisiknya.

3.3.4 Nilai Budaya Yang Mewujudkan Kualitas Manusia Indonesia Yang Tekun Bekerja, Mengendalikan Diri, Jiwa Pengabdian, Budi Pekerti Yang Luhur.

Pembangunan Nasional merupakan pembangunan yang berbudaya. Kebudayaan Indonesia mencerminkan nilai-nilai lubur bangsa yang terns menerus dipelibara, dibina dan dikembangkan untuk memperkuat kepribadian bangsa, mempertebal rasa barga diridan kebanggaan Nasional.

Dalam zaman kemajuan sekarang, di mana bubungan antara bangsa demikian erat, berarti nilai-nilai budaya lain makin deras mengalir sejalan dengan kebebasan yang dengan sadar kita buka kembali. Yang penting bagi kita ialah agar kita mampu menyaring nilai-nilai dari luar tadi, agar nilai-nilai yang baik dan sesuai dengan keribadian bangsa Indonesialah yang kita serap. Nilai-nilai yang tidak sesuai, lebih-lebih yang dapat merusak kepribadian kita sendiri, harus mampu kita tolak. Maka tumbublah masyarakat Indonesia yang kuat, bersatu dan dinamis.

Setiap manusia mempunyai keinginan untuk mempertahankan bidup dan mengejar kebidupan yang lebib baik. Ini merupakan naluri yang paling kuat dalam diri manusia maka dalam ketetapan MPR Nomor II.MPR/1978, Pancasila yang bulat dan utuh itu memberikan keyakinan kepada rakyat dan bangsa Indonesia bahwa kebahagiaan bidup akan tercapai apabila didasarkan atas keselarasan dan keseimbangan, baik dalam hidup manusia sebagai dalam hubungan manusia dengan masyarakat, manusia dengan alam, dalam hubungan bangsa dengan bangsa, dalam hubungan manusia dengan Tuhannya atau di Bali di sebut dengan Konsep Tri Hita Karana.

Geguritan Aji Dharma seperti hasil karya sastra klasik dalam bubungannya dengan uraian di atas,tentang konsep-konsep NIlai-budaya yang mewujudkan kualitas manusia yang tekun bekerja, berbudi pekerti yang luhur, konsep ini biasanya sudah merupakan konsep baku bagi setiap basil karya Sastra klasik, hanya saja kita masih memerlukan pemahaman yang lebih mendalam. Sulit kita temukan nilanya apabila