144
antuk bajang-banjang, pada betak matandang, sorohokan arya patih, manguri yaksa, Demung Tumenggung malih.
(Aji Dharma, bait 481)
Setelah mohon diri Raden Mantri lalu keluar, di Balirung dihadapan, para pemuda-pemuda, semua lincah dan perlente, semua Para Putra Arya dan Patih, manguri Dyaksa lain lagi Putra Demung dan Temenggung.
Beli pada ortain rowange luwas, truna mamasa sami, jupikul pada, miwah ngeponin kreta, kayang ne ngemponin athi, apanga mani, semeng mangati dini.
(Aji Dharma, bait 483)
Kakak semua beritahu teman-teman untuk pergi, yang tampan-tampan semua juga tukang pikul, demikian pula pemelihara kreta, sampai yang memelihara kuda, supaya esok hari, pagi-pagi sudah menunggu di sini.
Bajang Mamase apang pada tuhunange, miwah bedile sami, sane mabhusana, Sang Mantri mangiringang, samian mapamit mulih, jaga ngarahang, Raden Mantri ka Puri.
(Aji Dharma, bait 484)
Pemuda-pemuda yang gagah agar semua turun, juga bersenjatakan senapan semua, dengan berpakaian lengkap, untuk mengiringi Raden Mantri, semua mohon diri untuk pulang, untuk memberitahukan, Raden Mantri datang ke Puri.
Kutipan di atas mempertegas lagi, bahwa motivasi dan semangat gotong royong dan rela berkorban untuk kepentingan negara cukup menonjol. Ini berarti pengarang mengamanatkan kepada pembaca, betapa pentingnya nilai-nilai yang ditanamkan di dalam sastra klasik khusunya Geguritan, sebagai cermin bagi generasi muda sebagai generasi penerus cita-cita perjuangan bangsa.