141
pernah absen yang bersalah mohon pengampunan, makanya aman tentram negara semua, senang, semua punya pekerjaan, rakyat di bumi ini .
Makna yang terkandung dalam kutipan di atas ternyata erat sekali kaitannya dengan tata cara aturan seorang pemimpin dewasa ini bahwa seorang pemimpin harus berlandaskan pada kebajikan serta norma-norma moral kemanusiaan, bila ingin menjadi seorang pemimpin yang berwibawa serta seorang pemimpin yang disegani oleh rakyatnya. Karena pada prinsipnya sebagian besar masyarakat akan mendambakan karakter yang demikian, Karismatik tokoh yang dibawakannya itu menentukan nasib rakyat yang dipimpinnya. Yang paling penting adalah hubungan timbal balik antara pemimpin dengan bawahan, bawahan dengan pemimpinnya. Jadi, kenyataan ini merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.
Untuk lebih jelasnya dalam karya Sastra Jawa Kuna yaitu Kakawin Niti Castra ada menyebutkan sebagai berikut:
Singha raksakaning halas, halas ikangrakseng hari nityasa. Singha mwang wana tan patut pada wirodhangdoh tikang kecari. Rug brasta ngwana denikang janatinor wreksanya sirnna padang. Singha hot ri jurang nikang tegal ayun sampun dinon dubala.
(Sargah I bait 10)
Artinya: Singa adalah penjaga hutan, akan tetapi juga selalu dijaga oleh hutan. Jika singa dengan hutan berselisih, mereka marah, lalu Singa itu meninggalkan hutan. Hutannya rusak dibinasakan orang, pohonnya di tebang sampai menjadi terang. Singa yang lari bersembunyi di dalam ceruk, di tengah-tengah ladang, diserbu orang dan dibinasakan.
Kutipan bait Kakawin tersebut di atas, sangat tepat diibaratkan kepada seorang pemimpin, bahwa sebagai seorang pemimpin hendaknya bisa menghormati, menghorgai bawahannya, demikian juga sebaliknya bawahan harus tunduk, patuh, kepada perintah atasnnya, apabila