Cebur nuju daging

Kaca:Kajian nilai budaya dalam geguritan aji dharma.pdf/144

Saking Wikisource
Kaca puniki kavalidasi

136

Dharma dalam kamus Bahasa-Bahasa Jawa Kuna-Indonesia karangangan L. Mardinrsio berarti:

  1. Dharma berarti 'kebenaran'
  2. Dharma berarti 'soleh, 'bijaksana'
  3. Dharma berarti 'Agama'
  4. Dharma berarti 'kewajiban'

Jadi sesuai dengan konteks di atas Aji Dharma mengandung konotasi makna ilmu tentang kebenaran. Atau pengetahuan tentang ajaran-ajaran kebenaran hal ini terkait dengan isi naskah. Dari penjajagan ke tempat-tempat penyimpangan naskah di daerah Bali, maka ditemukanlah naskah yang cukup menarik untuk dibahas, dan dikaji maknanya, tidak lain adalah Geguritan Aji Dharma di Gedong Kirtya Singaraja Bali.

Sebagai basil karya sastra klasik Geguritan Aji Dharma ini tidak kalah bila dibandingkan dengan geguritan lainnya, karena di dalamnya tercermin nilai-nilai kejiwaan yang dapat di jadikan pegangan hidup lahir batin.

Gedong Kirtya merupakan salah satu lembaga Pemerintah yang menyimpan naskah dalam jumlah yang cukup besar ± 5267buah naskah lontar, baik itu berupa naskah transliterasi, maupun buku-buku yang erat hubungannya dengan Kebudayaan.

Gedong Kirtya didirikan pada tahun 1928 yang sebelum disebut dengan Gedong Kirtya Litrinek Vander Tuuk yang awal mulanya berbentuk yayasan.

Pemberian nama erat kaitannya kepada dua orang Belanda yang berjasa sebagai perintis bangkitnya perhatian masyarakat terhadap hasil-hasil karya sastra lama yang di Bali dan sampai sekarang terkenal dengan nama Gedong Kirtya.

Dari ± 5267 jumlah naskah yang dimiliki oleh Gedong Kirtya seperti tersebut di atas dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

(1). Kelompok Weda (termasuk Weda, Mantra dan Kalpasatra).

(2). Kelompok Agama (termasuk Palakerta, Sasana dan Niti).

(3). Wariga (termasuk Wariga, Tutur, Kanda dan Usada).

(4). Kelompok Itihasa (Parwa, Kakawin, Kidung dan Geguritan).

(5). Kelompok Babad (termasuk di dalamnya Pamancangah, Usana dan Uwug).