128
bersetagen kain sutra, juga dilapisi perada indah menyala.
492. Ikat pinggangnya kain Stambul ungu mengkilat, destarnya berujung indah, berlapis perada, berbunga emas berbentuk pucuk daun bodi indah, lain lagi bunga emas bercabang-cabang, lalu mengatur tempat bercermin.
493. Dengan keris dipinggang berhulu patung emas permata, disebar agar gemerlap, dengan intan dan berlian, warangkanya kayu pelet halus, dan semua dengan parutan keris pusaka yang diselipkan.
494. Hiasan bahu emas perhiasan sangat menyala, membuka minyak wangi selusin, juga minyak timah, kemben selimut sesaputan, disemprot, demikian baju ungu, terbuat dari kain beludru indah, dihiasi dengan bintang emas diukir.
495. Permatanya dengan intan diukir bagai kilat menyambar, semakin gagah dan tampan, terpesona orang-orang Istana melihat, apalagi para gadis remaja, tidak lain hanya Raden Mantri jadi idaman.
496. Di dalam hati sama sekali tak dapat diam, licin bibirnya berkata lirih, agar didatangi, oleh Raden Mantri yang akan berangkat, dayang-dayang telah mendahului sebaga ia pengawal, bersama dua belas orang, masih gadis dan cantik-cantik semua.
47a 497. Nenek Tua baru saja mendengar lalu datang menyambut, memeluk kaki serta menangis, ingat dengan yang sudah-sudah, pertolongan Sang Aji Dharma, Oh Tuanku seperti sekarang ini, hamba persembahkan makanya, hamba masih hidup.
498. Dulu hamba ini bekasnya tua cacat sekali, bungkuk siku tak dapat diluruskan dan miring, sampai-sampai hamba berkaul, oleh hamba dalam hati, karena kemuliaan hati Ayahnda Tuanku, sekarang ini Tuanku Cokorda, dengan maksud apa datang kemari.
499. Lagi pula apa tujuan Tuan hamba bepergian, karena begini, dengan pengiring banyak, diiringkan senjata bedil tombak,