Cebur nuju daging

Kaca:Kajian nilai budaya dalam geguritan aji dharma.pdf/123

Saking Wikisource
Kaca puniki kavalidasi

114

yang berjalan melewti, seorang pandai emas, kaget amat ia melihat, patung itu keliwat cantik, lagi ia menghiasi, Si Pandai emas menambah.

386. Diberi giwang emas permata, ditambah dengan bunga, juga dengan bunga emas, lengkap dengan gelang lengan, ikat pinggang dan hiasan bahu, semakin bertambah-tambah, kecantikannya bersinar halus.

387. Lalu ada seorang Pendeta Brahmana lewat, lantas beliau melihat, terhenti langkah beliau baru melihat, berpikir dalam hati, siapa menaruh patung disini, cantiknya luar biasa, pandai sekali itu mengukir.


35b 388. Lagipula sikapnyabagai tersenyum manis sekali, apalagi ada yang menghiasi, berhiaskan emas, sayang sekali bila tak dihidupkan, agar bisa berkata-kata, dan bisa berjala, sebagai manusia biasa.

389. Lantas beliau bersikap akan melaksanakan yoga, menyatukan hasrat mohon agar bisa hidup dengan tenang, setelah dimasukkan, tenaga dan pikiran juga dimasukkan, juga suara agar bisa hidup, Si patung lalu berkata, siapakah anda yang memberi nyawa.

390. Sekarang ini ke mana hamba harus membayar hutang, Si Tukang menjawab, kemarilah engkau Tuanku, Aku inilah yang mengukir dikau, hingga berupa seorang wanita, lalu dijawab, Si Saudagar berkata.

391. Di saat mengambil jangan memakai pakaian yang mewah, demikian kata Pande Mas, jangan dikira memakai bahan dari mas, saya memakai pakaian bekas, selengkapnya, pakaian wanita.

392. Sampai-sampai permatanya makanya jadi cantik, olehku menghiasinya, Sang Pendeta bersabda, aku sendirilah yang patut mengambil, sebab akulah yang memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa, dianugerahi jiwa, makanya bisa hidup.