Cebur nuju daging

Kaca:Kajian nilai budaya dalam geguritan aji dharma.pdf/113

Saking Wikisource
Kaca puniki kavalidasi

104

jempol menyatukan pikiran, Api sedunia (agni sabuwana), itulah dimasukkan dalam hati untuk bertahan, lengkap dari lahir dan hidup, sampai matinya, dan berhasil mengeluarkan api.

296. Ke utara Selatan Timur Barat ke arah miring, ke atas memenuhi angkasa, tak ada yang terluang, api memenuhi dunia, disertai suara gemuruh menjerit, sekarang mati, kau Patih Madri.

27b 297. Semua orang yang ada di kota, lalu masuk ke Istana, terasa bagaikan terbakar, semua mengira pralaya (kiamat), Baginda Raja gelisah di Istana, sebab sudah tahu, tingkah laku Ki Patih Madri.

298. Si Garuda kaget tak dapat jalan, panasnya luar biasa, bila terlambat sebentar saja, memohon ampun, seketika jadi abu, telah merasa kalah, kembali menjadi Ki Patih Madri.

28a 299. Lalu berdatang sembah pada Tuan Batara Aji Dharma, hamba mohon dihidupkan, agar rela memberi ampun, Tuanku memperbudak hamba, hamba sangat hormat, menyebabkan hamba, terus datang kemari.

300. Sudah tujuh bulan hamba berkelana, digunung maupun dipantai, dalam hutan atau di kota, terus ke Malaya, hamba bertemu dengan wanita, cantik tiga cantik tiga orang, konon Tuanku memperistri.

301. Rakyat Tuanku Si Honta memberitahu hamba, dan teman-temannya semua, disana tinggal, menunggu Tuanku, lalu hamba berangkat, akhirnya hamba, menemui peristiwa ini.

302. Bukannya hamba ingin mengadu kepintaran, atau melewati, pemikiran Tuanku, maksud hamba menjelaskan agar dapat ketemu, juga oleh hamba, Tuanku oleh hamba ini.

303. Raja Aji Dharma baru mendengar, apa yang diceritakan patih Madri, gembiranya bukan main, lalu beliau memaafkan, hilang api yang sedunia, Sang Aji Dharma, duduk di hadapan oleh Patih Madri.

304. Ki Patih Madri tertawa, sekarang hamba senang, Tuanku