101
25b 269. Ki Patih Madri berdatang sembah menjelaskan, ini Si Belibis, kulitnya rusak, Putri Tuanku, benar-benar sekarang ditempati, cobalah sekarang perhatikan, lagi ke dalam Istana
270. Baginda Raja bersabda nah Pangkur cepat-cepat ke Istana Kaputren intai, apa barangkali dipegangnya, anak Putriku berangkat, Si Pangkur sambil berkata-kata sendiri berangkat, begini keterlaluan sekali, siapa sebenarnya Ki Patih Madri.
271. Segera Si Pangkur datang di Kaputren, lalu dilihatnya Tuan Putri, memegang sekuntum bunga, teratai yang diciumi, dibanting-bantingkan ketubuh secara halus, harumnya sangat wangi, tercengang Si Pangkur mengintai.
272. Tuan Putri berkata hai Pangkur mengapakan, apa lagi dicari, Si Pangkur menghormat, hamba ini Tuanku ketinggalan, tebu pemberian tuanku ketinggalan, itulah yang hamba cari, makanya hamba kemari.
273. Cepat Si Pangkur mohon permisi lalu keluar, setelah sampai diluar sekarang dengan seksama menceritakan, Putri Tuanku, memegang bunga teratai merah harum, dibanting-bantingkan ketubuhnya demikian hamba lihat.
274. Ki Patih Madri berkata disanalah menjelma, pada bunga teratai yang harum, yang menjadikan malu, baiklah Tuanku memintanya, Baginda Raja bersabda halus, marilah Paman Madri, ikut pergi ke Istana.
26a 275. Agar cepat selesai di sana aku akan dekat menelitinya, Ki Patih berkata baiklah, lalu berangkat, Baginda Raja telah berangkat, dan telah sampai di Kaputren sekarang, ditemuilah beliau, Tuan Putri sedang duduk-duduk.
276. Cepat turun Tuan Putri berdatang sembah, tapi wajahnya agak risih, Baginda Raja bersabda, Paman Madri inilah Dia, anak Putriku lihat, Ki Patih Madri melihat, merasa terkejut luar biasa.
277. Lalu berkata mintalah tunjung itu Tuanku, Baginda Raja lalu meminta, Tuan Putri bersabda, si bunga teratai kau diminta, Si teratai berkata lembut, persembahkanlah hamba,