Geguritan Darma Kaya *)
pupuh ginada
1. Titiang belog dadi jatma,
ngawidi manggawe gurit,
mangda titiang manyidayang.
ngawe gurit pari kayu,
miwah tingkah dadi balian,
sami gurit,
tuna liwat sinampura,
Saya adalah manusia yang bodoh,
mencoba menyusun lagu,
supaya saya mampu,
membuat lagu yang sempurna,
mengenai sikap jadi dukun,
semua lagu,
kurang lebihnya dimaafkan.
2. Ne jani ada cerita,
jatma sudra lintang miskin,
madan I Dharma Kaya,
solah alep gobe bagus,
wau melajah mesastra,
mckekawin,
memarekang ring Ida Pranda.
Sekarang ada cerita,
manusia sudra yang serba kurang,
bernama Dharma Kaya,
prilaku baik dan tampan rupa,
baru belajar kesusastraan,
bernyanyi,
mengabdi pada Pandita.
3. Pranda kelintang eman,
mangandika ida aris,
mai cai Dharma Kaya,
I Dharma Kaya umatur,
inggih titiang Ratu Pranda,
titiang ngiring,
lawut ya jani menegak.
Sang Pandeta cukup tenang,
berkatalah beliau,
ke sinilah kau Dharma Kaya,
I Dharma Kaya mendekati,
ia Sang Pandita,
saya setuju,
kemudian ia duduk.
4. Pranda raris ngandika,
apa sadian cai jani,
memarekan nering maman,
Pandita kemudian berkata,
apa syukur kamu sekarang,
mengabdi padaku,
Transkripsi dan terjemahan ini diambil dari lontar milik Fakultas
Sastra Universitas Udayana. Dng no. LT 545, Krop no. 354,
banyak 16 lembar.
7