26. Gawok ida manyingak,
Candine nganteg kelangit,
Sanghyang Brahma mengandika,
Adi mengalih tuwun,
Beli mengalih menekan,
Dadi paksi,
Kedis sikep ento adanya.
Kaget beliau melihat,
Candi itu sampai ke langit,
Berkatalah Sang Brahma,
Adik mencari ke bawah,
Kakak mencari ke atas,
Jadi burung,
Burung Elang itu namanya.
27. Sanghyang Wisnu dadi toya,
Menusup maring pertiwi,
Kerana ada ya katonang,
Toyane mengulah tuwun,
Apine mengulah menekan,
Kayang jani,
Keto jani ketatuwannya.
Sang Wisnu jadi air,
Masuk ke dalam tanah,
Karena ada yang dilihatnya,
Air menyerap ke bawah,
Api itu berkobar ke atas,
Sampai sekarang,
Begitulah sekarang kenyataannya.
28. Eda cai jani tulak,
Tutur maman tuwara pelih,
Ada buwin pepelajahan,
Tingkah peparikan kayu,
Ane besik medon lelima,
Tuhu jati ,
Ada buwin medon adasa.
Jangan kamu sekarang membantah,
Ceritra aku tak akan salah,
Ada lagi pelajaran,
Ceritra tentang sifat kayu,
Yang satu berdaun lima,
memang begitu,
Ada lagi berdaun sepuluh.
29. Nah maman jani ngorahang,
Pari kayune jati,
Tuhu belut madan kelor,
Galancang madan timbul,
Kaumang madan kendal,
Tone jati,
Sindugara madan wangkal.
Ya bapa sekarang menerangkan,
Tentang keadaan kayu yang sebenarnya,
Kayu belut disebut kelor,
Kayu gelancang disebut timbul,
Kayu kaumang disebut kendal,
Itulah yang sebenarnya,
Sindugara disebut wangkal.
30. Sokerare madan pule,
Sunggaletik tuung kanji,
Gendega madan bowok,
Urudani jeruk purut,
Ratulunga jeruk linglang,
Sekorare disebut tuung kanji,
Sunggaletik disebut tuung kanji,
Gendega disebut book,
Urudadi disebut jeruk purut,
Ratulunga disebut jeruk linglang,
13