kenapa mau menjadi punggawa.
88. Yan baan bikas mirib bisa,
cocok ida ne tan gigis,
tonden mangelah pamupon,
enggalan ngemasin mati,
panjaknyene ditu maid,
ngisidang ngaliwatang pangkung,
telahan pada bungkah,
Dencarik kasuungin,
suba kawug,
wantilane katunjelan.
Kalau sifat-sifatnya seperti orang pandai,
kebeneran beliau tidak sedikit,
belum punya hasil,
mendahului sudah meninggal,
rakyatnya di sana menyebabkan,
memindahkan melewati jurang,
habislah sudah terbongkar,
desa Dencarik disunyikan,
sudah dihancurkan,
balai desanya dibakar.
89. Banjar Munduke katungkap,
tuara ada manawengin,
bedile masih ngaropod,
prajurit Banjare nguni,
baninnyane manimpugin,
selat tembok baan elu,
kabales baan sinapang,
mariem kanggen ngencurin,
pakabusut,
malaib pati tarumbag.
Desa Banjar Munduk dituju,
tidak ada menghalangi,
bedil tetap berdentuman,
tentara Banjar dahulu,
beraninya melempar,
dari balik tembok dengan alu,
dibalas dengan bedil,
meriam dipakai menyerang,
tergesa-gesa,
larinya tidak menentu.
90. Wenten malih gala-gala,
mula kasub prajurit,
pangenter Banjare reko,
maka kalih nandangkanin,
pada tuara mintulin,
mara naen raga lacur,
maciri bakal rusak,
panjak pada malaib,
paclubcub,
ngungsi ngalih kurenannya.
Ada lagi rakyat,
memang terkenal menjadi tentara,
pengatur desa Banjar dahulu,
keduanya menderita,
sama-sama tidak menjadikan,
barulah merasa diri menderita,
menandakan akan hancur,
rakyat semua berlari,
41