tetapi Sang Dyah menolak serta menunduk sambil air matanya berlinang.
13. Janganlah Adikku kangen dengan kematian si raksasa, kakandamu akan mengantikan ia di sini menjadi hambamu di sini, tetapi berbicaralah sedikit saja sekedar untuk obat hatiku yang terluka, lalu sang Dyah baru mau untuk berbicara dengan segala belas kasih.
14. Lalu berbicaralah sang Dyah Ratna Praba, dengan diseling selingi oleh tangisnya, aduh kakanda Surya Kencana, benar seperti mimpi kakanda, nama hamba kakanda, janganlah itu dikatakan, raden Surya Kencana kemudian membenarkannya.
15. Entah berapa bulan sudah Raden Surya Kencana ada di Negeri Maya Siluman, ternyata mereka keduanya sudah saling mencinta dan telah tidur bersama, pada suatu ketika raden Surya Kencana keluar dari Purian (Istana) lalu duduk berteduh di bawah pohon kemuning lalu didekati oleh para pengiringnya dan mereka berkata;
16. Hamba baru datang dari pesraman, hamba mendapat berita dari beliau yang menjadi raja di Tanah Selaka, bahwa anak beliau (putrinya) yang bernama Dyah Ratna Kombala segera akan dikawinkan.
17. Dengan putra beliau sang ratu dari Wadu Negara, yang bernama Raden Surya Praba, dialah yang ingin untuk mengawini sang dewi Ratna Kombala, sementara itu Raden Surya Kencana mendengarkan dengan sungguh-sungguh.
18. Menjadi kangenlah raden Surya Kencana mendengarkan cerita tentang Sri Baginda di Tanah Selaka, inginlah ia mendatanginya serta memerangi Sri Baginda tidak menepati janji, berani menantang maut.
19. Tak terceritakan pembicaraan beliau, lalu masuklah beliau ke Istana dengan wajah yang muram, kemudian Dyah Ratna Praba menyapa dengan manis, apa sebabnya kakanda bermuram durja.
20. Raden Surya Kencana lalu menyahut, karenanya kakan
85