Cebur nuju daging

Kaca:Geguritan Gajah Mada.pdf/65

Saking Wikisource
Kaca puniki kavalidasi

12. Tidak diceritakan dalam perjalanan, setelah sampai di kota Raja langsung masuk ke puri, berjumpalah beliau dengan Dyah Candra Wati yang sedang duduk berdua dengan Raden Surya Kencana sambil bercerita, tiba-tiba datanglah Sri Baginda dan mendekatinya, Sang Dyah turun dari tempatnya duduk sambil menyembah.

13. Setelah dilihat putranya lalu beliau merangkulnya, aduh anakku maafkanlah ayahandamu ini, lama tidak pernah ayah lihat engkau sampai engkau sudah dewasa dan cakap, Raden Surya Kencana lalu berkata dengan menyembah, Sangat berbahagia rasanya hamba pada saat ini ayahnda, sekarang kita berjumpa, semoga kita bersama panjang umur, hamba akan selalu berbakti.

14. Tidak terceritakan Sri Baginda, bertemu dengan permaisuri beliau, lalu setiap hari bergembira ria, sementara itu negara makin makmur, rakyat makin banyak, Sri Baginda lalu berbicara dengan Sang Permaisuri, Surya Kencana anak kita, sudah dewasa, di mana kita mencarikan putri yang cantik, beliau berkata dengan ibundanya sambil melirik Raden Surya Kencana.

15. Raden Surya Kencana merasa sangat malu, dengan pembicaraan Sri Baginda, seperti menusuk hati pembicaraan itu, Sri Baginda lalu masuk ke puri bersama Sri Permaisuri langsung menuju Puri Kilian, tak terceritakan malamnya, Raden Surya Kencana sudah tidur dengan dijaga oleh para panakawannya.

16. Di tengah malam, ketika Raden Surya Kencana tidur dengan nyenyak lalu ia mimpi, dan mungkin ini sudah takdir Tuhan bahwa ia dapat mengambil bulan yang baru berumur 9 hari, tetapi ketika diperhatikan tiba-tiba bulan itu menjadi gadis cantik.

17. Setelah Raden Surya Kencana bangun dari tidurnya, termenunglah ia ketika mengingat kembali impiannya, sehingga hilanglah ingatannya, yang terbayang adalah Dyah Ratna Praba, sementara itu beliau Sri Baginda, sudah me-


                                                           67