Cebur nuju daging

Kaca:Geguritan Gajah Mada.pdf/38

Saking Wikisource
Kaca puniki kavalidasi

dangan dengan para mantri, hulubalang, dan tiba-tiba datanglah patih Surya Wangsa yang lalu mendekati Sri Baginda dan menyerahkan surat.

6. Sri Baginda segera mengambil surat tersebut, lalu dibaca dalam hati, yang menyatakan dengan sangat hormat, yang isinya adalah sebagai berikut, adiku prabu Malaya Wati, tolonglah iklaskan hati dinda dan tolonglah anaknda Raden Ajeng agar segera upacara pernikahannya dapat kakanda buatkan yang sedianya pada bulan empat, yakni pada bulan purnama ketika dunia menuju kebahagiaan.

7. Tidak dapat lagi Sri Baginda Malaya Wati untuk menghindari, pesan Sri Baginda Surya Wangsa, karena sang dewi sudah tidak mau dengan Raden Ajeng, tetapi apabila beliau menolak, tentu besar akibatnya akhirnya beliau bersabda, hai rakryan patih, katakanlah kepada kakanda perabu bahwa aku bersedia sekali.

8. Rakryan patih lalu menyembah dan kemudian mohon diri, pulang kembali dari Malaya Wati, setelah lama berjalan, sudah sampai di kota kerajaan, lalu menghadap Sri Baginda, menyampaikan kata-kata Sri Baginda di Malaya Wati, sangat suka citalah Sri Baginda Surya Wangsa dan kemudian Baginda memerintahkan untuk menghias keraton.

9. Lalu diperintahkannya untuk membuatkan puri khusus untuk Raden Ajeng yang dikelilingi telaga yang diisi tunjung-tunjung yang sedang berbunga, selain itu puri tersebut diukir halus kemudian dihias dengan Ratna mutu manikam.

10. Semua gamelan yang disuguhkan di luar puri sangat merdu suaranya demikian juga tarian-tarian sudah siap sedia untuk menari, sementara itu ketika Raden Ajeng keluar, dipayungi dengan payung putih mulus, pakaiannya sangat indah-indah, menunggangi kuda, diikuti oleh para punggawa,para mantri, satrya, rakryan patih yang memakai pakaian serba mewah.

11. Tak diceritakan Raden Manteri dalam perjalanan, seka-


40