namamu, katakanlah dengan sebenarnya, Raden Gajah Kumuda menyahut, kami ini adalah orang hina.
13. Karenanya kami datang ke mari, datang di hadapan paduka, ada satu janji paduka, kepada ibu hamba, dulu ketika paduka mengawini ibu hamba, yang antara lain paduka berkata: "Apabila ibu hamba mempunyai anak.
14. Akan menggantikan paduka, menjadi raja serta memegang kerajaan. Para pendeta berkata perlahan-lahan, ini adalah putra paduka, yang bernama Raden Gajah Kumuda, ibunya adalah Dyah Ratna Giri, dan saat ini datang menghadap paduka.
15. Raja berkata dengan marah, apa yang engkau katakan para pendeta, mana mungkin raja berbuat begitu, kembalilah engkau cepat-cepat, bukan aku yang mempunyai anak ini, raden Gajah Kumuda tidak bisa berkata apa-apa, dan terus pulang tanpa pamit.
16. Tidak terceritakan di dalam perjalanan, air matanya berlinang-linang, menyesal pada dirinya, setelah sampai di pesraman, didekati ibunya, dan semua diceritakan kepadanya.
17. Ibunya menangis sedih, dipeluknya raden Gajah Kumuda, aduhai anaku seorang, apa sebabnya ayahmu, tidak mengakuimu sebagai anaknya, membohongi Tuhan Yang Maha Esa, sebab itu sekarang sudahlah jangan lagi mengenang ayah.
18. Tidak terceritakan Raden Gajah Kumuda, yang sedang bercakap-cakap dengan ibunya, demikianlah keadaannya Rahaden Gajah Kumuda, Syahdan Raja Surya Wangsa, setelah pulang dari persidangan, Sri permaisuri dilihat dan dicari, dijumpainya sedang tidur.
19. Sang Raja kemudian duduk di sampingnya, dan berkata dengan mesra aduh adiku kita akan berbahagia, engkau sekarang sudah hamil, semoga kita mendapatkan seorang putra, yang akan menggantikanku.
20. Syahdan setelah lama, lahirlah seorang putra, lalu diupaca
28