memang pangeran saya, tetapi agaknya sang dyah tetap ragu-ragu dalam hatinya, tiba-tiba ada suara (sabda) dari langit, aduh anakku Dyah Ratna Giri.
18. Janganlah engkau ragu-ragu anaku, mengakui, anakmu itu, raden mantri sebenarnyalah itu, ingatkah engkau anakku, ketika engkau habis mandi di pemandian, lahirlah anakmu, yang kemudian naik ke atas bunga teratai, sekarang barulah cukup umurnya untuk lahir, karena itu berilah ia nama Gajah Kumuda, Dyah Ratna Giri baru menerimanya karena sabda itu datang dari langit.
19. Di sana barulah Dyah Ratna Giri berfikir sambil mengamong putranya, maafkanlah ibumu anakku, karena ibu terlalu bodoh sehingga ragu-ragu menerimamu, lalu anaknya itu ditungguinya sambil ditimang-timang, tercerita anak tersebut lekas besar, rupanya makin lama makin cakap.
Pupuh Semarandana
1. Syahdan Raden Gajah Kumuda, sangat senang tinggal di tengah hutan, umurnya baru meningkat dewasa, ia dikasihi oleh bermacam-macam binatang seperti harimau, singa, ular, celeng, kijang dan kancil.
2. Setiap hari raden Gajah Kumuda pergi ke tengah hutan, diikuti oleh semua binatang-binatang itu. Ia menaiki gajah, sore hari barulah Raden Gajah Kumuda pulang dan tetap diikuti oleh para binatang-binatang itu.
3. Tidak terceritakan, telah lama Raden Gajah Kumuda bersenang-senang dengan binatang-binatang itu, tidak ada saat perpisahan walaupun hanya untuk sekejap saja, Ken Darwa sangat senang hatinya, demikian juga ibunya.
4. Di Pesraman, Raden Gajah Kumuda dengan rajin belajar, kepada para pendeta, sehingga dengan cepat ia dapat menguasai pelajarannya, seperti ilmu sastra, ilmu bahasa, serta cerita-cerita dan filsafat hidup.
25