tidak membedakan manusia, lalu beliau berjalan, dengan membawa senjata, dan setelah tiba di asrama, lalu dia berteriak dengan keras sehingga seolah-olah menggetarkan hati.
8. Tercerita pada saat itu raja Jambi Negara, sedang mengkonsentrasikan fikirannya, menghadap serta memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa, dengan seluruh perhatiannya, lalu tiba-tiba mendengar teriakan raksasa, di luar pesraman.
9. Lalu beliau bangun serta mengambil senjata, serta dengan hati-hati beliau keluar, setelah dilihat raja raksasa Andaru, segera menyerang dengan disertai teriakan yang keras, tetapi beliau terhindar disertai menangkis serangan tersebut.
10. Lama keduanya bertempur saling kejar-mengejar, sama-sama sakti, Raksasa Andaru Raja, akhirnya kalah, dipanah oleh baginda raja Jambi Negara, lehernya putus, serta menggelinding di tanah.
11. Dengan disertai oleh tanah yang goncang, sebagai ciri matinya seorang raksasa, yang dibunuh oleh baginda raja, karena dosanya yang terlalu besar, di sana ia dibunuh di tengah hutan.
12. Dahulu ketika Raja Raksasa Andaru masih hidup, hidupnya di gua-gua, sekarang sudah mati, rohnya mengusak-asik orang bertapa menjadi harimau serta mengusak-asik ketenangan binatang-binatang lainnya seperti manjangan.
13. Semua binatang-binatang pergi bersenang-senang, di seluruh hutan belantara tersebut, sementara itu Sang Perabu (baginda), beliau mengangkat seorang murid, yang datang dengan menyerahkan jiwa raganya, bernama Ken Darwa, dan ia sangat berbakti kepada baginda.
14. Sekarang khabarnya Baginda raja sedang memperbaiki pesraman dibantu oleh Ken Darwa yang tidak pernah berpisah dari sisi baginda, dan selalu bekerja memperbaiki di
13