86
Kutipan di atas menggambarkan I Puput selaku abdi Resi Tambra Petra yang berada di Desa Prangalas bersedia menolong sang Sudhamala menghadap Resi Tambra Petra.
3.4.5 Musyawarah
Yang dimaksud musyawarah dalam kaitan ini adalah pembahasan bersama dengan maksud mencapai keputusan atau penyelesaian masalah bersama. Dalam hal ini, para dewa yang ada di sorga menemukan kesulitan untuk menyelamatkan sang Sahadewa, salah seorang Panca Pandawa yang akan dibunuh oleh Dewi Durga (istri Siwa), sebagaimana yang dilaporkan oleh Pendeta Narada.
Pendeta Narada ketika sedang berekreasi mengelilingi bumi, tiba-tiba beliau dikagetkan oleh sinar yang cukup terang yang datang dari Kuburan Gandamayu. Pendeta Narada, setelah memperhatikan dengan seksama, mengetahui bahwa Dewi Durga sangat marah kepada sang Sahadewa karena tidak bersedia ngeruat 'melebur dosa' Dewi Durga.
Melihat keadaan itu, Pendeta Narada merasa bingung karena sang Sahadewa merupakan salah seorang Panca Pandawa yang patut diselamatkan. Panca Pandawa adalah penegak kebenaran yang ada di bumi. Jika dia mati, Panca Pandawa selaku penegak keadilan akan lenyap.
Pendeta Narada memutuskan untuk menghadap para dewa yang ada di sorga. Para Dewa yang ada di sorga juga merasa kebingungan mengingat Dewi Durga adalah istri Siwa. Menurut pertimbangan para dewa satu-satunya yang bisa menyelamatkan sang Sahadewa adalah Dewa Siwa. Maka dari itu, para dewa yang ada di sorga mengadakan musyawarah untuk memutuskan menghadap kepada Dewa Siwa demi keselamatan sang Sahadewa. Hal itu dapat dilihat pada kutipan di bawah ini.
Kutipan:
"Tan ucapan maring jalan,
ring Siwa Loka rauh mangkin,
kanjěk paruman para Dewa,
watek Dewa kagiat ngrungu,
pangrauh Hyang sareng tiga,