Cebur nuju daging

Kaca:GEGURITAN SUDHAMALA.pdf/93

Saking Wikisource
Kaca puniki sampun kauji-wacén

84


di Kuburan Gandamayu,
jika tidak segera ditolong,
sudah pasti,
tidak dimaafkan akan segera dibunuh." (GS, hlm. 15a--15b)

Kutipan tersebut menggambarkan keinginan Pendeta Narada untuk
menolong sang Sahadewa yang sedang diancam akan dibunuh oleh Dewi
Durga, istri Siwa.

Selanjutnya, nilai budaya penolong terlukis juga pada abdi Resi Tambra Petra yang bernama I Puput. Pada saat melakukan kebersihan di sekitar tempat tinggal Resi Tambra Petra di Desa Prangalas, tiba-tiba I Puput di-datangi oleh seorang tamu yang menyebut nama sang Sudhamala (sang Sahadewa). Tamu itu bertanya dan minta tolong supaya disampaikan kepada Resi Tambara Petra bahwa dia akan menghadap.

I Puput selaku abdi Resi Tambra Petra bersedia menolong dan menyampaikan apa yang diharapkan oleh sang Sudhamala, yaitu memberitahukan kehadirannya. Hal itu dapat dilihat pada kutipan di bawah ini.

Kutipan:

"Sang Sudhamala atanya,
jero lanang ndaweg titiang nunas pawungu,
jagat napike wastanya,
sueca jerone nuduhin,
I Puput raris nimbal,
niki mawasta,
Prangalas negari,
muah pondoke puniku,
linggih Rěsi Tamra Petra,
inggih jero,
mangkin titiang nunas tulung,
ledang mangokasang titiang,
sadian titiang pedek tangkil.