67
nya dimaksudkan sebagai suatu saran yang berhubungan dengan ajaran moral tertentu yang bersifat praktis, yang dapat diambil dan ditafsirkan lewat cerita yang bersangkutan oleh pembaca.
Karya sastra senantiasa menawarkan pesan moral yang berhubungan dengan sifat-sifat luhur kemanusiaan, memperjuangkan hak dan martabat manusia. Sifat-sifat luhur kemanusiaan itu biasanya bersifat universal, artinya sifat-sifat itu dimiliki dan diyakini kebenarannya oleh semua orang.
Moral dalam karya sastra atau hikmah yang diperoleh pembaca lewat sastra selalu dalam pengertian yang baik. Jika dalam sebuah karya sastra ditampilkan sikap dan tingkah laku tokoh-tokoh kurang terpuji, baik mereka berlaku sebagai tokoh antagonis maupun tokoh protagonis, tidaklah berarti bahwa pengarang menyarankan kepada pembaca untuk bersikap dan bertindak seperti itu. Sikap dan tingkah laku tokoh tersebut hanyalah sebagai model-model, model-model yang kurang baik, yang sengaja disampaikan justru agar tidak diikuti oleh pembaca. Pembaca diharapkan dapat mengambil hikmah sendiri dari cerita tentang tokoh-tokoh yang kurang terpuji itu.
Selain pesan-pesan yang bersifat moralitas, dalam Geguritan Sudhamala dijumpai pula satu pesan yang lebih tinggi dari moralitas, yaitu bahwa pembaca diyakini akan adanya suatu "kekuatan" atau "zat" yang dapat mengendalikan tentang hidup dan kehidupan di alam ini. Kekuatan itu berasal dari Tuhan, yang dalam geguritan ini berwujud sebagai Hyang Siwa (Hyang Guru). Atas kehendak Durga dan Citrasena serta Citranggada yang semula berwujud widyadara (makhluk sorgawi), mereka berubah menjadi raksasa yang bengis. Peristiwa itu terjadi karena dikutuk oleh Hyang Siwa. Setelah dalam jangka waktu yang ditentukan, Dewi Durga dan kedua raksasa itu dapat berubah kembali ke wujud semula. Semuanya itu terjadi berkat adanya "kekuatan" dari Hyang Siwa lewat tokoh utama Sudhamala. Demikian pula halnya dengan Bagawan Tambapetra, kedua matanya bisa melihat kembali karena telah diruat oleh Sudhamala dengan "kekuatan" Hyang Siwa.
Pesan moral yang disampaikan pengarang dalam Geguritan Sudhamala berupa sikap dan tingkah laku. Sikap dan tingkah laku itu bisa berdampak baik dan buruk, bergantung pada baik buruk perbuatan. Konsep