Cebur nuju daging

Kaca:GEGURITAN SUDHAMALA.pdf/57

Saking Wikisource
Kaca puniki sampun kauji-wacén

48


ratu Bhatara puniki,
pianak titiang,
pacang aturang mangkin (GS, hlm. 11b).

Terjemahan:

Tidak lama kemudian sampailah di tempat Hyang Durga,
segera menghaturkan putranya,
sang Sahadewa tidak menolak,
atas kehendak ibunya,
inilah ratu Bhatara,
anakku,
akan kupersembahkan sekarang (GS, hlm. 11b).

Selanjutnya, diceritakan sang Sahadewa ditempatkan di kuburan, di bawah pohon kepuh yang rindang. Pada malam harinya keadaan sangat gelap Sahadewa terus diganggu oleh Ni Kalika dan anak buahnya makhluk-makhluk jahat penghuni kuburan. Tidak lama kemudian, tampak terang di ufuk timur karena sang surya segera akan terbit. Tiba-tiba muncul angin ribut, gempa bumi yang menggoyangkan dunia ini dan suara yang menggerincing jatuh di tempat itu. Semua itu sebagai tanda bahwa Dewi Durga akan muncul. Kemudian, Dewi Durga muncul seraya mohon agar Sahadewa berkenan meruat segala dosanya. Akan tetapi, Sahadewa menolaknya karena merasa masih muda dan tidak tahu tentang ngeruat itu, apalagi ngeruat Hyang Durga. Ia mohon dimaafkan. Hal itu terlihat dalam kutipan berikut ini.

Tan ucapan sira solahnya,
sakancan i bhuta bhuti,
mangoda sang Sahadewa,
pada parokosa ngulgul,
saget mangkin sampun galang,
sang Hyang Rawi,
stimpun manyundarin jagat (GS, hlm. 14a)