Cebur nuju daging

Kaca:GEGURITAN SUDHAMALA.pdf/38

Saking Wikisource
Kaca puniki sampun kauji-wacén

29

Teks GS Fak. Sastra dan Teks GS Gedong Kirtya
(t.n* pupuh, bait; 42--44),
Teks GS Dokumentasi Budaya Bali
(Puh Ginada, bait: 2--4)
tĕnggĕk sawane kapilus,
ngigĕl nangkleng matenggengan,
layah lambih,
maledled gigine rangap
(bait: 44, hlm. 14a).
bhuta bhutine lumaku,
pagĕlur ia mangakak,
kagambĕlin,
antuk gambĕlan bragenjang
(bait: 4, hlm. 13b).

Memperhatikan perbandingan pada bagian tengah cerita, seperti terdapat dalam kutipan tersebut, tampak adanya perbedaan bacaan, baik dalam kata maupun dalam baris. Namun, pada prinsipnya informasi yang disampaikan tidaklah berbeda. Adapun hal yang diungkapkan dalam bait itu adalah upaya para abdi Dewi Durga yang berusaha menakut-nakuti Sang Sahadewa ketika ia baru diserahkan oleh Dewi Kunti dalam keadaan terikat pada pohon Kepuh di Setra Gandamayu. Para abdi Dewi Durga itu terdiri atas makhluk-makhluk halus (para buta, para kala, tangan-tangan, kumangmang, dan lain-lain). Mereka menakut-nakuti dengan berbagai tingkah: ada yang menari berjingkrak-jingkrak, ada yang tertawa terbahak-bahak berjalan mengelilingi pohon Kepuh; ada juga yang asik menarik-narik perut mayat, mengupas kepala mayat, dan sebagainya.

Demikianlah perbandingan bait-bait pada bagian tengah cerita. Selanjutnya, akan dilakukan perbandingan bagian akhir cerita sebagai berikut.

Teks GS Fak. Sastra dan Teks GS Gedong Kirtya
(t.n* pupuh, bait; 154--156),
Teks GS Dokumentasi Budaya Bali
(Puh Durma, bait: 20--22)
Sang bhagawān mangandika,
suksma pĕsan bapa cening,
nah pacanangane to,
Adan Bapa Citranggada Citrasena,
kabatĕk ampahe nguni,
majĕng ring Hyang Guru Siwa,