24
Adanya perbedaan kata dalam baris dari setiap bait tidak berpengaruh terhadap isi ketiga teks GS itu. Maksudnya adalah isi atau masalah yang diungkapkan oleh ketiga teks GS itu sesungguhnya sama, yaitu sama-sama mengungkapkan hakikat pengruwatan (tatwa sudhamala). Akan tetapi, dengan adanya perbedaan jumlah bait dari ketiga teks itu, teks GS Pustaka Lontar Fakultas Sastra dan Gedong Kirtya terdiri atas 156 bait , sedangkan teks GS Kantor Dokumentasi Budaya Bali terdiri atas 183 bait itu, berpengaruh kepada ceritanya. Artinya, perbedaan jumlah bait dari ketiga teks GS tersebut menunjukkan adanya perbedaan dari segi ceritanya.
Cerita teks GS Pustaka Lontar Fakultas Sastra dan cerita teks GS Gedong Kirtya lebih pendek atau lebih singkat dibandingkan dengan cerita teks GS Kantor Dokumentasi Budaya Bali. Dengan dernikian, cerita dalam teks GS Kantor Dokumentasi Budaya Bali lebih unggul dibandingkan dengan kedua cerita teks GS yang lainnya itu. Teks GS Kantor Dokumentasi Budaya Bali yang ceritanya lebih panjang mempunyai struktur lebih homogen dan kelengkapan/kebulatan makna yang dengan jelas menampilkan pokok pikiran pada cerita itu.
Lebih lanjut perlu diungkapkan di sini bahwa kedua cerita dalam teks GS Pustaka Lontar Fakultas Sastra dan Gedong Kirtya dijelaskan lebih pendek atau lebih singkat dan bahkan keadaan itu juga menyebabkan struktur kedua cerita itu tidak utuh atau kurang menunjukkan kebulatan makna. Hal itu tampak dari peristiwa yang mengakhiri setiap cerita itu.
Teks GS Pustaka Lontar Fakultas Sastra dan Gedong Kirtya ceritanya berakhir dengan peristiwa pengruwatan Dewi Durga dan para raksasa (detya) karena kutukan Sanghyang Siwa. Atas titah Sanghyang Siwa, yang berhak meruwat Dewi Durga dan para raksasa (detya) agar kembali ke wujudnya semula adalah sang Sahadewa. Setelah sang Sahadewa meruwat Dewi Durga, ia kembali kepada wujudnya semula, yaitu sebagai Dewi Uma, sedangkan para raksasa (detya) kembali menjadi widyadara (detya Kalantaka menjadi Citranggana, Kalanjaya menjadi Citrasena). Peristiwa itu terjadi di Setra Gandamayu, dan saat itu sebagai anugerah Dewi Uma, nama sang Sahadewa diganti menjadi sang Sudhamala. Kemudian, ia disuruh ke Prangalas menemui Bagawan Tambapreta supaya