Cebur nuju daging

Kaca:GEGURITAN SUDHAMALA.pdf/21

Saking Wikisource
Kaca puniki sampun kauji-wacén

12


luarga) atau silsilah;

4) Kakawin, puisi Jawa Kuna yang menggunakan guru-laghu;

5) Geguritan, untuk jenis ini termasuk kidung dan geguritan;

6) Wariga, berisikan cara-cara tentang mencari hari yang baik (padewasan) dan juga untuk mencari hari tertentu yang sifatnya kurang baik (buruk); dan

7) Pujamantra, yang meliputi mantra-mantra dan weda-weda (Jendra dan Nuarca, 1982: 18--20).

Berdasarkan klasifikasi naskah lontar tersebut, teks GS itu termasuk pada bagian kelima, yaitu kelompok geguritan. Tersimpan dalam Kropak Nomor 6, naskah Nomor 115, ditulis dengan huruf Bali, di atas daun lontar, menggunakan bahasa Bali.

Ukuran naskah:

panjang: 40 cm

lebar: 3,4 cm

jumlah lembar: 23 lembar.

Setiap lembar ditulisi bolak-balik dan diisi nomor halaman dengan angka Bali, mulai dari 1b sampai dengan 23a. Nomor halaman hanya ditulis dalam satu muka. Muka lembaran yang tidak memakai angka adalah halaman bagian a, sedangkan muka lembaran yang memakai angka adalah halaman bagian b. Tiap-tiap lembar ditulisi empat baris dari kiri ke kanan terus bersambung, tulisannya cukup baik dan jelas dibaca. Keadaan naskah baik; artinya tiap-tiap lembar masih baik dan tidak ada yang rusak.

Berdasarkan kolofon (lembar terakhir), pada halaman 23a terdapat nama penulis, tempat, dan tahun penulisan. Secara lengkap hal-hal yang termuat di dalam kolofon dapat diketahui dengan memperhatikan kutipan berikut.

"Sinurat muah de I Gusti Gde Bilih,
ring trena Pakenca, Amlapura,
ri kala, Sa, Ka, wara Wayang,
titi, tang, ping, 2, sasih Kapitu,