Cebur nuju daging

Kaca:GEGURITAN SUDHAMALA.pdf/15

Saking Wikisource
Kaca puniki sampun kauji-wacén

6


bandingan naskah, digunakan teori filologi. Kritik teks mempunyai tujuan untuk mencapai teks yang sedekat mungkin dengan aslinya, paling sedikit mengandung kesalahan, dan paling lengkap isi ceritanya jika dibandingkan dengan naskah yang lainnya. Tujuan itu dapat dicapai melalui penelitian naskah yang memuat teks dan dengan perhatian besar yang dicurahkan pada kekhususan naskah dari berbagai segi, seperti kodikologi, paleografi, sistem ejaan, tempat penulisan, waktu penulisan, dan seterusnya (Wiryamartana, 1990: 11). Menurut Djamaris (1977:23), cara kerja filologi meliputi inventarisasi naskah, perbandingan naskah, dasar penentuan naskah, deskripsi naskah, singkatan naskah , dan transliterasi naskah. Dalam penelitian ini, pandangan itu diperhatikan, tetapi belum sepenuhnya dilaksanakan dengan keketatan yang diharapakan. Demi keutuhan teks dan kejelasan pemahaman, dibuat kompromi yang berupa pelengkapan teks dan perbaikan bacaan.

Menurut Sudjiman (1985:51), tema adalah gagasan yang mendasari karya sastra. Tema itu kadang-kadang didukung oleh pelukisan latar, dalam karya yang lain tersirat dalam lakuan tokoh atau dalam penokohan. Tema bahkan dapat menjadi faktor yang mengikat peristiwa-peristiwa dalam satu alur. Ada kalanya gagasan itu begitu dominan sehingga menjadi kekuatan yang mempersatukan pelbagai unsur yang bersama-sama membangun karya sastra dan menjadi motif tindakan tokoh.

Menurut Sudjiman (1988:57), amanat adalah pesan yang ingin disampaikan oleh pengarang. Amanat terdapat pada sebuah karya sastra secara implisit atau eksplisit. Implisit jika jalan keluar atau ajaran moral itu disiratkan dalam tingkah laku tokoh menjelang cerita berakhir. Eksplisit jika pengarang pada tengah atau akhir cerita menyampaikan seruan, saran, peringatan, nasihat, anjuran, larangan, dan sebagainya berkenaan dengan gagasan yang mendasari cerita itu.

Pengarang tradisional dalam mengangkat pokok permasalahan cipta sastranya umumnya mengacu pada kebaikan yang senantiasa mengalahkan kejahatan; saat kesusahan seseorang baru teringat kepada Tuhan; dan orang yang sabar pasti akan selamat (Tarigan, 1985: 125). Bertolak dari pendapat tersebut di atas, akan diungkapkan tema dan amanat Geguritan Sudhamala yang menjadi objek kajian ini.

Nilai-nilai budaya banyak tercermin dalam karya sastra. Pemahaman