Cebur nuju daging

Kaca:GEGURITAN SUDHAMALA.pdf/13

Saking Wikisource
Kaca puniki sampun kauji-wacén

4

Gunung Lawu, Jawa Tengah, abad ke-15. Tak dapat disangkal bahwa cerita itu asli Jawa walaupun dewa-dewa dari mitologi India dan tokoh-tokoh Mahabharata muncul juga. Hal-hal yang dikatakan dalam kisah tersebut, seperti pengusiran setan-setan, upacara pensucian, serta pendeskripsian yang terjadi sesudah kematian, menjadikannya sumber yang kaya untuk mempelajari alam pikiran dan praktek keagamaan di Jawa dan Bali (Zoetmulder, 1983:540). Oleh karena itu, penelitian terhadap Geguritan Sudhamala perlu dilakukan karena kehadiran mutiara bangsa yang dituangkan dalam bentuk karya sastra akan banyak membantu kita dalam memasyarakatkan pemahaman dan penghayatan nilai-nilai luhur karya sastra tradisional sehingga sangat berguna dan berfungsi strategis dalam rangka menangkal pengaruh budaya luar yang kurang menguntungkan.

Penelitian terhadap Geguritan Sudhamala belum banyak dilakukan, baik oleh peneliti sastra, pakar sastra maupun pengamat sastra tradisional. Pembicaraan tentang Geguritan Sudhamala pernah dilakukan oleh I Gusti Nyoman Oka dkk. (1990), tetapi hasil yang dicapai penelitian itu masih berupa penelitian teks yang terdiri atas deskripsi naskah yang dihimpun dalam "Katalogus dan Sumarry Lontar Dokbud ". Suarjana (1992) melakukan transliterasi Geguritan Sudhahamala dengan judul penelitian "Alih Aksara geguritan Sudhamala". Kedua pembicaraan itu belum dilakukan secara mendalam, hanya berupa pengenalan dan deskripsi geguritan. Oleh karena itu, peneliti melakukan penelitian lebih lanjut terhadap Geguritan Sudhamala. Penelitian ini dapat memberikan sumbangan kepada pemerintah dalam menyukseskan program pelestarian kebudayaan daerah sebagai bagian dari kebudayaan nasional, sekaligus memberikan masukan bagi program pengajaran bahasa dan sastra daerah Bali yang menjadi bagian kurikulum muatan lokal.

1.2 Masalah

Melestarikan Geguritan Sudhamala tidak cukup hanya menyimpan naskahnya di berbagai perpustakaan agar naskah itu tetap baik, awet, dan utuh, tetapi yang lebih penting lagi adalah meneliti dari berbagai aspek, misalnya aspek kebahasaan dan kesastraannya. Sehubungan dengan hal tersebut, Geguritan Sudhamala diteliti dengan pokok masalah yang dirumuskan dalam bentuk pertanyaan sebagai berikut.