Cebur nuju daging

Kaca:GEGURITAN SUDHAMALA.pdf/121

Saking Wikisource
Kaca puniki sampun kauji-wacén

112

akhir yang disebut swara.

4. Ejaan bahasa Bali yang dipakai dalam transliterasi adalah Ejaan Bahasa Bali yang Disempurnakan (1975) yang pernah dipakai dalam terbitan Kamus Bali-Indonesia (Warna, dkk. 1991). Dalam hal tertentu masih dipertahankan tradisi teks, misalnya penulisan unsur serapan dari bahasa Jawa Kuna (Kawi) dan bahasa Sanskerta.

5. Penerapan Ejaan Bahasa Bali yang Disempurnakan yang berkaitan dengan penulisan suku kata dan hubungannya dengan perhitungan jumlah guru wilang, adalah sebagai berikut.
a) Bentukan yang dianggap satu suku kata adalah dengan konstruksi kvv (konsonan-vokal-vokal). Contoh: punia, rakua, dan sisia. Bentukan ini berasal dari ardasuara 'semi vokal', nania dinyatakan dengan ia, dan ardasuara suku kembung dinyatakan dengan ua (Hasil Lokakarya Penyesuaian Ejaan Bahasa Bali yang Disempurnakan, 1973, dalam Ejaan Bahasa Bali yang Disempurnakan, 1975). Contoh kasus ini adalah sebagai berikut.
tabia, dapat ditulis tabya
biana, dapat ditulis byana
tuara, dapat ditulis twara
Peneliti menetapkan bentuk kedua tabya, byana, dan twara dalam transliterasi karena sesuai dengan penulisan dalam teks yang berhuruf Bali.

b) Apabila penyair menginginkan agar dua vokal itu dapat menjadi dua suku kata, biasanya dipakai huruf y atau w di antara dua vokal itu.
Contoh:
titiang (3 suku kata)
tityang (2 suku kata)
rakuwa (3 suku kata)
rakwa (2 suku kata)

6. Dalam transliterasi ditambahkan nomor urut pupuh sesuai dengan bait-bait dalam teks.