Cebur nuju daging

Kaca:GEGURITAN SUDHAMALA.pdf/12

Saking Wikisource
Kaca puniki kavalidasi

3

pergunakan bahasa dan aksara Bali yang bersumber dari Kidung Sudhamala. Menurut Van Stein Callenfels (Zoetmulder, 1983:57), Kidung Sudhamala merupakan sebuah karya sastra dalam metrum kidung yang berasal dari zaman sesudah Majapahit di bagian timur Pulau Jawa. Kidung itu pada salah satu tahap permulaan atau tengah diteruskan secara lisan. Kidung Sudhamala tidak tergolong karya sastra yang diperuntukkan bagi kalangan-kalangan tinggi, tetapi juga bagi masyarakat biasa. Karya-karya itu, biarpun ditembangkan secara lisan, tetap diteruskan dari satu angkatan kepada angkatan berikut dalam bentuk tertulis. Sudhamala merupakan suatu syair populer yang semula jarang dicatat secara tertulis dan diteruskan secara lisan, sekarang sudah dituliskan. Di Bali syair-syair itu masih dipergunakan dalam kehidupan sehari-hari, dalam upacara dan manifestasi keagamaan lainnya.

Geguritan Sudhamala memperlihatkan kemiripan cerita yang cukup mencolok dengan cerita wayang seperti yang dikenal sekarang. Nama tokoh dan sifat-sifat dalam geguritan sama dengan nama tokoh dan sifat-sifat dalam wayang. Geguritan Sudhamala dijadikan lakon dalam pementasan wayang. Pementasan wayang dengan lakon Sudhamala berfungsi untuk meruwat, menghapus suatu kutukan, menghalau mara bahaya yang mengancam atau mengimbangi kekuatan jahat yang muncul pada peristiwa atau situasi tertentu (Zoetmulder, 1983:541). Kisah Sudhamala dapat disebut sebuah lakon ruwat dalam bentuk geguritan. Bahwa fungsi geguritan ini sama dengan lakon ruwat, dapat diketahui dari tema dan pernyataan dalam baris-baris terakhir. Di sana pengarang mengatakan bahwa mereka yang membaca atau mendengarkan geguritan akan dibebaskan (kalukat) dari mara bahaya dan kemalangan.

Geguritan Sudhamala, sebagai khazanah sastra yang terdapat di Bali, merupakan khazanah kebudayaan bangsa yang menyimpan berbagai nilai budaya masyarakat pada masa lalu. Nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya sangat penting untuk diketahui. Dikatakan demikian tidak saja dalam rangka untuk memahami nilai-nilai budaya masyarakat lama itu sendiri, tetapi juga untuk memahami nilai-nilai budaya masyarakat Indonesia modern yang pada dasarnya berpijak pada nilai-nilai budaya masyarakat tradisional.

Isi cerita Sudhamala telah dipahatkan pada relief Candi Sukuh di