Kaca puniki sampun kauji-wacén
109
Kutipan itu menggambarkan Nakula dan Sahadewa di dalam menghadapi musuh yang sangat sakti itu selalu percaya dengan dirinya sendiri, walaupun Kalanjaya berusaha menjatuhkan mentalnya dengan mencaci maki dan menyatakan keduanya masih bocah dan tidak tahu berperang. Kalanjaya sangat kasihan membunuh anak yang masih kecil. Oleh karena itu, ia memberi kesempatan kepada mereka untuk pulang. Akan tetapi, Nakula dan Sahadewa tidak gentar mendengar perkataan raksasa itu. Mereka dengan percaya diri selalu menentang kedua raksasa itu.